Thursday, July 14, 2011

Sejak kapan aku mula menulis

Kalau ditanya sejak kapan aku mulai menulis? Akan ku jawab, sewaktu umur 3-4 tahun aku belajar untuk menulis angka dan huruf. Alhasil walau saat itu aku sulit membedakan antara huruf M dan W yang aku baca selalu terbalik, aku menjadi anak yang sudah bisa membaca sebelum aku masuk TK. Haha.. , itu masih menulis gaya jaman balita.
Setelah aku bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) di kota kecilku, kegiatan menulisku semakin banyak. Aku menyebutnya saat itu bukan sebagai penulis, tapi cenderung ke kerjaan sekretaris kelas. Bayangkan saja, dari jaman nulis make kapur putih sampai ke spidol, kerjaanku tetap aja jadi sekretaris kelas. Itu dimulai dari kelas 3 MIN sampai kelas 3 MAN. Betah ya, dan herannya penglihatan guru-guruku semenjak aku MIN hingga MAN ternyata sama, mereka tetap menyebutnya rapi. Ini berlanjut hingga kuliah yang memakai sistem scriber (notulen) dalam sebuah diskusi tutorial. Senangnya bukan main teman-teman diskusiku jika aku yang menjadi scriber, karena aku bisa mem-fotocopy-kan papan tulis dari hasil diskusi dengan baik. Dan yang membuat aku tak percaya, hingga kuliah pun, masih ada dosen yang berpenglihatan seperti guru-guruku terdahulu. Haha.. Mengerti kan maksudnya apa? Hehe..
Tetapi sepenuhnya aku tidak menjadikan diriku sebagai murid yang terlalu rajin dalam menulis tanpa menghasilkan sesuatu. Sewaktu MIN, aku mulai menulis puisi, walaupun masih bertemakan lihat kebunku penuh dengan bunga , padahal dari mana aku punya kebun, rumahku kan kecil dan halamannya nggak ada bunga, haha..
Maklumlah, masih kapasitas seorang anak kecil yang menulis sebuah puisi amatiran.
Nggak berhenti di situ aja, hanya karena aku suka menulis, jadi setiap ada PR bahasa indonesi yang judulnya buat kalimat baru walaupun dengan pola SPOK, kalimat konjugasi, majemuk, dan sebagainya, wah … aku bakalan senang bukan main. Membuat kalimat bebas benar-benar membuatku bisa berkreasi penuh untuk memasukkan nama Salman Khan yang lagi kasih makan bebek, Tina Toon yang mau bunuh diri, sampai dengan tetanggaku yang tiap pagi bertengkar di depan rumahpun tak lupa kujadikan ide untuk membuat kalimat, haha
Untunglah kebiasaan membuat kalimat aneh dengan melibatkan nama-nama mereka itu tidak kulanjutkan hinggga kini, jika tidak itu bisa menjadi sebuah kebohongan yang besar apalagi jika kertas-kertas PR-ku itu berceceran dan ditemukan oleh seorang wartawan gossip, haha :D. Tetapi ada sisi baiknya juga sih, ya walaupun aku punya ide aneh seperti itu, itu menjadi sebuah perbuatan yang baik untuk mengasah ide di kepalaku supaya cepat muncul, hehe …:).
Saat itu, aku juga punya diary sih, tapi diary di sini lebih kujadikan sebagai buku telpon, alamat rumah , daftar tanggal lahir, daftar makanan kesukaan, buku kesukaan sampai daftar artis kesukaan teman-temanku. Dan pastinya mereka lah yang menulisnya, bukan aku. Hufh, benar-benar tidak penting.

Yuk, cinta menulis (cahmbantoel.blogspot.com)
Masuk ke Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN), baru ku tahu kegunaan diary itu untuk apa. Fungsi diary berpindah pada jaman ini. Ini bermula dari Pak Guru bahasa Indonesia yang mewajibkan kami harus memiliki satu diary dengan syarat-syarat diary harus ber-merk sama, berukuran sedang dan sederhana banget, nggak boleh ada kesan boneka, warna pink berlebihan, dragon ball atau kartun apalagi itu yang sangat terkesan anak-anak banget. Aih, si Bapak.. tega bener…. Masak remaja baru tamat sekolah dasar seperti kami harus beli diary yang tampang luarnya tua banget, persis yang dipakai bapak-bapak kantoran, hahaha… :D.
Tapi aku baru ngerti, kenapa si bapak guru nyuruh beli diary dengan syarat-syarat di atas. Ya ampun, ternyata fungsi diary sepenuhnya belum berlaku di sini. Mengapa demikian? Ya namanya aja diary alias pribadi, ya mana pernah boleh dikasih ke orang lain kecuali pribadi sendiri yang tahu. Nah, ternyata buku harian yang disyaratkan oleh Pak Guruku itu harus selalu kami kumpulkan setiap seminggu sekali untuk diberikan penilaian dan itu nilai juga dimasukkan dalam nilai harian bahasa Indonesia. Kalau kami memakai diary yang warnanya seperti pelangi dan ada kartun di mana-mana, sama saja itu akan menyebabkan diskriminasi di antara kami, terkesan pembagian kasta dan lain sebagainya. Kami di sini untuk bersekolah, dan di sekolah nggak pernah diperhitungkan mau kaya atau miskinnya seseorang, semuanya sama, yang ada hanyalah bersaing dalam belajar. Benar-benar guru yang luar biasa, dia mempunyai caranya tersendiri untuk membiasakan kami menulis segala sesuatu terhadap setiap peristiwa yang kami alami, kami lihat dan kami dengar. Alhasil, teman-temanku yang cowok yang pada awalnya memang nggak suka nulis diary, karena mereka masih menganggap kalau cowok nulis diary itu adalah kriteria cowok cemen, akhirnya mau nggak mau mereka akhirnya harus nulis juga demi nilai, kalau nggak siap-siap nilai bahasa Indonesia nggak ada, haha :D.

Dan akhirnya karena aku tahu diary itu menjadi diary sekolah, maka aku nggak akan nulis tentang masa ABG ku dan masalah hati yang labil di situ. Aku nggak siap jika  pribadiku harus dibaca oleh guru-guru satu kantor. Bener sih itu tugas satu guru, tapi hasil yang kudapatkan adalah karena setiap siswa kelas 1 diwajibkan untuk punya diary yang sama dan harus nulis, banyak diary di meja kerja Pak Guru itu menumpuk dan menarik perhatian guru yang lain untuk membaca. Walaah.. benar-benar repot. Repot yang aku alami lagi, aku harus benar-benar nulis sesuatu minimal 3 tulisan dalam seminggu. Jadilah aku kewalahan mencari ide. Biasanya kan nulis di diary untuk masalah hati, akhirnya kisahnya aku alih fungsikan lagi ke semua tontonan yang aku nonton. Untungnya saat itu aku cuma memiliki TV yang punya saluran televisi nasional. Haha, jadilah banyak tontonan film dokumenter dan semua tontonan yang masih jaman 50-an banget, hahaha
Ya karena aku orang yang mau nonton apa aja walaupun cuma saluran televisi nasional, jadilah isi dari film dokumenter tentang kebudayaan Indonesia sampai pagelaran campur sari pun aku tuliskan dalam diary itu, haha… pikirku, biarlah isinya juga agak tua-tua gitu, soalnya tampang cover diary-nya kan juga tua, jadi ya sekalian aja biar 100 % tua, hahaha..

Dear Diary (plkc-corner.blogspot.com)
Nah, memasuki jenjang SMA, kegiatanku untuk menulis semakin meningkat. Saat itu, aku jadi anggota MaDing (Majalah Dinding) di sekolah. Kebanyakan tugasku adalah di bagian menulis puisi, jadi saat itu banyak puisi-puisi yang aku buat terpublish di sekolah. Puisi itu juga pada akhirnya nggak hanya untuk dibaca, di berbagai acara ada beberapa puisi yang aku ciptakan itu aku baca. Sangking banyaknya puisi yang aku buat, aku dokumentasikan semuanya ke sebuah diary kuning. Nah, pada masa itu kan belum ada software minilyrics, jadi kebiasaan teman-temanku yang lain selalu nulis lirik lagu di diary, dan aku juga merupakan korban dari kebiasaan remaja saat itu, aku ikut-ikutan nulis lirik lagu di diary, hahaha
Setelah tsunami, banyak hal yang aku dapatkan hingga pada akhirnya aku mulai sering menulis cerpen yang aku sadurkan dari pengalaman-pengalaman yang pernah terjadi. Aku masih ingat, cerpen pertama yang aku buat berjudul “Coverboy Alim” yang aku dedikasikan untuk salah seorang temanku yang sampai saat ini nggak kabarnya setelah kejadian tsunami saat itu. Pada akhirnya, majalah Skeleton yang merupakan majalah di Fakultas Kedokteran Unsyiah, yang saat ini menjadi kampusku, menerbitkan cerpen itu. Cerpen itu diterbitkan ketika aku duduk di kelas 2 SMA lho. Cerpen kedua mengenai misi-misi misionaris di Aceh, dan itu juga akhirnya dipublish di salah satu surat kabar di Aceh. Cerpen ketiga, aku dedikasikan kepada kakak salah seorang sahabatku yang telah meninggal karena Tsunami, dan kakak itu merupakan salah satu penulis terkenal di Aceh. Dan untuk cerpen ini aku berikan kepada temanku untuk nilai tugas ahir bahasa Indonesia di sekolahnya. Dan cerpen keempat tentang kehidupanku, aku jadikan sebagai hasil dari tugas terakhir untuk nilai bahasa Indonesia di sekolahku.

Teruslah menulis (damtara.wordpress.com)
Setelah itu, mulailah aku memberi buku harian baru, tapi ini merupakan buku harian yang sangat unik bagiku, aku suka covernya yang bertemakan “penyiar”, ada gambar headset dan radio di situ. Saat itu diary-ku itu memang menggambarkan kondisiku yang memang sedang bergelut di bidang penyiaran radio. Di diary itu, aku totalkan seluruh fungsi dari diary di situ. Aku ceritakan semuanya hal yang aku alami, dari hal yang paling indah hingga hal yang paling sakit. Tetapi pada akhirnya, aku belajar lagi tentang satu hal “jangan pernah membeli diary tanpa kunci jika di rumahmu berisikan adik-adikmu yang kerjanya adalah mencari tahu apa yang kau tuliskan hari ini di diary mu.
Kemudian yang parahnya, mereka akan menyebarkan semua isi diary mu kepada setiap isi rumah. Hufh.. benar-benar menyebalkan. Akhirnya setelah aku berada dalam kondisi yang tak aman dan memang dalam kondisi yang sangat down karena aku harus berhenti menjalankan profesi menyiarku dan beberapa hal lainnya, aku menitipkan diary ku itu pada teman sebangku ku supaya ia menyimpannya rapat-rapat. Sepertinya teman sebangkuku mengerti akan masalahku, dan karena aku ingin mengubur kenangan itu selamanya, akhirnya dia mau menyimpannya.

Live to Write (ririez.blog.uns.aci.d)
Setelah itu, aku tidak pernah mempunyai diary lagi, karena aku berpikir, apa yang harus aku tuliskan sedangkan pada masa itu aku benar-benar tidak memiliki satu kenangan yang indah, apalagi untuk masalah hati. Malah benar apa yang dikatakan temanku, segala sesuatu kenangan yang pernah kau tuliskan di diary mu,apalagi untuk masalah hati, aku kira akan berakhir dengan sad ending semuanya, makanya aku tidak menuliskan apa-apa lagi di diary dan aku tidak mempunyai diary lagi. Sampai saat ini, blog dan notes di Facebook lah sebagai penggantinya. Walaupun ada kriteria-kriteria tertentu yang tak bisa aku samakan dengan ketika aku menulis di diary, tapi setidaknya cara ini lebih aman dari mereka yang mencari diary ku setiap hari dan aku bisa mengontrol apa yang hendak aku sampaikan di blog walaupun tidak sepenuhnya, ehehe
Hmm, bagaimanapun kisahnya, tapi inilah aku sekarang, yang masih bisa menulis sampai saat ini, tentunya dengan gaya menulis yang aku punya sendiri. Mungkin setiap perkataan tidak mampu untuk bisa kau ungkapkan, tapi dengan menulis, kau bisa mengungkapkan segalanya, termasuk segala yang ada di hatimu. Teruslah menulis untuk dirimu

0 komentar:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More