Friday, December 23, 2011

Seeing Woman Differently



+++

 Apa yang ada dalam benak anda ketika mendengar kata 'Perempuan'? Satu jenis makhluk Allah yang banyak menguji iman manusia atau menjatuhkan nama orang-orang besar dunia. Namun, tak sedikit yang menjadi penentu arah hidup lahirnya seorang pejuang dari rahimnya. Dan Peringatan Hari Kartini setiap tahun selalu menjadi nafas baru bagi 'kebangkitan' ide feminis. Setiap 21 April, Anda akan banyak menemukan ulasan biografi Kartini, atau perempuan-perempuan yang dianggap 'sukses' sesuai tuntutan zaman ya hanya di tanggal ‘sakral’ ini.
Silakan pelototi televisi atau media cetak. Berbagai ide 'pembaharuan' perempuan bertabur bak jamur di musim penghujan. Kebaya saja tidak cukup sebagai simbolisasi kebangkitan perempuan modern. Berbagai gagasan pembaharuan perempuan (baca:feminisme) mereka tawarkan, kampanyekan, dan di sosialisasikan hingga ke ranah publik. Saya tidak perlu menyebutkan nama-nama feminis tersebut satu persatu. Karena banyak sekali perempuan yang dengan bangga mengatakan bahwa dirinya adalah pejuang Gender dan emansipasi.
Setidaknya, sejak cara pandang sekuler menjadi corong peradaban masa kini, banyak isme-isme yang merupakan buah dari sekulerisme, seperti demokrasi, liberalisme, pluralisme, termasuk feminisme tanpa ragu mereka ambil sebagai nyawa baru, bahkan sebagai tuhan-tuhan abad baru. Spirit baru yang kemudian diadopsi oleh para perempuan tanpa filterisasi. Alhasil, gerakan perempuan memang 'bangkit' dan mengemuka menjadi barisan atas nama emansipasi. Menggeliat. 

Namun, What Next? Gerakan perempuan genderis ini memang hadir membangunkan alam bawah sadar kita. Tapi kali ini, mereka tampil dengan format dan nafas yang baru, yakni nafas Kekufuran. Tanpa tedeng aling-aling dan rasa bersalah sedikitpun, mereka hujat agama sebagai biang ketidakadilan dan kejumudan kaum perempuan, Sehingga menurut pendapat mereka, agama sudah saatnya didaur ulang atau kalau bisa dipeti eskan saja.
Lantas, jargon 'pembebasan perempuan' pun mulai bergaung kencang, mengalahkan seruan-seruan 'inqilabiy untuk segera menetapi kembali konsep 'keseimbangan pembagian peran' yang sesungguhnya ditawarkan oleh Islam namun selama ini terabaikan( atau sengaja diabaikan). Perempuan di era sekarang memang telah larut dalam euphoria pembebasan. Ibarat kran yang lepas, perempuan saling berebut kesempatan melepas segala atribut dan pagar pembatas kebebasan yang dianggap mengkungkung perempuan dalam tembok derita.Jilbab, perwalian, pewarisan, bahkan institusi perkawinan mulai dipertanyakan. Kesetaraan tanpa bataspun menjadi sebuah impian., sementara peran yang dianggap 'tradisional' ,yaitu sebagai isteri dan ibu berubah menjadi hal yang menakutkan.

Akhirnya disinilah sekulerisme memainkan peranan strategisnya sebagai sang sutradara : Dalam urusan kehidupan, agama tak perlu diberi tempat. Karena bagi mereka, agama hanya layak menjadi sajian 'pelengkap' saat ritual perkawinan dan prosesi penguburan dilangsungkan! Itulah yang menjadi sasaran tembak mereka sedari awal. Bahagiakah mereka? bisa jadi di awal, ya. akan tetapi pada akhirnya sebagian dari mereka tersentak kaget melihat kenyataan, bahwa feminisme ternyata hanya menjanjikan kebahagiaan maya. Perempuan bukannya bertambah mulia. Manusia bukannya makin berjaya. Kaum perempuan justru kehilangan jati diri sesungguhnya sebagai seorang muslimah. Mereka, para perempuan, justru menjadi makhluk asing yang tak bisa membangun harmoni dalam habitat kemanusiannya sendiri, Sementara umat dan masyarakat nyaris ambruk karena kehilangan para pilar penyangga peradaban, setelah kaum perempuan mencampakkan tabiat fitrinya sebagai pengayom dan penjaga generasi dengan berlomba-lomba membangun karier untuk sejajar dengan laki-laki. Betapa tidak, keberhasilan meraih kesetaraan tanpa batas, ternyata harus mereka bayar mahal dengan merebaknya kasus perceraian, kesendirian di masa tua, anak-anak bermasalah, persaingan yang melelahkan, yang ujung-ujungnya adalah ketidakbahagiaan.

Sudah saatnya kita melihat perempuan dari sudut pandang berbeda. Ada sekelumit frase sejarah mengenai keberadaan perempuan yang dimuliakan oleh Islam. Sebuah gambaran nyata para perempuan di bawah Naungan Khilafah Islamiyah yang sarat dengan nilai-nilai Illahiyah. Ada nama-nama besar yang tercatat sebagai perempuan yang dimuliakan karena ketaatan mereka kepada Allah dan Rasulnya, semisal Khadijah binti Khuwalid, Fatimah Az-Zahra, Asma binti Abu Bakar, Aisyah binti Abu Bakar, Sumayyah, dan lain-lain. Yang semenjak bersentuhan dengan Islam, keseharian mereka hanya dipersembahkan demi kemuliaan Islam. Inilah pilar-pilar kebangkitan muslimah yang hakiki. Karena diatas pilar-pilar inilah, perempuan muslimah generasi sesudahnya membangun kekuatan. Dimana target perjuangan mereka tentu bukan lagi sekedar menegakkan kehidupan Islam, melainkan berupaya mempertahankan eksistensinya agar kemuliaan Islam tetap terjaga.

Dimasa Khulafaur Rasyidin, dan para khalifah sesudahnya, peran muslimah dalam kancah kehidupan demikian besar. Baik dalam aktivitas amar ma'ruf nahi munkar muhasabah lil hukam, bahkan aktifitas jihad dan futuhat. Uniknya, pada saat yang sama, merekapun bahkan berhasil mencetak generasi terbaik -generasi para mujahid dan mujtahid- yang mampu membangun peradaban Islam yang tinggi, yang mengalahkan peradaban-peradaban lainnya di dunia dalam rentang waktu yang sangat panjang. Kiprah nyata para perempuan yang dimuliakan oleh Islam, justru berhasil berada diposisi terbaik jika dibandingkan dengan perempuan-perempuan aristokrat dan modernis ala barat sepanjang sejarah. Seeing Woman Differently....

+++



Assalamualaikum ^^ syukran kerana sudi berkunjung ke blog ana.. semoga perkongsian dalam blog ini dapat memberi mamfaat kepada sahabat2 semua .. insya'ALLAH .. sama2 kita sebarkan ILMU yang bermanfaat kepada semua sahabat ^^
Dipersilahkan bagi yang ingin ShaRE is CAring ..semuanya milik bersama..

Prinsip ABC

A mbil yang baik
  B uang yang buruk
  C iptakan yang baru

Salam Da'wah  W uKHuwahFIllah abADAn abaDA .. 
 Keep Istiqomah wa HAMASAH Barakallahufiikum ..
^_senyum_^
Wassalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh

=== ====== ===

Reaksi:

0 komentar:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More