Friday, December 23, 2011

Yang Muda yang Berani

















Bila ada pertanyaan kepada kita, “Apakah Anda berani melempar sepatu ke muka Obama kalau ia jadi datang ke Indonesia?” Nampaknya masih banyak yang sedikit mengerenyitkan dahi tanda ragu. Karena jangankan melempar sepatu ke (atau bahkan membunuh) Obama, sang pembantai saudara-saudara muslim kita di belahan timur dunia, mengingatkan teman sendiri yang sedang pacaran di pojok kampus saja masih enggan. Entah karena takut (dikatakan sok alim?) atau memang tidak sadar bahwa itu bagian dari ‘amar ma’ruf nahyi munkar.
Sepatutnyalah kita bercermin pada seorang Ali bin Abi Thalib ra. Ia adalah sahabat Rasul yang sangat takut kepada Allah dan sangat berharap memperoleh ridha-Nya. Ali, khulafaurrasyidin yang ke-empat ini memeluk Islam ketika ia berusia sepuluh tahun, seorang pemuda yang pertama kali masuk Islam.
Rasulullah memberinya gelar Harimau Padang Pasir karena keberaniannya yang luar biasa dan ketabahannya. Ini terbukti saat perjalanan Rasulullah hijrah. Ali bersedia menggantikan Rasulullah dengan mengelabui kaum kafir quraisy, terlentang di tempat tidur Rasulullah dengan diselimuti badannya. Padahal jelas resikonya adalah nyawanya sendiri, karena kaum kafir quraisy berniat membunuh Nabi Muhammad SAW.
Ali juga dikenal sebagai prajurit berkuda yang tidak ada tandingannya, seorang pemuda yang gagah dan ditakuti oleh prajurit-prajurit berkuda lainnya (dari kalangan musuh). Di antara kisah keberaniannya adalah diriwayatkan oleh Muhammad bin Ishaq dari Abdullah bin Al-hasan, dari beberapa keluarganya, dari Abu Rafi’ maula Rasulullah berkata, “kami keluar untuk berperang bersama Ali bin Abi Thalib saat Rasulullah mempercayakannya untuk membawa bendera beliau pada perang Khaibar.” Rasulullah bersabda, “sungguh aku akan memberikan bendera (perang) kepada seorang yang mencintai dan dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya.”
Pada perang khandak, Ali ra. menampakkan dirinya sebagai sosok pemberani sejati. Dalam perang itu, tentara Islam membuat strategi dengan menggali parit di sekeliling kota madinah untuk menghalangi pihak musuh masuk ke dalam kota. Namun beberapa orang pahlawan musuh, yakni Amru bin Abu Walid, Ikrimah bin Abu Jahal, dan Dirar bin Khaththab berhasil menyeberangi parit dengan kuda mereka. Ketika itu juga Amru bin Abu Walid menantang tentara Islam untuk beradu kekuatan dengannya.
“Saya terima tantanganmu!” jawab Ali ra. dengan cepat. Namun Rasulullah menghalangi Ali ra. untuk melawan Amru bin Abu Walid yang sudah terkenal sebagai pahlawan musuh yang gagah berani dalam menghadapi lawannya. Bisa saja Ali yang masih kecil mati dengan sekali tebasan lelaki perkasa itu. Namun Ali tetap bersikeras.
“Wahai Rasulullah, walaupun dia adalah Amru bin Abu Walid, saya tidak akan gentar bertarung dengannya. Izinkan saya bertarung dengannya.” Ali ra. menyakinkan Rasulullah. Akhirnya Rasullah mengizinkan Ali ra. bertarung dengan Amru bin Abu Walid seraya memberikan pedangnya kepada Ali ra. dan berdo’a, “Ya Allah, lindungilah Ali bin Abi Thalib.”
Saat mulai bertarung, Amru bin Abu Walid sempat meremehkan Ali ra. karena menganggap Ali ra. bukan tandingannya. Lalu Ali ra. dengan tegas berkata, “Saya berani membunuhmu karena Allah!” Amru bin Abu Walid pun marah dan mengayunkan pedangnya ke arah Ali ra., namun hanya terkena perisainya. Lalu dengan ayunan yang sangat kuat Ali menebas bahu Amru bin Abu Walid dengan pedangnya. Amru bin Abu Walid pun tersungkur dan mati seketika itu juga.
Begitulah Ali bin abi Thalib telah membuktikan keberaniannya memenangkan pertarungan padahal usianya masih sangat muda. Bagaimana dengan kita?

Reaksi:

0 komentar:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More