Friday, November 18, 2011

Dalam Hijab dan Jilbab, Larangan Jilbab Serta Busana Yang Tidak Mengikuti Syari’at Islamiyah Dalam Kemajuan Zaman Dan Trend Fashion Pakaian Wanita Muslimah


http://tausyah.wordpress.com/pakaian-muslimah
Pakaian Muslimah
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk syurga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan dari sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128)
Jelas sekali diterangkan rasulullah bahwa wanita yang seperti itu tidak akan masuk syurga dan mencium baunya pun tidak. Maka ini peringatan bagi kita muslimah untuk bermusahabah diri.
2. Fashion Jilbab Menyerupai Biarawati Kristian
Orang yang menyerupai suatu kaum, seolah ia bagian dari kaum tersebut” (HR. Abu Daud, 4031, di hasankan oleh Ibnu Hajar di Fathul Bari, 10/282, di shahihkan oleh Ahmad Syakir di ‘Umdatut Tafsir, 1/152)
Sangat dilarang umat islam untuk menyerupai suatu kaum. Nah disini dibahas fashion yang menyerupai biarawati kristian, yang seperti apa itu? Fashion para biarawati yaitu menggunakan penutup seperti jilbab dengan menampakkan bentuk lehernya. Mungkin masih sering kita jumpai para muslimah yang mengenakan jilbab dengan menampakkan bentuk lehernya. Itu merukan hal yang dilarang karena meyerupai kaum kristiani.
Baik telah di jelaskan diatas tentang cara berjilbab yang mungkin masih banyak atau sedang ngetren-ngetren nya di kalangan muslimah apalagi remaja, tetapi sayangnya dilarang.
Renungkanlah, masuk kategori manakah kita…?
Tetapi…
Masih ada yang masih mengikuti syar’iat cara berjilbab berbusananya.
Mari kita bahas lebih serius..
Di tengah-tengah asyiknya para wanita dengan mode busana ala barat, disaat para wanita lelap dimanjakan oleh kemajuan zaman, disana Sekelompok wanita sholihah dengan anggun dan sopan mengenakan mahkota mereka yaitu jilbab muslimah tanpa peduli cemoohan, ejekan, dan hinaan masyarakatnya, karena mereka tahu betul hadits Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam yang sangat populer dan akrab di telinga kita semua :
بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
Islam ini pada awalnya datang dalam keadaan asing dan akan kembali asing lagi. Maka sungguh berbahagia orang-orang yang asing (HR. Muslim)
Dalam satu sisi, kita patut bersyukur karena di zaman kita sekarang dan di negeri kita yang mayoritas muslim ini, kesadaran mengenakan busana muslimah cukup lumayan, bahkan kian hari bertambah meningkat. Namun di sisi lain ternyata banyak saudari kita yang salah faham dengan hakekat jilbab muslimah, mereka menyangka jilbab hanya sekedar kerudung saja. Akhirnya, seperti kita lihat sekarang ini, banyak wanita berkerudung tapi bercelana jeans, berkaos ketat, berpakaian tembus pandang, memakai pakaian diatas lutut dan lain sebagainya. Seakan-akan kerudung tak ubahnya hanya sebagai asesoris belaka seperti yang diterangkan di atas.
Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin  “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Alloh adalah Maha pengampun lagi maha penyayang.” (al Ahzab:59)

FIKRUL ISLAM [Bunga Rampai Pemikiran Islam]


FIKRUL ISLAM [Bunga Rampai Pemikiran Islam]

Penulis: Muhammad Ismail
Editor: KH.Drs. Hafidz Abdurr...ahman, MM
Penerbit: Al-Azharpress
ISBN; 979311897-0
Harga Rp. 40.000,-

Al Fikru Al-Islam, secara harfiah berarti pemikiran Islam. Pemikiran Islam adalah hukum terhadap fakta berdasarkan persefkit Islam. Fakta yang dimaksud bisa dalam bentuk aktivitas hati (a'mal al-qalb), seperti hukum syara'; dan bisa dalam bentuk benda (asyya') yang menjadi obyek dari perbuatan fisik. fakta-fakta ini dihukumi dengan perseftif Islam. Outputnya disebut pemikiran Islam (al -fikr al-Islam).

karena itu, pembahasan buku ini mencakup keseluruhan hukum tentang fakta-fakta di atas. Hanya saja, keistimewaan buku ini tidak hanya memberikan gambaran hukum tentang fakta-fakta tersebut, tetapi yang lebih penting dari semuanya itu adalah buku ini memberikan kerangka berpikir (mindfream). kerangka yang sangat berguna bagi setiap Muslim untuk berpikir dan mengambil langkah dan tindakan.

Namun, untuk sampai ke sana, pertama-tama siapapun yang mengkaji buku ini harus sampai pada tingkat mengimani pemikiran yang harus diimani, atau paling tidak sampai pada tingkat ghalabat ad-dhan terhadap pemikiran yang memang level-nya hanya pada tingkat ghalabat ad-dhan. hingga sampai pada ikhtiar sungguh-sungguh untuk mendalami dan menerapkannya dalam kehidupan. hanya dengan cara itulah, pemikiran Islam ini akan mampu mengubah hidup kita, dan lebih jauh mengubah dunia.

KH. Drs. Hafidz Abdurrahman, MM
ketua Lajnah Tsaqafiyyah Hizbut Tahrir Indonesia


Info dan Pemesanan Keagaenan Hub. 081380409009 / 08176694030


Pembayaran :
Transfer Via
BCA 1810219447
BSM 0797040016
BRI 009201001929533
a.n Sandi Nopiandi/Noviandi

Biaya Hantar Ditanggung Pembeli

Saturday, November 12, 2011


Saturday, November 5, 2011

Nota hati seorang perempuan bertudung labuh

Salam to all readers~ =) (Please press ctrl+c to copy and sharing to the others, I have to disable right click for some reason but it does not mean that it can't be copy and shared, thank you.)










Testimonal;


[AsiyahWaheed]


"Bertudung labuh itu tetap menjadi pilihan saya kerana apabila menyarungnya akan membuatkan saya cukup selesa."




[AieeenieAhmad]


"Tudung labuh menjadi pilihan hati kerana ia memberi perlindungan kepada diri saya."




[FateenSafyqa]


"Ianya menutup aurat, itu paling penting. Fesyen itu ertinya bukan bagaimana cara kita attract people tapi sebenarnya bagaimana kita menunjukkan diri kita dalam fesyen itu."




Berikut adalah suara-suara testimonal oleh pemakai tudung labuh.


Hidup menuntut kita untuk membuat pilihan.


Anda ada dua pilihan. Hidup juga menuntut kita untuk membuat pilihan.



Memilih jam mahal diletak di dalam balang berkaca di show room. Indah dipandang tetapi harganya mahal. Tersangat mahal sehingga kita yang bergaji biasa, berelaun biasa, berduit sederhana tidak mampu untuk membelinya. Kita hanya mampu memandang meskipun dari jauh, padahal kita sangat ingin sekali memilikinya. Kita jadi sedar diri, tentang hakikat diri kita, tidak punya wang yang banyak, tidak hidup mewah untuk membeli jam yang tersangatlah mahal itu. Hanya orang yang benar-benar punya wang yang banyak yang mampu membelinya.




Terkadang longgokan jam murah di pasar malam itu, sangat menggoda kita untuk membelinya. Murah,. Mudah untuk dilihat, tidak diletak di balang-balang kaca. Kita dengan seenaknya memegangnya. Jika mahu, beli, jika tidak mahu, kembali meletakkannya. Entah sudah berapa tangan yang telah menyentuh jam tersebut. Ia bisa ditatap seenaknya, disentuh semudahnya. Kita mampu membelinya bila-bila masa.




Jauh di sudut hati, pasti kita menginginkan jam yang mahal tersebut.




Yang tertutup itu indah, dan tidak semua mampu untuk memilikinya. Walhal keinginan untuk memiliknya membuak-buak tanpa mengetahui status diri.


Siapa soleh dapat solehah.



Semua orang punya impian untuk memiliki pasangan yang beriman, suami yang soleh dan isteri solehah. Supaya keturunan nanti baik-baik, zuriat yang dilahirkan diharap juga soleh solehah seperti ibu bapanya.




Bukan topik suami isteri yang saya hendak bincangkan, tapi ianya adalah sebuah gambaran akan datang dari sekecil-kecil perkara. Banyak kawan lelaki yang saya tanya, rata-rata mereka inginkan wanita solehah, yakni mereka perincikan lagi, seorang wanita yang bertudung labuh. Bagi mereka, wanita bertudung labuh ini sedap mata memandang, akhlak solehah, pandai menjaga diri, dan dipercayai. (jika ada kes yang terjadi berlawanan seperti apa yang dinyatakan itu kes terpencil)




Jadi, akhlak luaran telah menggambarkan dalaman. 



Bertudung labuh itu satu perlindungan

Bagi saya sendiri, bertudung labuh merupakan satu perlindungan. Perlindungan dari segala macam kejahatan luaran dan dalaman. Apabila memakai ‘perlindungan ini’, saya rasa lebih selamat. Maksudnya di sini, apabila kita bertudung labuh, yakni sedang melakukan perkara kebaikan, kita akan berusaha untuk menjaga tingkah laku.




‘Eh, aku pakai tudung labuh, mana boleh macam ni, macam ni’
‘Pakai tudung labuh ni, kena jaga akhlak, nanti orang tengok’






and so on. Pendek kata, kita akan lebih menjaga diri kita sendiri, kerana orang lain memandang. Owh, maksud saya bukan memakai tudung labuh adalah untuk menjaga cakap-cakap orang semata-mata, menunjukkan kita ni KONON baik, dan bukan semata-mata pakaian orang alim, ke apa, tapi sebenarnya lebih dari itu.




Ianya adalah perlindungan. Perlindungan kepada diri saya, dan saya pasti si pemakai tudung labuh juga akan turut merasa begitu. Kita akan berusaha untuk melakukan perkara mahmudah setiap masa, dan cuba untuk menepis mazmumah dalam diri. Nilai mahmudah ditambah-tambah dan nilai mazmumah dicarik pergi. Yang paling penting, adalah kita berusaha untuk memperbaiki diri dari sehari ke sehari.





Pernah masa zaman sekolah agama dulu, pergi outing dekat Kajang. Pergi jalan grouping, ramai-ramai. Depan group kami, budak sekolah lain, bertudung tiga segi biasa. Dan biasalah, bila di shopping complex akan ada lelaki melepak sana, melepak sini. Mereka akan phewwit phewwit dekat budak sekolah di hadapan kami, tapi bila kami pula yang lalu, mereka tak berani nak phewwit phewwit ke apa. Mereka takut untuk menegur. Mereka hanya melihat kami segerombolan budak-tudung-labuh. Apa yang saya nak sampaikan sebenarnya, apabila kita ada perlindungan semacam ini, kita akan lebih selamat daripada diganggu.








Firman Allah s.w.t. yang bermaksud: 

“Wahai Nabi, katakan kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, dan isteri-isteri orang mukmin, ‘hendaklah mereka melabuhkan jilbab ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka mudah dikenali sebagai wanita baik agar mereka tidak diganggu. (al-Ahzab:59)






Di sini, kita sudah memiliki perlindungan dengan memakai tudung labuh. Sebenarnya pemakaian tudung labuh hendaklah bukan dipaksa. Biar ikhlas dalam menutup bukan paksaan. Kerana bila melakukan sesuatu dengan paksaan ianya adalah sangat berat sebenarnya. Jiwa memberat dan memberontak.




Sewaktu saya bersekolah agama dulu, kena pakai tudung labuh, yelah masa tu mana nak biasa lagi pakai labuh-labuh segala ni. Dari form 1 sampai form 5, saya rasa saya pakai tudung labuh sebab peraturan semata. Saya anggap pemakaian tudung labuh tu tak lebih dari sehelai tudung yang labuh yang kena pakai untuk patuh kepada peraturan sekolah. Saya sendiri merasakan begitu.






Keadaan berterusan sehingga saya dapat tawaran belajar ke Kelantan, Akademi Pengajian Islam di Nilam Puri. Kena keluar bilik pun kena pakai tudung, I mean tudung labuh. Pergi kelas, kena pakai hand sock, stokin lengan or whatever lah nama dia. Saya tak berapa suka masa tu. Sebab bagi saya dah keluar sekolah agama, keluar jelah, tak perlu lagi nak sarung semua benda ni balik. Mungkin lebih tepat lagi, niat saya masa tu; saya memasang azam untuk tidak bertudung labuh lagi! Yelah, sebab masa sekolah, saya pakai tudung labuh hanya kerana peraturan. Muncul lah rasa rimas, memberontak, etc. etc. sebab kita sendiri masa tu rasa dah bebas, dan rasa MACAM boleh buat keputusan sendiri tanpa perlu ada peraturan semacam itu.




Dan apabila saya menjejakkan kaki ke institut perguruan dot dot dot, ya, hasrat saya memang tercapai untuk tidak memakai tudung labuh. Even saya ambil kos pengajian Islam, saya pakai tudung yang pendek tapi agak labuh (bukan tudung pendek bawal) tapi saya masih menjaga kelabuhan tudung (tudung silang-silang laa), pendek kata, saya tak pakai tudung labuh awal-awal sem masa masuk institut perguruan dot dot dot. Tapi, lama kelamaan rindu datang menerjah. Saya jadi rindu pada tudung labuh. Waktu tu, saya lansung tak pakai tudung labuh dah, so saya memang tak bawak tudung labuh dari rumah.






Berusaha mencipta ikhlas







Saya rinduuu sangat dengan tudung labuh, lebih tepat lagi perlindungan saya. Lama-kelamaan, saya jadi tewas dengan perasaan sendiri. saya buat tudung labuh (lebih tepat lagi suruh kawan buat T___T) Saya pakai pergi kelas, dan saya kurangkan pakai tudung silang-silang. Alhamdulillah, ikhlas datang secara slowly. Bila kita buat sesuatu secara ikhlas, insyaallah, amalan itu akan berterusan. Sebab ia datang dari niat hati sendiri dan bukan paksaan. Berusaha untuk mencipta ikhlas.





Apa yang selalu orang pandang, apa yang selalu orang nilai, bila bertudung labuh orang baik-baik, bila namanya ustazah mesti solehah, akhlak cemerlang (walaupun hakikatnya tak semua begitu-ini kes terpencil) tapi kita juga meyakini, bahawa kebanyakan mereka adalah yang terbaik dari segi akhlaknya. saya masih kekurangan sana sini lagi...




Saya ulang sekali lagi, yang tertutup itu indah. Anda mahu jam mahal dalam showroom ke atau jam yang dah dipegang-pegang oleh kebanyakan orang? Akal waras kita akan menjawab kita mahukan sesuatu yang sangat berharga. Yang mahal itu sukar didapati, dan yang murah itu sangat senang untuk kita dapat. Membeli jam mahal di showroom tidak semudah kita membeli jam yang di pasar malam. RM 10. Perlu diingatkan, untuk menjadi yang terbaik juga, perlukan pengorbanan.




Saya selalu melihat orang-orang baik di sekeliling saya, si pemakai tudung labuh, akhlak cemerlang, akademik terbilang, sahsiah terjaga. Dengan mudah saya simpulkan bahawa si pemakai tudung labuh ini sangat hebat orangnya.


Lambakan fesyen kini

[Appreciation]



Perkembangan fesyen semakin pesat dari sehari ke sehari, ada sahaja fesyen baru di pasaran. Lambakan pelbagai jenis tudung terkadang mengusik jiwa juga. Cuma, satu pesanan, bergaya itu boleh, tidak salah, Islam juga suka kepada keindahan dan kecantikan, bergayalah dengan ilmu. Ilmu yang kita pelajari harus diamalkan. Bukan hanya setakat TAHU, tapi berusahalah untuk mencetus MAHU mengamalkan ilmu di dada. Labuhkan sepertimana yang telah Allah perintahkan.




Jangan menganggap mereka ni kolot, tidak tahu berfesyen etc. etc. Jangan kata macam-macam dekat si pemakai tudung labuh. Ya, tudung labuh adalah bergantung kepada pemilihan hati bukan paksaan. Ingatlah, berkemungkinan perempuan yang kamu hina-hina, ejek-ejek itu lebih baik dari kamu.Tidak semua manusia mampu untuk menyarungkan tudung labuh ini, saya juga pada awalnya agak keberatan untuk memakainya, kerana pada masa itu, saya masih tidak mampu mengerti apa erti 'tudung labuh' sebenarnya. 


Firman Allah:


"Hai orang- orang yang beriman, janganlah kamu menghina (mencaci) suatu kaum yang lain kerana boleh jadi kaum yang dihina itu lebih baik dari kaum yang menghina." (Al- Hujurat: 11)








Jadi, jika ada yang berkeinginan nak pakai tudung labuh, teruskan niat baik anda. Jangan bertangguh, dan paling penting jangan dengar cakap-cakap negative orang. Sudah lumrah manusia, tidak sukakan perubahan baik orang lain. Dilable macam-macam. Perubahan jahat, disorak-sorai, ditepuk tangan. Manusia lebih senang mendengar keburukan orang lain berbanding kebaikan seseorang. Sebab tu berlaku kes dengki mendengki, fitnah-menfitnah, semuanya berpunca dari hati yang tidak sihat. Hati yang terlalu banyak titik hitam. Sangat berbahaya kepada diri sendiri dan orang lain.




Kepada pemakai tudung labuh, istiqamahlah dalam pemakaian ‘perlindungan ini’. Tidak semua manusia terpilih oleh Allah untuk menyarungkan tudung labuh, tidak semua manusia punya kekuatan seperti kamu,dan tidak semua manusia setabah kamu untuk terus menyarungkan tudung labuh yang kadang orang pandang sangat kolot.

Surat untuk kamu yang tidak aku ketahui siapa Part III

[Apresiasi] untukmu

Kepada kamu yang tidak aku ketahui siapa;


Ke hadrat Allah ku panjatkan doa, mohon seluruh jasad dan imanku dipelihara-Nya dan ku mahu kau juga dilindungi-Nya. Apa khabar imanmu? Apa khabar akhlakmu? Ada lagi yang ingin ku khabarkan kepadamu. Aku akan tetap terus menulis kepada kamu walaupun aku tidak mengetahui siapa kamu dan akan tetap terus bercerita. Harap kamu sabar menunggu dan tetap terus membaca perkhabaran dariku.=)



Aku diuji dengan kaummu. Aku ingin tetap berlari jauh dari semua ini. Lalu, aku berjalan terus ke hadapan tanpa menoleh lagi namun dia tetap mengejar. Maka aku menoleh kembali ke belakang mohon dijauhkan dari dirinya tetapi dia sentiasa berusaha menjejak ku. Kemudian aku meniti perjalanan di sebelah kanan tiba-tiba aku melihat dia menyambutku dengan senyuman lalu perjalanan di sebelah kiri yang aku lalui. Ternyata aku tidak mampu berlari jauh lagi darinya. Lalu, ke mana lagi aku harus pergi? Sekelilingku ada dia, suasanaku seakan tidak selamat lagi. Aku kaget. Rimas. Tiada lagi ruang untuk ku bernafas. Ujian apakah ini?

[Apresiasi] Mereka ada

Sebenarnya, aku tidak rela memberikan seluruh cintaku ini kepada sesiapa pun, apatah dalam masa terdekat ini. Itu yang sudah ku bicarakan tentang perihal nafsu. Perihal keseorangan dan bersendirian. Perihal menjaga hati. Moga Allah mengampuniku seluruhnya. Aku bukanlah insan terbaik untukmu. Terima kasih andai engkau sudi menungguku. Jika engkau memikirkan kesempurnaan dariku, usah lah engkau berharap lebih. Kerana aku hanyalah seorang wanita akhir zaman yang punya secebis harapan untuk mencintai kamu, suamiku.



Semalam dan hari ini aku diuji dengan kesakitan lagi. Mungkin sebagai kifarah dosa. Alhamdulillah, Allah telah menyembuhkanku walau bukan sepenuhnya lagi. Tekak masih perit untuk menelan tapi aku cuba untuk gagahi. Aku akan menantimu kelak, apabila aku kesakitan begini, pasti engkau akan menjagaku. Di sini, aku masih punya sahabat yang menjagaku dan pastinya aku sendiri yang akan menjagaku sendiri. 



Kesibukan itu sering berlegar-legar di sekelilingku. Aku harap di dalam kesibukanku ini, aku tidak melupakan-Nya. Aku harap engkau juga begitu. Baru-baru ini, aku merasakan percutian yang kulalui ibarat menjadi percutian rohani juga. Alangkah ruginya aku. Sering aku merasakan kekuatan ku yang sebenar adalah semasa aku dikelilingi oleh sahabat handai yang soleh solehah. Maafkan aku andai ikhtilatku tidak terjaga, maafkan aku andai aku terlalai seketika dalam perjuangan melawan nafsu. Maafkan aku. Aku masih berharap kekuatan untuk itu.


[Apresiasi] Semuanya termasuk aku

Aku melihat orang-orang yang soleh memperjuangkan kata-katanya, baik di kuliah-kuliah, baik juga dalam ceramah-ceramahnya atau juga tazkirahnya. Tetapi mereka sendiri diuji dengan apa yang mereka dakwahkan. Aku mengetahui cinta itu satu fitrah, tetapi kenapa mereka sendiri mencalarkannya. Aku bimbang aku juga akan melakukannya tanpa sedar. Aku melihat akhlak mereka adalah yang terbaik (ya, aku tidak tahu apa yang tersirat dalam hati mereka) luarannya sempurna, namun perkhabaran yang ku terima, mereka sedang dalam jerat dan permainan syaitan. Bagaimana untuk aku mempercayai mereka lagi? Kata-kata mereka? Kuliah-kuliah mereka? Siapa lagi yang bakal untuk ku jadikan teladan? Itu orang yang soleh apatah lagi aku yang biasa-biasa ini saja. Bila-bila masa Allah akan mengujiku kembali. Doakan kekuatan buatku untuk terus menjaga hati.
[Apresiasi] mujahadah daie'



Tercipta engkau dari rusuk lelaki
Bukan dari kaki untuk dialasi
Bukan dari kepala untuk dijunjung
Tapi dekat dibahu untuk dilindung
Dekat jua di hati untuk dikasihi
Engkaulah wanita hiasan duniawi



Terngiang-ngiang lagu wanita yang dinyanyikan oleh dehearty. Pasti aku terharu jika engkau tujukan lagu ini buatku kelak. Aku akan menunggu. Doakan aku. Aku mohon. Doakan aku kuat. Doakan aku setia denganmu. Doakan aku tetap cinta denganmu. Doakan aku mencintai Dia lebih dari segalanya. Doakan aku tabah dalam segalanya. Doakan aku ceria sentiasa. Doakan aku supaya aku terpelihara. Doakan aku cepat sembuh. Doakan agar aku sentiasa dalam rahmat-Nya dan redha-Nya. Dan doakan agar aku sentiasa terpelihara dalam hidayah-Nya. 

[Apresiasi] Wanita


Kau digelar sebagai penyeri dunia
Hadirmu melengkap hubungan manusia
Bukan saja dirindui yang biasa
Malah Adam turut sunyi tanpa Hawa


Terima kasih buatmu~ =')

Ikhtilat: jangan buat saya jatuh hati pada awak sbb Saat ini Saya Hanya Punya Satu Cinta (Allah)


“Tell the believing men to lower their gaze and be modest. That is purer for them. Allah is Aware of what they do. And tell the believing women to lower their gaze and be modest.” (An-Nur: 30-31)


Allah dah bagi peringatan supaya kita menjaga perhubungan sesama lawan jenis. Hmm, tapi susah kita nak faham (termasuklah orang yang menulis ni)


(Saya mohon kebenaran untuk sebarkan poster ni yep-approve pun dak lagi ni)  Bila mana kita tidak menjaga pandangan, kelakuan pun tidak akan berjaga. Yes, benda yang kita nampak remeh temeh je pon, but impact sangat besar. Mempengaruhi seluruh kehidupan. Penjagaan hati itu penting.


Bukannya apa, kadang-kadang orang tu layan kita sama je macam kawan dia yang lain. tapi disebabkan hati perempuan ni mudah tersentuh, kita pun dah start sayang and etc etc pada kawan tu. Tapi sebenarnya dia biasa-biasa je. So girls, beware. The heart is fragile, so handle with care. =)



Sekali lagi saya ingatkan, bukan niat saya untuk berat sebelah untuk memenangi kaum wanita, tapi saya cuma berkongsi cerita tentang kebenaran yang sering berlegar-legar di sekeliling saya. Sekadar peringatan bersama. Waallahu'alam~ =)


p/s: penjagaan bersama mensucikan hati~ =)

Tuesday, November 1, 2011

Ukhti.!!

Sebuah pesan masuk dalam Inbox Fecebookku.

“ Ukhti, aku hanya ingin mengenlamu, apakah aku sehina itu sampai kamu tak mau mengenalku “
Ku delet pesan itu tanpa ku balas.
Pesan ke dua dari orang yang sama.
“ Ukhti, apakah ikhwan seperti aku tak bisa menjalin ukhuwah denganmu “
Tak tega rasanya, apalagi ini untuk masalah ukhuwah. Baiklah aku balas.
“ Afwan akhi, baiklah kalo memang untuk menjalin sebuah ukhuwah “

===================================

Kena deh.. !!!
Sebuah alasan klasik, “ Ukhuwah “ mampu meluluh lantahkan hati wanita yang sedang mempertahankan harga dirinya, biar enggak kena rayuan dari “ Ikhwit “ ( ikhwan genit ). Namun apa daya, apa harus di sangka. Dengan sebuah kata Ukhuwah menjadikannya terjerat nafsu syetan.

Wanita memang mudah terjerat kata – kata, apalagi yang membuatnya enggak enak sama kamu. Dia pasti langsung ngerespon. Karna firahnya wanita terlalu lemah dengan perasaannya.
Bila seorang akhwat enggak mau membalas chat privat atau membalas inboxmu, kamu akan menganggap dia sombong bahkan kamu akan menulis di statusmu “ Aku memang ikhwan hina yang enggak pantes berteman dengan akhwat semulia dirimu “. Berharap si akhwat melihat dan meresponmu. Hmm ..yang kayak gini nih, memanfaatkan kelemahan wanita.

Bila seorang akhwat dengan mudah meresponmu membalas setiap inboxmu, membalas setiap chat privatmu. Maka kamu dengan bangganya menulis di statusmu “ Ukhti, ijinkan aku mengenalmu lebih dalam “. Aduh.. bener-bener deh ingin memanfaatkan perasaan akhwat yang hanya ingin menjalin sebuah ukhuwah.

Ukhti..
Ijinkanlah kami tahu apa yang kamu inginkan. Bila kau ingin menjaga kehormatanmu, tegaslah pada kami. Jangan kau asingkan kami tanpa kepastian, sehingga kami berprasangka buruk padamu. Jika kau mempertegas kami, kami akan undur diri untuk menjaga perasaan dan kehormatanmu.

Janganlah kau menjebak kami dengan kata-kata manis, seolah kau pun suka dengan rayuan kami. Sungguh ukhti, kami pun lemah. Lemah akan syetan yang terus menggoda kami. Lemah dengan syetan yang selalu menghampiriku untuk mengenalmu di balik jilbabmu. Lemah dengan syetan yang selalu membawamu dalam pikiranku.

Wahai Ukhti, tegaskanlah syetan yang ada dalam jiwa kami. Agar kami pun bisa lepas dari nafsu yang kuat mengikat kami. Hindarkanlah kami dari kelemah lembutanmu pada kami, karna kami tak mau menghancurkan harga diri dan iffah mu.

Akhi..
Ijinkanlah kami mempertegas keluhamu. Bukannya kami ingin menjauhimu apalagi ingin merusak ukhuwah. Kau bilang kami sombong karna tak mau mengenalmu, tapi kami bilang, kami takut akan perasaan kami. Kami lemah akan kata-kata manis, kami lemah akan kata-kat sempurnamu yang menghujam hati kami. Mengertilah bahwa kami tak mampu membendung nafsu bila kami terjebak di dalamnya.

Kau bilang, kami terlalu mulia untuk berteman dengan ikhwan sepertimu. Justru kau terlalu mulia, jika kami datang padamu untuk menghancurkan benteng pertahanan imanmu. Tak sadar kah kau,bahwa di seluruh badan kami banyak syetan yang bersemayam. Bila kau sampai tergoda oleh syetan yang ada pada kami, maka kemuliaanmu dan kemulian kami akan sirna.
Jangan kau dekati kami hanya karna kau ingin menunjukkan bahwa kau seorang lelaki sejati. Lelaki sejati tak akan menjebak kami dalam rayuan bahkan mengolah kata-kata manis untuk menjebak kami dalam kehendak syetan yang ada di antara kita.

Wahai akhi..kau ancam kami dengan kata manis, kau suruh kami men’delet’ mu bila kami tak ingin berteman denganmu. Kami akan melakukan itu bila itu kehendakmu namun bilakah kau ingin men’delet’ kami dari pertemananmu karna kau anggap kami terlalu merendahkanmu. Deletlah kami bukan hanya dari situs pertemananmu, tapi juga dari hatimu sampai kau benar-benar mendatangi kami, untuk meminta halal pada orang tua kami. Maka kau lah yang terpilih untuk menjadi Pangeran hatiku.

Mengertilah dan maafkan kami !!!

Friday, October 28, 2011


ohh.. Muslimah muslimah...


Bekerja adalah mubah atawa boleh. Seorang istri boleh bekerja atas seijin suami atau walinya bagi yang belum menikah tentunya.Selama tempat bekerjanya sesuai syara, pekerjaannya tidak melanggar syara dan dia dapat menjaga kehormatan diri dan kehormatan suami dan tidak melanggar syariat. Menutup aurat, dan tidak ikhtilat(berdua-duaan/menyepi-nyepi diri dengan laki-laki asing yang bukan mahromnya). Suatu yang boleh, berarti pilihan, mau bekerja atau tidak itu adalah pilihan....tidak lantas jadi haram, tetap dalam kebolehannya.Syariat Islam membolehkan wanita untuk berniaga, berjual beli, berinteraksi, menghadiri majlis-majlis ilmu, bahkan pada masa rosul banyak para wanita yang menjadi pejuang- pejuang Islam,ikut berjihad/berperang dan berhijrah, menjadi penyampai hadis seperti Ummul mukminin Aisah RA, Asma binti Abu Bakar yang melakukan tugas suci menyampaikan sembako(makanan)ke dalam gua ketika Baginda Rosul dan Sahabat Abu Bakar Assiddik, bersembunyi menuju Medinah untuk berhijrah. Zaman Rosulullah banyak pula wanita yang keluar rumah untuk shalat di mesjid dan mengkaji ilmu-ilmu Islam di luar rumahnya.Tapi tugas utama sebagai seorang ibu yaitu Ummu warobatul bait tidak boleh dia sepelekan, dan lalaikan.Wajib itu!! Sebagai ibu mendidik, mengarahkan anak2nya, memahamkan halal dan haram, memahamkan Islam dan menjaga Imannya, sebagai Istri menunaikan tugasnya, menyiapkan makanan, melayani dengan ikhlas....berjuang untuk kejayaan Islam juga menjadi tugasnya, berdakwah menyebarkan Islam juga kewajibannya dimanapun dia beraktifitas...eh kalau boleh memilih saya sebenarnya lebih mau tinggal di rumah dan berdakwah 100% (bukan sisa-sisa waktu),doakan semoga Allah memberikan jalan yang terbaik menurut Allah dan ridhonya. Tapi saya ingin ilmu yang saya peroleh dapat bermanfaat(ketika saya memutuskan untuk bekerja dulu), saya memohon petunjuk Allah. dan sampai saat ini saya masih bekerja. Semoga tidak menjadi fitnah dan dosa bagi saya karena saya bekerja seijin suami dan wali. Juga bisa menjaga diri.Alhamdulillah

hmm.. Kenapa Harus Wanita Sholehah ?



Terkadang orang heran dan bertanya, kenapa harus mereka ?

Yang bajunya panjang, tertutup rapat, dan malu-malu kalau berjalan..

Aku menjawab.. Karena mereka, lebih rela bangun pagi menyiapkan sarapan buat sang suami dibanding tidur bersama mimpi yang kebanyakan dilakukan oleh perempuan lain saat ini..

Ada juga yang bertanya, mengapa harus mereka ?

Yang sama laki-laki-pun tak mau menyentuh, yang kalau berbicara ditundukkan pandangannya.. Bagaimana mereka bisa berbaur…

Aku menjawab.. Tahukah kalian.. bahwa hati mereka selalu terpaut kepada yang lemah, pada pengemis dijalanan, pada perempuan-perempuan renta yang tak lagi kuat menata hidup. Hidup mereka adalah sebuah totalitas untuk berkarya dihadapan-Nya.. Bersama dengan siapapun selama mendatangkan manfaat adalah kepribadian mereka.. Untuk itu, aku menjamin mereka kepadamu, bahwa kau takkan rugi memiliki mereka, kau takkan rugi dengan segala kesederhanaan, dan kau takkan rugi dengan semua kepolosan yang mereka miliki.. Hati yang bening dan jernih dari mereka telah membuat mereka menjadi seorang manusia sosial yang lebih utuh dari wanita dimanapun..

Sering juga kudengar.. Mengapa harus mereka ?

Yang tidak pernah mau punya cinta sebelum akad itu berlangsung, yang menghindar ketika sms-sms pengganggu dari para lelaki mulai berdatangan, yang selalu punya sejuta alasan untuk tidak berpacaran.. bagaimana mereka bisa romantis ? bagaimana mereka punya pengalaman untuk menjaga cinta, apalagi jatuh cinta ?

Aku menjawab..

Tahukah kamu.. bahwa cinta itu fitrah, karena ia fitrah maka kebeningannya harus selalu kita jaga. Fitrahnya cinta akan begitu mudah mengantarkan seseorang untuk memiliki kekuatan untuk berkorban, keberanian untuk melangkah, bahkan ketulusan untuk memberikan semua perhatian.

Namun, ada satu hal yang membedakan antara mereka dan wanita-wanita lainnya.. Mereka memiliki cinta yang suci untuk-Nya.. Mereka mencintaimu karena-Nya, berkorban untukmu karena-Nya, memberikan segenap kasihnya padamu juga karena-Nya… Itulah yang membedakan mereka..

Tak pernah sedetikpun mereka berpikir, bahwa mencintaimu karena fisikmu, mencintaimu karena kekayaanmu, mencintaimu karena keturunan keluargamu.. Cinta mereka murni.. bening.. suci.. hanya karena-Nya..

Kebeningan inilah yang membuat mereka berbeda… Mereka menjadi anggun, seperti permata-permana syurga yang kemilaunya akan memberikan cahaya bagi dunia. Ketulusan dan kemurnian cinta mereka akan membuatmu menjadi lelaki paling bahagia..

Sering juga banyak yang bertanya.. mengapa harus mereka ?

Yang lebih banyak menghabiskan waktunya dengan membaca al qur’an dibanding ke salon, yang lebih sering menghabiskan harinya dari kajian ke kajian dibanding jalan-jalan ke mall, yang sebagian besar waktu tertunaikan untuk hajat orang banyak, untuk dakwah, untuk perubahan bagi lingkungannya, dibanding kumpul-kumpul bersama teman sebaya mereka sambil berdiskusi yang tak penting. Bagaimana mereka merawat diri mereka ? bagaimana mereka bisa menjadi wanita modern ?

Aku menjawab..

Tahukah kamu, bahwa dengan seringnya mereka membaca al qur’an maka memudahkan hati mereka untuk jauh dari dunia.. Jiwa yang tak pernah terpaut dengan dunia akan menghabiskan harinya untuk memperdalam cintanya pada Allah.. Mereka akan menjadi orang-orang yang lapang jiwanya, meski materi tak mencukupi mereka, mereka menjadi orang yang paling rela menerima pemberian suami, apapun bentuknya, karena dunia bukanlah tujuannya. Mereka akan dengan mudah menysihkan sebagian rezekinya untuk kepentingan orang banyak dibanding menghabiskannya untuk diri sendiri. Kesucian ini, hanya akan dimiliki oleh mereka yang terbiasa dengan al qur’an, terbiasa dengan majelis-majelis ilmu, terbiasa dengan rumah-Nya.

Jangan khawatir soal bagaimana mereka merawat dan menjaga diri… Mereka tahu bagaimana memperlakukan suami dan bagaimana bergaul didalam sebuah keluarga kecil mereka. Mereka sadar dan memahami bahwa kecantikan fisik penghangat kebahagiaan, kebersihan jiwa dan nurani mereka selalu bersama dengan keinginan yang kuat untuk merawat diri mereka. Lalu apakah yang kau khawatirkan jika mereka telah memiliki semua kecantikan itu ?

Dan jangan takut mereka akan ketinggalan zaman. Tahukah kamu bahwa kesehariannya selalu bersama dengan ilmu pengetahuan.. Mereka tangguh menjadi seorang pembelajar, mereka tidak gampang menyerah jika harus terbentur dengan kondisi akademik. Mereka adalah orang-orang yang tahu dengan sikap profesional dan bagaimana menjadi orang-orang yang siap untuk sebuah perubahan. Perubahan bagi mereka adalah sebuah keniscayaan, untuk itu mereka telah siap dan akan selalu siap bertransformasi menjadi wanita-wanita hebat yang akan memberikan senyum bagi dunia.

Dan sering sekali, orang tak puas.. dan terus bertanya.. mengapa harus mereka ?

Pada akhirnya, akupun menjawab…

Keagungan, kebeningan, kesucian, dan semua keindahan tentang mereka, takkan mampu kau pahami sebelum kamu menjadi lelaki yang sholih seperti mereka..

Yang pandangannya terjaga.. yang lisannya bijaksana.. yang siap berkeringat untuk mencari nafkah, yang kuat berdiri menjadi seorang imam bagi sang permata mulia, yang tak kenal lelah untuk bersama-sama mengenal-Nya, yang siap membimbing mereka, mengarahkan mereka, hingga meluruskan khilaf mereka…

Kalian yang benar-benar hebat secara fisik, jiwa, dan iman-lah yang akan memiliki mereka. Mereka adalah bidadari-bidadari syurga yang turun kedunia, maka Allah takkan begitu mudah untuk meberikan kepadamu yang tak berarti dimata-Nya… Allah menjaga mereka untuk sosok-sosok hebat yang akan merubah dunia. Menyuruh mereka menunggu dan lebih bersabar agar bisa bersama dengan para syuhada sang penghuni syurga… Menahan mereka untuk dipasangkan dengan mereka yang tidurnya adalah dakwah, yang waktunya adalah dakwah, yang kesehariannya tercurahkan untuk dakwah.. sebab mereka adalah wanita-wanita yang menisbahkan hidupnya untuk jalan perjuangan.

Allah mempersiapkan mereka untuk menemani sang pejuang yang sesungguhnya, yang bukan hanya indah lisannya.. namun juga menggetarkan lakunya.. Allah mempersiapkan mereka untuk sang pejuang yang malamnya tak pernah lalai untuk dekat dengan-Nya.. yang siangnya dihabiskan dengan berjuang untuk memperpanjang nafas islam di bumi-Nya.. Allah mempersiapkan mereka untuk sang pejuang yang cintanya pada Allah melebihi kecintaan mereka kepada dunia.. yang akan rela berkorban, dan meninggalkan dunia selagi Allah tujuannya.. Yang cintanya takkan pernah habis meski semua isi bumi tak lagi berdamai kepadanya.. Allah telah mempersiapkan mereka untuk lelaki-lelaki sholih penghulu syurga…

Seberat itukah ?

Ya… Takkan mudah.. sebab syurga itu tidak bisa diraih dengan hanya bermalas-malasan tanpa ada perjuangan…

Menjadi Keluarga SAMARA penegak syariah dan Khilafah





Keluarga Pengemban Dakwah
Islam mewajibkan setiap Muslim, laki-laki maupun perempuan, untuk menjadikan akidah Islam sebagai landasan kehidupan, termasuk dalam kehidupan rumah tangga. Menjadikan akidah Islam sebagai asas rumah tangga berarti mendudukkan akidah sebagai penentu tujuan hidup dalam berumah tangga. Akidah Islam menetapkan bahwa tujuan hidup setiap manusia adalah menggapai ridha Allah Swt. melalui ketaatan, ketundukan, dan kepatuhan kepada-Nya (QS adz-Dzariyat [51]: 56).

Berdasarkan hal ini, maka orang yang berpegang teguh pada akidah Islam akan senantiasa terikat dengan aturan-aturan Islam, termasuk dalam membangun kehidupan rumah tangga; membina dan menjalaninya. Motivasi dalam berkeluarga adalah semata-mata berharap mendapat ridha-Nya. Keberhasilan materi bukan hal yang utama. Setiap perintah Allah akan dilaksanakan sekalipun berat, penuh rintangan dan halangan, serta tidak terbayang keuntungan materinya. Sebaliknya, semua yang dilarang-Nya akan senantiasa dihindari walaupun menarik hati, menyenangkan, dan menjanjikan kesenangan materi.

Salah satu perintah Allah Swt. kepada suami dan istri adalah dakwah. Perhatikanlah firman Allah Swt. berikut:

]وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ[

Orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain. Mereka melakukan amar makruf nahi mungkar. (QS at-Taubah [9]: 71).

Dalam ayat ini Allah Swt. menyatakan bahwa berdakwah merupakan aktivitas yang menyatu dengan keimanan seseorang, baik laki-laki maupun wanita. Allah Swt. juga berfirman:

]وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ[

Hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyerukan kebajikan (Islam) dan melakukan amar makruf nahi mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS Ali Imran [3]: 104).

Ayat ini mengisyaratkan bahwa dakwah bukanlah tanggung jawab seseorang saja, tetapi harus dilakukan secara berjamaah; harus ada sekelompok orang beranggotakan laki-laki maupun perempuan yang mampu menegakkan tujuan dakwah.

Jadi jelas, bahwa dakwah memang wajib dilakukan oleh setiap muslim laki-laki maupun wanita, suami maupun istri. Sekarang, setidaknya separuh jumlah penduduk dunia adalah wanita. Padahal pihak yang layak dan tepat berdakwah di kalangan wanita adalah kaum wanita; ibu dan calon ibu. Apalagi kondisi wanita sekarang telah dijadikan sasaran yang empuk untuk meruntuhkan suatu bangsa.

Dengan demikian, suami dan istri sama-sama meyakini bahwa dakwah merupakan kewajiban mereka. Suami tidak akan menghalang-halangi istrinya berdakwah. Sebab, menghalangi istri berdakwah berarti menghalanginya menunaikan kewajiban. Hal ini sama saja dengan menjerumuskannya ke dalam dosa. Sebaliknya, istri juga akan meridhai suaminya berdakwah. Suatu kali suaminya kendur dalam dakwah, bersegeralah ia menyemangatinya. Istri bangga memiliki suami sebagai pengemban dakwah, suami pun bangga memiliki istri pengemban dakwah. “Keluarga kami adalah keluarga pengemban dakwah,” begitu jiwanya berkata. Inilah kebahagiaan ideologis.

Mengatasi Problem Keluarga

Hidup berumah tangga bukanlah jalan tol yang tanpa hambatan. Ujian, cobaan, dan hambatan akan datang silih berganti. Hal ini penting selalu disadari oleh setiap pasangan suami-istri.

Sepasang suami-istri akan ingat bahwa ketika mereka menikah berarti dia telah menjawab satu pertanyaan penting dalam hidupnya, “Dengan siapa Anda akan berjuang bersama mengarungi kehidupan demi mencapai ridha Allah dan masuk surga bersama-sama?” Dengan mengingat hal ini maka suami dan istri adalah sahabat satu sama lain. Secara îmâni, suami-istri bukan sekadar bertujuan mencapai kebahagiaan seksual atau status sosial tinggi, melainkan masuk surga bersama-sama. (Lihat: QS az-Zukhruf [43]: 70-71). Rumah tangga yang dibentuknya bukan sembarang rumah tangga, melainkan rumah tangga yang akan diboyong ke surga. Inilah perkara yang senantiasa diingatnya ketika menghadapi persoalan. Karenanya, ketika terjadi guncangan rumah tangga, mereka saling berpegangan, bukan justru saling berlepas tangan. Solusi dan prinsip dalam menyelesaikan persoalan pun senantiasa disandarkan pada akidah dan syariat Islam.

Di antara persoalan yang muncul dalam rumah tangga adalah:
1.Ketimpangan pemahaman Islam antara suami-istri. Adanya jurang pemahaman sepasang suami-istri dapat menghadapi keguncangan dalam rumah tangga. Dakwah pun akan terganggu. Persoalan ini perlu diselesaikan dengan cara menyamakan persepsi. Caranya adalah berdialog; bukan dialog seperti penguasa dengan rakyat, tetapi dialog antara dua sahabat yang dilandasi cinta dan kasih sayang. Jika dialog terasa sulit, maka suami akan meminta dan mendorong istrinya mengikuti proses pembinaan. Hal yang sama dilakukan juga oleh istri kepada suaminya. Rasulullah saw. sering berdialog dengan istri-istrinya.

2.Beban hidup keluarga. Kezaliman penguasa seperti menaikkan harga BBM telah memukul masyarakat, tak terkecuali keluarga pengemban dakwah. Saat menghadapi persoalan ini keluarga Muslim akan menghadapinya dengan penuh kesabaran. Mereka yakin, Allah sajalah Maha Pemberi rezeki; Dialah yang meluaskan rezeki bagi siapa saja yang Dia kehendaki; Dia pula yang menyempitkan rezeki atas siapa saja yang Dia kehendaki. Keluarga Muslim memandang kaya atau miskin hanyalah cobaan dari Allah, Zat Yang Mahagagah. Hal ini justru mendorong mereka untuk semakin taat kepada Allah Swt. (Lihat: QS al-A‘raf [7]:168). Suami akan terus berusaha mencari nafkah. Istri pun tidak banyak menuntut.

Janganlah mengira Rasulullah hidup penuh kelonggaran. Sudah dimaklumi, Rasulullah saw. hidup dalam kefakiran. Nabi kekasih Allah tersebut dan keluarganya sering tidak kenyang makan selama tiga hari berturut-turut. Hal ini beliau alami hingga pulang ke rahmatullah (HR al-Bukhari dan Muslim). Namun, beliau dan istri-istrinya tetap teguh dalam dakwah Islam.


3.Masalah prioritas amal suami-istri. Kadangkala suami memprioritaskan agar istrinya mengasuh anak yang sakit, misalnya; sementara istrinya lebih mengutamakan kontak tokoh. Perselisihan pun terjadi. Sebenarnya, penentuan prioritas (al-awlawiyât) harus mengacu pada hukum syariah. Oleh sebab itu, suami dan istri penting memahami kedudukan masing-masing berdasarkan syariah. Suami wajib memperlakukan istri dengan baik (ma‘rûf), memberi nafkah, mendidik istri, menjaga kehormatan istri dan keluarga. Istri berkewajiban taat kepada suami, menjaga amanat sebagai umm[un] wa rabbah al-bayt, menjaga kehormatan dan harta suami, meminta izin bepergian kepada suami. Sementara itu, kewajiban bersamanya adalah menjaga iman dan takwa; menjaga senantiasa taat kepada Allah Swt. menghindari maksiat, dan saling mengingatkan. Diupayakan, semua kewajiban dikompromikan antara suami dan istri. Jika pada suatu situasi dan kondisi tertentu terjadi bentrokan kepentingan antara peran sebagai umm[un] wa rabbah al-bayt dan tugas dakwah, sedangkan pemaduan keduanya tidak dapat dilakukan, maka secara syar‘i prioritas yang harus dilakukan adalah kedudukan sebagai umm[un] wa rabbah al-bayt.



Prinsip Dakwah Sinergis

Ada lagi persoalan lain yang kadangkala muncul. Namun, bagi setiap persoalan yang muncul, inti pemecahan masalahnya adalah:

1.Mengetahui hak dan kewajiban masing-masing serta hak dan kewajiban bersama, lalu berupaya mengkompromikannya. Jika tidak bisa, kembali pada awlawiyât berdasarkan hukum syariah.

2.Membangun komunikasi dan saling pengertian. Rasulullah saw. senantiasa berkomunikasi dengan Ibunda Khadijah ra. Beliau bersama istrinya berupaya bersama membincangkan persoalan dakwah. Bahkan, beliau menyempatkan berkomunikasi dan bersenda-gurau dengan istri-istrinya setiap sehabis isya. Setelah itu, barulah beliau menginap di tempat istri yang mendapat giliran. Nabi saw. mencontohkan bahwa komunikasi merupakan persoalan vital dalam rumah tangga. Tentu, saat komunikasi bukan melulu persoalan yang berat-berat, melainkan juga terkait dengan persoalan ringan seperti makanan yang enak, foto keluarga, dll.

3.Saling mendukung sebagai tim dakwah terkecil. Dukungan orang-orang terdekat—suami dan istri, anak-anak, orangtua, dan orang-orang yang berada di sekitarnya—langsung atau tidak langsung akan berpengaruh terhadap kesuksesan tim dakwah keluarga. Beban rumah tangga, nafkah, dan dakwah jelas sangat berat. Akan lebih berat lagi jika suami/istri atau keluarga tidak memahami kewajiban ini. Sebaliknya, semua tugas akan terasa ringan dan menyenangkan, rasa lelah segera hilang jika suami/istri dan keluarga memahami aktivitasnya; mendukung, apalagi turut membantu. Suami dan istri sama-sama memahami bahwa aktivitas tersebut bukan didasari oleh keinginan untuk aktualisasi diri, karir, ataupun untuk persaingan antara suami-istri. Keduanya akan saling menolong dalam beribadah kepada Allah dan berlomba dalam kebaikan. Dengan begitu, akan tercipta sebuah keluarga yang harmonis, sakinah, mawaddah wa rahmah. Bagi Muslimah shalihah, seberat apa pun beban yang harus ditunaikan tidak berarti apa-apa jika dukungan dan ridha suami senantiasa menyertainya. Begitu juga, seorang suami salih akan tetap tersenyum bahagia jika istrinya shalihah dan menopang dakwahnya. Di sinilah peran penting suami-istri saling mendukung dalam menunaikan kewajiban dakwah dari Allah, Zat Yang Mahakuasa. Perlu suami-suami menjadi seperti Nabi saw. dan para sahabat; perlu istri-istri menjadi laksana ummul mukminin dan shahabiyât yang secara harmonis berjuang bersama memperjuangkan Islam.

4.Pentingnya ukhuwah sesama pengemban dakwah. Dakwah tidak mungkin dilakukan secara individual. Dakwah berjamaah adalah suatu keniscayaan. Ukhuwah di antara pengemban dakwah juga terus dipelihara selama mereka berinteraksi. Dengan begitu, satu sama lain akan saling mengenal, saling memahami, dan saling membantu. Masing-masing memahami karakter, kemampuan, kondisi, kendala, serta apa yang dibutuhkan. Tidak akan ada beban yang diberikan di luar kemampuan seseorang atau membuat dia lalai terhadap kewajibannya yang lain. Kalaupun ada kendala pada individu pengemban dakwah bukan langsung disalahkan, tetapi akan diteliti akar permasalahannya dan dicari solusi pemecahannya. Sebuah jamaah dakwah ibarat roda yang berputar. Masing-masing bagian menempati posisi dan fungsi masing-masing; kadang berada di bawah kemudian bergulir ke atas. Demikian halnya dengan seorang pengemban dakwah. Ketika dia sedang diliputi kendala, keadaannya ibarat bagian bawah roda. Saudaranya sigap dan cepat bereaksi untuk membantunya. Jika ini terjadi maka suatu keluarga pengemban dakwah yang tengah mendapatkan kesulitan diringankan oleh saudaranya dari keluarga lain.



Profil Keluarga

Keluarga Nabi saw. adalah keluarga sakinah penegak syariah. Beliau sebagai seorang suami sering bergurau, berbuat makruf, dan lembut terhadap istrinya. Beliaupun sekaligus rasul pejuang Islam. Salah seorang istrinya, Ibunda Khadijah, adalah penopang utama dakwah Nabi saw., beriman pertama kali, membiayai hampir seluruh dakwahnya. Sekalipun demikian, Ibunda Khadijah tetap rendah hati, berakhlak mulia, dan menjaga kesuciannya. Ia juga menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya serta tetap menghormati dan menaati Rasulullah saw. sebagai suaminya. Dari ibu mulia inilah lahir perempuan mulia Fatimah az-Zahra. Hidup beliau dilalui dengan penuh kesetiaan dan kebajikan. Sebagaimana yang seharusnya dilakukan oleh seorang istri kepada suaminya. Ia mendampingi Rasulullah saw. dalam suka dan duka perjuangan (Lihat: Akhmad Khalil Jam’ah, Wanita Yang Dijamin Syurga, Darul Falah, Jakarta, 2002, hlm. 16).

Ibunda Khadijahlah yang senantiasa menenangkan ketakutan Nabi saw. Tampaklah, keluarga beliau adalah keluarga sakinah yang pejuang, atau keluarga pejuang yang sakinah.

Profil seperti itu terjadi juga pada keluarga Yasir bin Amir bin Malik. Dia bersama istrinya Sumayyah binti Khubath ra., dan anaknya Amar bin Yasir, termasuk tujuh orang pertama yang masuk Islam. Pasangan suami-istri tersebut berhasil mendidik anaknya menjadi salih. Sang suami amat sayang kepada istri dan anaknya. Semasa hidupnya pun Sumayyah dikenal sebagai seorang istri yang baik, berbakti, dan mengabdi kepada suaminya. Ia bersama suaminya dalam suka dan duka. Mereka bukan hanya sebagai keluarga sakinah, melainkan juga mempertaruhkan nyawanya demi melawan musuh-musuh Islam. Jelas, mereka adalah keluarga sakinah penegak Islam.

Contoh lain adalah keluarga Abu Thalhah. Beliau adalah seorang pejuang dan sahabat dekat Nabi saw. Istrinya bernama Ummu Sulaym binti Milhan ra. Dia adalah seorang perempuan Anshar. Ia termasuh shahabiyah yang utama. Ilmu, pemahaman, keberanian, kemurahan hati, kebersihan, dan keikhlasan bagi Allah dan Rasul terkumpul dalam dirinya. Sebagai ayah dan ibu mereka berhasil. Buktinya, Anas bin Malik yang banyak meriwayatkan hadis itu adalah anak mereka. Hubungan suami-istri pun mesra. Ummu Sulaym senantiasa menyediakan makanan dan minuman, berdandan cantik, bercakap dan bersenda gurau. Sungguh, keluarga mereka bukan hanya pembela Nabi saw., melainkan juga sakinah.

Banyak lagi contoh-contoh profil keluarga sahabat. Intinya, mereka memadukan peran ayah/ibu dan anak, peran suami-istri, dan keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah, dengan perjuangan Islam. Jika kita hendak menjadi keluarga seperti mereka maka kita mesti menjadi ‘keluarga sakinah penegak syariah dan Khilafah’. Wallâhu a‘lam bi ash-shawâb.

Inilah Wanita Penantang Diktator





Perhatikanlah nash-nash syariat yang terkandung dalam al Qur’an dan Sunnah. Sesungguhnya Allah telah memuji seorang wanita salehah dan mukminah.

Allah swt. berfirman:

“Dan Allah membuat istri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata, ‘Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surge dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.’”

(At Tahrim [66]: 11)

Renungkanlah bagaimana Allah menjadikan wanita ini (Asiyah r.a) sebagai perumpamaan yang hidup bagi setiap wanita mukminah. Bayangkanlah ketika Allah menjadikannya sebagai symbol yang suci bagi mereka yang ingin mendapat petunjuk dan memegang aturan Allah dalam kehidupan ini.

Alangkah cerdas dan lurusnya hati wanita ini, di mana ia selalu memohon agar bisa menjadi tetangga Allah Yang Maha Mulia. Ia lebih mengutamakan kedudukan bertetangga dengan Allah daripada tinggal di istana Fir’aun. Bahkan, ia ingin berlepas diri dari ketaatannya pada sang dictator yang jahat dan kafir itu. Ia juga menolak hidup bersenang-senang bersama Fir’aun dan para pelayan di istananya. Ia hanya memohon istana yang kekal, lebih baik, dan lebih baik di sisi Allah Tuhan semesta alam, untuk ditempatkan di dalam surga yang di dalamnya terdapat taman-taman dan sungai-sungai yang disenangi.

Sesungguhnya dia adalah wanita yang agung, dimana keteguhan dan kejujurannya mendorongnya untuk menyeru secara terang-terangan kepada suaminya – seorang dictator zalim – dengan kalimat kebenaran dan keimanan. Maka akhirnya, ia pun disiksa karena mempertahankan keimanannya itu. Kemudian Allah menjadikannya sebagai wanita teladan bagi setiap mukminah hingga hari kiamat. Allah juga mencatat dan memuji namanya dalam al Qur’an, serta menyanjung perbuatannya dan menghinakan suaminya yang telah menyimpang dari jalan Allah.

Tiada daya dan upaya melainkan dengan kekuatan Allah. Tetaplah bersikap optimis, walau berada dalam amukan badai.

Gudang Kenikmatan Itu Terdapat dalam Diri Anda




Karunia-karunia Allah pasti datang,
Walaupun terasa lama
Tapi sungguh, ia laksana kedipan mata
Ketika harus berkedip




Saudariku, sesungguhnya sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan. Setelah tetesan air mata pasti ada senyuman, dan setelah malam pasti akan datang siang. Sesungguhnya awan kelabu kesedihan pasti berlalu, pekatnya kegalauan pasti tersingkap, segala problema pasti teratasi, dan segala bencana pasti akan berakhir dengan izin Allah. Yakinlah, bahwa Anda selalu akan diberi ganjaran terbaik olehNya.


Bila anda seorang ibu dan suka mendidik anak-anak dengan baik, maka mereka akan menjadi pembela dan penolong agamaNya, serta menjadi pembantu serta risalahNya. Mereka pasti mendoakan anda dalam sujud-sujudnya diwaktu sahur. Sesungguhnya, inilah kenikmatan agung bagi seorang ibu yang pengasih dan penuh cinta. Maka, cukuplah menjadi kebanggaan dan kemuliaan bagi anda, bahwa ibunda Muhammad saw adalah seorang wanita yang telah menghadiahkan kepada umat manusia seorang pemimpin yang agung dan rasul yang mulia.

Aminah binti Wahab, (ibunda Rasulullah saw)
Telah menghadiahkan kepada manusia
Tangan putih yang memerdekakan manusia



Saudariku, sebenarnya anda mampu menjadi da’iyah (penyeru kebaikan) dikalangan perempuan di negeri anda. Serulah mereka dengan kalimat yang benar, nasihat yang baik dan penuh hikmah. Ajaklah mereka untuk berdialog dan berdiskusi. Tunjukkan pada mereka sikap yang bersahabat. Dan terakhir, antarkanlah mereka menuju risalah Allah dan RasulNya yang mulia. Sesungguhnya, wanita dengan perilakunya yang saleh dapat melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan dengan cara berkhutbah, berpidato, atau mengikuti studi-studi.


Betapa banyak wanita yang tinggal di perkampungan yang dibekali dengan pemahaman agama, rasa malu, hijab, akhlak yang baik, kasih saying terhadap tetangga, dan ketaatan terhadap suami. Sehingga, catatan hidup mereka begitu harum dan menjad inspirasi dari isi ceramah atau nasihat yang disampaikan dalam setiap majelis. Sosoknya menjadi teladan bagi anak-anak gadis dan wanita dewasa di negerinya.

“sesungguhnya sesudah kesulitan pasti ada kemudahan”
(al insyirah: 6)


Esok hari… akan tercium semerbak harumnya bunga. Kesedihan pasti hilang dan kesenangan pasti datang.

AKTIFITAS WANITA















1.Menjalankan seluruh syariat-syariat Allah
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.

(Al Baqarah: 208)

2.Menutup aurot

·Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya…… (An Nur: 31)

·Wahai Asma’, sesungguhnya seorang wanita apabila telah baligh (mengalami masa haid), tidak layak tampak dari tubuhnya kecuali ini dan ini ( seraya menujuk muka dan telapak tangan). (HR. Abu Dawud)

3.Birrul walidain

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya…(Al Isra’:23)

B.Sebagai ummun wa robbatul bait

i)Sebagai istri dan pengatur rumah tangga

·Diantara kebahagiaan itu ialah istri yang jika engkau pandang, ia membuatmu takjub dan jika engkau meninggalkannya, ia akan memelihara dirinya dan hartamu. (HR. Al Hakim)

·Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diriketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (AN Nisa: 34)

·Wanita mana saja yang meninggal, sementara suaminya meridhoinya, ia pasti masuk syurga. (HR. At Tirmidzi)

·Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang bersujud kepada orang lain. Aku pasti akan memerintahkan kepada wanita untuk bersujud kepada suaminya. (HR. At Tirmidzi)

ii)Sebagai ibu

a.Merawat dan menjaga anak sejak dini


Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama 2 tahun penuh. Yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan….. (Al Baqarah: 233)

b.Mendidik anak dengan Islam
·Ajarkanlah mereka untuk taat kepada Allah dan takut berbuat maksiyat kepada Allah dan suruhlah anak-anakmu untuk menaati perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan. Karena hal itu akan memelihara mereka dan kamu dari api neraka. (HR. Ibnu Jarir dan Ibnul Mundzir)

·Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (Luqman: 17)

·Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (At Tahrim: 6)

·Perintahkan anak-anakmu menjalankan sholat jika mereka sudah berusia tujuh tahun. Dan jika mereka sudah berusia sepuluh tahun maka pukulah mereka jika tidak mau melaksanakannya dan pisahkanlah tempat tidur mereka. (HR. Al Hakim)

C.Kewajiban wanita di sektor publik (dakwah)

·Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. ( At Taubah: 71)

·Siapa saja yang bangun di pagi hari dan tidak memperhatikan urusan kaum muslimin, maka ia tidak termasuk golongan mereka. (HR. Al Hakim dan Al Khotib)

·Kalian adalah umat terbaik yang dikeluarkan bagi manusia, kalian menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar….(Ali Imron: 110)

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More