BIOGRAFI USTAD JEFRY AL BUCHORI, MANTAN
PECANDU YANG
TOBAT DAN AKHIRNYA MENJADI USTAD YANG TERKENAL (..SUBAHANALLOH..)
Ustadz
Tampan ini laris diminta berdakwah. Perjalanan hidup Jeffry Al Buchori sungguh
dahsyat. Penuh gejolak dan tikungan tajam. Proses pergulatan yang luar biasa ia
alami sampai ia menemukan kehidupan yang tenang dan menenteramkan. Simak
kisahnya yang sangat memikat mulai nomor ini.
Sebetulnya aku tidak ingin bercerita banyak
tentang masa laluku. Maklum, masa laluku sangat kelam. Namun, setelah kupikir,
siapa tahu perjalanan hidupku ini bisa menjadi pelajaran bagi orang lain.
Baiklah, aku bersedia membagi pengalaman hidupku pada para pembaca. Insya
Allah, ada gunanya.
Aku
lahir dengan nama Jeffry Al Buchori Modal pada 12 April 1973 di Jakarta. Waktu
aku lahir, keluargaku memang sudah menetap di Jakarta. Aku lahir sebagai anak
tengah, maksudku anak ke-3 dari lima bersaudara. Tiga saudara kandungku
laki-laki, dan si bungsu adalah perempuan. Layaknya bersaudara, hubungan kami
berlima cukup dekat. Sekadar bertengkar, sih, wajar saja. Apalagi, jarak usia
kami tidak berjauhan.
Apih
(panggilan Jefri untuk ayahnya, Red.), M. Ismail Modal, adalah pria bertubuh
tinggi besar asli Ambon, sedangkan Umi, begitu aku biasa memanggil ibu, Tatu
Mulyana asli Banten. Apih mendidik kami berlima dengan sangat keras. Tapi,
kalau tidak begitu, aku tidak akan merasakan manfaat seperti sekarang. Kalau
kami sampai lupa salat atau mengaji, wah, jangan ditanya hukuman yang akan
diberikan Apih. Dalam hal agama, Apih dan Umi memang mendidik kami secara
ketat.
Namun,
sebetulnya Umi adalah seorang ibu yang amat sabar dan lembut dalam menghadapi
anak-anaknya. Apih pun orang yang selalu bersikap obyektif. Dia akan membela
keluarganya mati-matian bila memang keluarganya yang benar. Sebaliknya dia
tidak segan-segan menyalahkan kami bila memang berbuat salah.
Berada
di lingkungan keluarga yang taat agama membuatku menyukai pelajaran agama.
Sewaktu kelas 5 SD, aku pernah ikut kejuaraan MTQ sampai tingkat provinsi.
Selain agama, pelajaran yang juga kusukai adalah kesenian. Entah mengapa, aku
suka sekali tampil di depan orang banyak. Oh ya, setelah kenaikan kelas, dari
kelas 3 aku langsung melompat ke kelas 5. Jadilah aku sekelas dengan kakakku
yang kedua.
BERKEPRIBADIAN
GANDA
Lulus
SD, Apih memasukkanku dan kedua kakakku ke sebuah pesantren modern di Balaraja,
Tangerang. Beliau ingin kami mendalami pelajaran agama. Rupanya tidak semua
keinginannya bersambut, semua ini karena kenakalanku.
Orang
bilang, anak tengah biasanya agak nakal. Aku tidak tahu ungkapan itu benar atau
tidak. Yang jelas hal itu berlaku padaku. Sebagai anak tengah, aku sering membuat
orang tua kesal. Di pesantren, aku sering berulah.
Salah
satu kenalakanku, di saat yang lain salat, aku diam-diam tidur. Kenakalan lain,
kabur dari pesantren untuk main atau nonton di bioskop adalah hal biasa.
Sebagai hukumannya, kepalaku sering dibotaki. Tapi, tetap saja aku tak jera.
Tampaknya
aku seperti punya kepribadian ganda, ya. Di satu sisi aku nakal, di sisi lain
keinginan untuk melantunkan ayat-ayat suci begitu kuat. Tiap ada kegiatan
keagamaan, aku selalu terlibat. Bersama kedua kakakku, aku juga pernah membuat
drama tanpa naskah berjudul Kembali Ke Jalan Allah yang diperlombakan di
pesantren. Ternyata karya kami itu dinilai sebagai drama terbaik se-pesantren.
Bahkan,
aku juga juara lomba azan, lomba MTQ, dan qasidah. Akan tetapi, entah kenapa,
aku juga tak pernah ketinggalan dalam kenakalan. Tinggal dalam lingkungan
pesantren, kelakuan burukku bukannya berkurang, malah makin menjadi. Puncaknya,
aku sudah bosan bersekolah di pesantren.
Akhirnya,
hanya empat tahun aku di pesantren. Dua tahun sebelum menamatkan pelajaran, aku
keluar. Lalu, Apih memasukkanku ke sekolah aliyah (setingkat SMA, Red.).
Rupanya keluar dari pesantren tidak membuatku lebih baik. Aku yang mulai
beranjak remaja justru jadi makin nakal.
KENAL
DUNIA MALAM
Memang,
sih, tiap ada acara keagamaan aku tak pernah ketinggalan. Namun, aku juga
selalu mau bila ada teman mengajak ke kantin sekolah. Bukan untuk jajan, tapi
memakai narkoba! Aku juga sering kabur dan pergi tanpa tujuan yang jelas. Ya,
aku seperti burung lepas dari sangkar, terbang tak terkendali.
Masa SMA
memang suram bagiku. Masa yang tak pernah lengkap. Maksudnya, aku tak punya
teman sebaya. Kenapa? Ya, meski usiaku masih 15 tahun, aku bergaul dengan
pemuda berusia 20 tahunan. Pacaran pun dengan yang lebih tua. Di sekolah ini
aku hanya bertahan setahun. Pindah ke SMA lain, keseharianku tak jauh berbeda.
Malah makin parah.
Dari
perkenalan dengan beberapa teman, aku mengenal petualangan baru. Umur 16 tahun,
aku mulai kenal dunia malam. Aku masuk sekolah hanya saat ujian. Buatku, yang
penting lulus. Aku lebih suka mendatangi diskotek untuk menari. Terus terang,
aku memang tertarik pada tarian di diskotek. Tiap ke sana, diam-diam aku selalu
mempelajari gerakan orang-orang yang nge-dance. Lalu kutirukan.
Aku jadi
seorang penari, bertualang dari satu diskotek ke diskotek lain, tenggelam dalam
dunia malam. Saat ada lomba dance, aku mencoba ikut. Usahaku tak sia-sia.
Beberapa kali aku berhasil memboyong piala ke rumah sebagai the best dancer.
Selain itu, aku juga berhasil jadi penari di Dufan pada tahun 1990, meski hanya
selama setahun. Sampai sekarang masih banyak temanku yang jadi penari di sana.
Aku juga
pernah jadi foto model, bahkan ikut fashion show di diskotek. Mungkin waktu itu
aku merasa sangat cakep, ya. Tapi menurutku, kegiatan-kegiatan itu masih
positif, meski terkadang aku suka minum. Dengan segala kebengalanku, tahun 1990
aku berhasil lulus SMA.
MAIN
SINETRON
Aku
mengalami masa yang menurutku paling dahsyat setelah tamat SMA. Ceritanya salah
seorang teman penari, memperkenalkanku pada Aditya Gumai yang saat itu aktif di
dunia seni peran. Dari Aditya aku mengenal dunia akting. Waktu itu, kami masih
latihan menari di Taman Ismail Marzuki. Saat latihan pindah ke Gedung Pemuda di
Senayan, mulailah aku main sinetron. Mulanya aku hanya mengamati para pemain
yang sedang syuting, sambil diam-diam belajar.
Aku
memang suka mencuri ilmu. Waktu tidur di kos salah satu temanku di dekat kampus
Institut Kesenian Jakarta, aku sering mencuri ilmu juga dari para mahasiswa. Kalau
mereka sedang kuliah atau praktik, aku sering mengamati mereka.
Nah,
ketika para pemain sinetron sedang latihan, terkadang aku menggantikan salah
satunya. Ternyata aku ditertawakan. Karena pada dasarnya aku orang yang enggak
suka diperlakukan seperti itu, aku malah jadi terpacu. Aku makin giat berlatih
akting secara otodidak. Akhirnya, saat yang senior belum juga dapat giliran
main, aku sudah mendapat peran. Aku diajak Aditya main sinetron. Waktu
dikasting, aku berhasil mendapat peran.
Tahun
1990, aku main sinetron Pendekar Halilintar. Saat itu, sinetron masih dipandang
sebelah mata oleh bintang film. Namun, Apih mati-matian menentangku. Kenapa?
Rupanya Apih tahu persis seperti apa lingkungan dunia film. Dulu, beliau juga
pernah main film action, antara lain Macan Terbang dan Pukulan Berantai. Dari
beliaulah aku menuruni darah seni.
Ditentang
Apih tak membuat langkahku surut. Mungkin jalan hidupku memang harus begini.
Tak satu pun larangan Apih yang mampir ke otakku untuk kujadikan bahan pikiran.
Nasihat Apih tak lagi kudengarkan. Tawaran untuk main sinetron yang berdatangan
membuatku makin yakin, inilah yang kucari. Aku tak mau menuruti keinginan orang
tua karena merasa diriku benar. Akhirnya konflik antara aku dan orang tuaku
pecah.
Sebagai
bentuk perlawananku pada orang tua, aku tak pernah pulang ke rumah. Tidur
berpindah-pindah di rumah teman. Rambut juga kupanjangkan. Aku seperti tak
punya orang tua. Bahkan, tak pernah terlintas dalam benakku bahwa suatu hari
mereka akan pulang ke haribaan. Yang kupikirkan hanya kesenangan dan egoku
semata.
Pada
saat bersamaan, karierku di dunia seni peran terus melaju. Aku semakin
mendapatkan keasyikan. Setelah itu, aku mendapat peran dalam sinetron drama
Sayap Patah yang juga dibintangi Dien Novita, Ratu Tria, dan almarhum WD
Mochtar.
Aku
semakin merasa pilihanku tak salah setelah dinobatkan sebagai Pemeran Pria
Terbaik dalam Sepekan Sinetron Remaja yang diadakan TVRI tahun 1991. Aku bangga
bukan main, karena merasa menang dari orang tua. Kesombonganku makin menjadi.
Aku makin merasa inilah yang terbaik buatku, ketimbang pilihan orangtuaku.
***
“DI
KABAH, KUMINTA AMPUNAN ALLAH”
Tawaran
main sinetron berdatangan menghampiri Jeffry. Seiring dengan itu, ia makin
tenggelam dalam dunianya yang kelam.
Sejak
kenal sinetron, aku makin menyukai dunia akting. Aku tak peduli meski Apih
menentangku. Namun, belakangan aku paham, di balik etidaksetujuannya,
sebetulnya orang menyimpan rasa bangga. Orang tua cerita, mereka sedang ke
Tanah Suci membawa rombongan ibadah haji saat sinetron Sayap Patah yang
kumainkan ditayangkan.
Ternyata,
mereka nonton sinetronku. Komentar mereka membanggakanku. Mereka mengakui,
ternyata aku bisa berprestasi. Setelah itu, aku mendapat berbagai tawaran main,
antara lain sinetron Sebening Kasih, Opera Tiga Jaman, dan Kerinduan. Selain
namaku makin mencuat, rezeki juga terus mengalir.
Namun,
aku malah jadi lupa diri. Ketenaran tidak penting buatku. Yang penting
menikmati hidup. Dunia malam terus kugeluti. Kalau ke diskotek, aku tak lupa
mengonsumsi narkoba. Bahkan, untuk urusan yang satu ini, aku bisa dibilang
tamak. Biasanya, aku meminum satu pil dulu. Kalau kurasa belum “on”, kuminum
satu lagi. Begitu seterusnya.
Akhirnya,
aku jadi sangat mabuk. Pandanganku pun jadi kabur. Mau melihat arloji di tangan
saja, aku harus mendekatkannya ke wajahku, sambil menggoyang-goyangkan kepala
dan membelalakkan mata supaya bisa melihat dengan lebih jelas. Parah, ya?
Begitulah kebandelanku terus berlangsung.
KECANDUAN
KIAN PARAH
Suatu
hari di tahun 1992, Apih meninggal karena sakit. Aku menyesal bukan main karena
selama ini selalu mengabaikan nasihat Apih. Menjelang kepergiannya, aku berdiri
di samping tempat tidurnya di rumah sakit sambil menangis. Melihatku seperti
itu, Apih mengatakan, laki-laki tak boleh menangis. Laki-laki pantang keluar
air mata. Bayangkan, bahkan di saat-saat terakhirnya pun Apih tetap menunjukkan
sikapnya yang penuh kasih padaku yang durhaka ini.
Sore itu
aku dimintanya pulang ke rumah dan beliau memberiku ongkos. Aku menurut. Begitu
aku pulang, Allah mengambilnya. Aku syok berat. Saat Apih dimakamkan, aku turun
ke liang lahat dan memeluk jasadnya. Aku tak mau beranjak meski makam akan
ditutup. Aku tak mau melepas kepergiannya. Aku menyesali perbuatanku. Selama
Apih masih hidup, aku tak pernah mau mendengarkan ucapannya.
Sejak
itu, Umi membesarkan kami berlima. Hidupku terus berjalan. Bukan ke arah yang
baik, namun aku kembali ke masa seperti dulu. Penyesalan yang sebelumnya begitu
menghantuiku karena ditinggal Apih, seolah lenyap. Kebandelanku bahkan makin
menjadi sepeninggal Apih. Kesombonganku juga lebih besar dari sebelumnya karena
merasa berprestasi dan punya uang banyak. Tak seorang pun kudengarkan lagi
nasihatnya.
Ketika
temanku menasihati, aku mencibir. Siapa dia sampai aku harus mendengarkan
ucapannya? Ucapan orang tua saja tak kugubris. Aku tenggelam dalam duniaku
sendiri dan jadi pecandu narkoba. Waktu itu, aku beralasan karena ada masalah
di rumah. Padahal, sebetulnya alasan apa pun, termasuk broken home atau teman,
tidak bisa dijadikan alasan. Diri sendirilah alasannya, karena bagaimana pun,
kita lah yang menentukan semua yang terjadi pada diri kita.
Jadi,
tidak perlu membawa-bawa orang lain atau keadaan. Namun, kesadaran seperti ini
mana mungkin muncul pada diriku yang waktu itu sangat arogan? Aku makin jauh
dari Tuhan. Padahal, sebelah rumahku ada masjid. Ketika orang berpuasa di bulan
Ramadan pun, aku tetap melakukan kemaksiatan. Lalu, saat Lebaran tiba dan
orang-orang sibuk bertakbir, aku malah sibuk mencari celah waktu dan tempat di
mana aku bisa berbuat maksiat.
Semua
ilmu agama yang pernah kupelajari dan kemampuan membaca Quran seperti hilang.
Akal sehatku seperti hilang. Kecanduanku pada narkoba juga makin parah, bahkan
sampai mengalami over dosis dan aku hampir mati. Kejahatan demi kejahatan moral
terus kulakukan.
NAMA
DICORET
Tak
perlu aku menceritakan detail tentang kejahatan yang kulakukan. Yang jelas,
suatu hari aku merasa menderita karena ketakutan setelah melakukan sebuah
perbuatan. Aku benar-benar ketakutan! Aku jadi gampang curiga pada siapa saja.
Aku selalu berburuk sangka pada apa pun. Kesombonganku pada uang dan prestasi
lenyap digantikan ketakutan. Yang kulakukan setiap hari adalah berdiam diri di
kamar, dengan selalu berpikiran bahwa setiap orang yang datang akan membunuhku.
Aku sibuk mengintip dari bawah pintu, siapa tahu ada orang datang untuk
membunuhku.
Telingaku
jadi sangat sensitif. Aku sering merasa mendengar ada orang sedang berjalan di
atap rumah ingin membunuhku. Aku tersiksa selama berhari-hari,
berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Orang-orang mengatakan, aku sudah
gila.
Pada
saat bersamaan, kecanduanku pada narkoba membuatku termasuk dalam daftar hitam
dunia sinetron. Namaku dicoret. Tak ada lagi yang mau memakaiku sebagai pemain.
Selain itu, cewek-cewek yang ada di dekatku juga menjauh. Dulu aku termasuk
playboy.
Di saat
aku sendiri, ada Umi yang selama ini sudah sangat sering kusakiti hatinya. Umi
tetap menyayangiku dengan cintanya yang besar. Seburuk apa pun orang
berkomentar tentang aku, hati Umi tetap baik dan sabar. Air matanya tak pernah
kering untuk mendoakan anak-anaknya, terutama aku agar berubah jadi lebih baik.
Doa
tulus Umi dikabulkan Allah. Sungguh luar biasa, Allah menunjukkan kebaikan-Nya
padaku. Allah memberiku kesempatan untuk bertobat. Kesadaran ini muncul lewat
suatu proses yang begitu mencekamku.
DIAJAK
UMI UMRAH
Sungguh,
aku merasa sangat ketakutan ketika suatu hari bermimpi melihat jasadku sendiri
dalam kain kafan. Antara sadar dan tidak, aku terpana sambil bertanya pada diri
sendiri. Benarkah itu jasadku? Aku juga disiksa habis-habisan. Begitulah,
setiap tidur aku selalu bermimpi kejadian yang menyeramkan. Dalam tidur, yang
kudapat hanya penderitaan. Aku jadi takut tidur. Aku takut mimpi-mimpi itu
datang lagi.
Aku juga
jadi takut mati. Padahal dulu aku sempat menantang maut. Meminta mati datang
karena aku tak sanggup lagi bertahan saat ada masalah dengan seorang cewek.
Sebetulnya sepele, kan? Tapi masalah itu kuberat-beratkan sendiri. Rasa takut
mati itulah yang akhirnya membuatku sadar bahwa ada yang tidak meninggalkanku
dalam keadaan seperti ini, yaitu Allah.
Aku
teringat kembali pada-Nya dan menyesali semua perbuatanku selama ini.
Pelan-pelan, keadaanku membaik. Kesadaran-kesadaran itu datang kembali. Aku
menemui Umi, bersimpuh meminta maaf atas semua dosa yang kulakukan. Umi memang
luar biasa. Betapa pun sudah kukecewakan demikian rupa, beliau tetap menyayangi
dan memaafkanku. Umi lalu mengajakku berumrah.
Dengan
kondisiku yang masih labil dan rapuh, kami berangkat ke Tanah Suci. Kali ini
aku berniat sembuh dan kembali ke jalan Allah. Di sana, aku mengalami beberapa
peristiwa yang membuatku sadar pada dosa-dosaku sebelumnya. Usai salat Jumat di
Madinah, Umi mengajakku ke Raudhoh. Aku tak tahu apa itu Raudhoh, tapi kuikuti
saja. Umi terus meminta ampunan pada Allah.
Aku lalu
keluar, berjalan menuju makam Nabi Muhammad. Aku bersalawat. Begitu keluar dari
pintu masjid, rasanya seperti ada yang menarikku. Aku mencoba berjalan sekuat
tenaga, tapi tak bisa. Kekuatan itu rasanya sangat besar. Aku lalu bersandar
pada tembok. Air mataku yang dulu tak pernah keluar, kini mengalir deras. Aku
menyesali dosa-dosaku, dan berjanji tak akan melakukan lagi semua itu.
Bagai
sebuah film yang sedang diputar, semua dosa yang pernah kulakukan terbayang
jelas di pelupuk mataku silih berganti, mulai dari yang kecil sampai yang
besar. Tiba-tiba dari mulutku keluar kalimat permintaan ampunan pada Allah. Di
Mekkah, di hadapan Kabah, aku merapatkan badan pada dindingnya.
Aku
bersandar, menengadahkan tangan memohon ampun karena terlalu banyak dosa yang
kulakukan. Seandainya sepulang dari Tanah Suci ini melakukan dosa lagi, aku
minta pada Allah untuk mencabut saja nyawaku. Namun, seandainya punya manfaat
untuk orang lain, aku minta disembuhkan. Aku yang dulu angkuh, sekarang tak
berdaya. Setelah pulang beribadah, aku membaik. Aku mencoba bertahan dalam
kondisi bertobat itu, tapi ternyata sulit luar biasa.
Aku
lahir dengan nama Jeffry Al Buchori Modal pada 12 April 1973 di Jakarta. Waktu
aku lahir, keluargaku memang sudah menetap di Jakarta. Aku lahir sebagai anak
tengah, maksudku anak ke-3 dari lima bersaudara. Tiga saudara kandungku
laki-laki, dan si bungsu adalah perempuan. Layaknya bersaudara, hubungan kami
berlima cukup dekat. Sekadar bertengkar, sih, wajar saja. Apalagi, jarak usia
kami tidak berjauhan.
Apih
(panggilan Jefri untuk ayahnya, Red.), M. Ismail Modal, adalah pria bertubuh
tinggi besar asli Ambon, sedangkan Umi, begitu aku biasa memanggil ibu, Tatu Mulyana
asli Banten. Apih mendidik kami berlima dengan sangat keras. Tapi, kalau tidak
begitu, aku tidak akan merasakan manfaat seperti sekarang. Kalau kami sampai
lupa salat atau mengaji, wah, jangan ditanya hukuman yang akan diberikan Apih.
Dalam hal agama, Apih dan Umi memang mendidik kami secara ketat.
Namun,
sebetulnya Umi adalah seorang ibu yang amat sabar dan lembut dalam menghadapi
anak-anaknya. Apih pun orang yang selalu bersikap obyektif. Dia akan membela
keluarganya mati-matian bila memang keluarganya yang benar. Sebaliknya dia
tidak segan-segan menyalahkan kami bila memang berbuat salah.
Berada
di lingkungan keluarga yang taat agama membuatku menyukai pelajaran agama.
Sewaktu kelas 5 SD, aku pernah ikut kejuaraan MTQ sampai tingkat provinsi.
Selain agama, pelajaran yang juga kusukai adalah kesenian. Entah mengapa, aku
suka sekali tampil di depan orang banyak. Oh ya, setelah kenaikan kelas, dari
kelas 3 aku langsung melompat ke kelas 5. Jadilah aku sekelas dengan kakakku
yang kedua.
BERKEPRIBADIAN
GANDA
Lulus
SD, Apih memasukkanku dan kedua kakakku ke sebuah pesantren modern di Balaraja,
Tangerang. Beliau ingin kami mendalami pelajaran agama. Rupanya tidak semua
keinginannya bersambut, semua ini karena kenakalanku.
Orang
bilang, anak tengah biasanya agak nakal. Aku tidak tahu ungkapan itu benar atau
tidak. Yang jelas hal itu berlaku padaku. Sebagai anak tengah, aku sering
membuat orang tua kesal. Di pesantren, aku sering berulah.
Salah
satu kenalakanku, di saat yang lain salat, aku diam-diam tidur. Kenakalan lain,
kabur dari pesantren untuk main atau nonton di bioskop adalah hal biasa.
Sebagai hukumannya, kepalaku sering dibotaki. Tapi, tetap saja aku tak jera.
Tampaknya
aku seperti punya kepribadian ganda, ya. Di satu sisi aku nakal, di sisi lain
keinginan untuk melantunkan ayat-ayat suci begitu kuat. Tiap ada kegiatan
keagamaan, aku selalu terlibat. Bersama kedua kakakku, aku juga pernah membuat
drama tanpa naskah berjudul Kembali Ke Jalan Allah yang diperlombakan di
pesantren. Ternyata karya kami itu dinilai sebagai drama terbaik se-pesantren.
Bahkan,
aku juga juara lomba azan, lomba MTQ, dan qasidah. Akan tetapi, entah kenapa,
aku juga tak pernah ketinggalan dalam kenakalan. Tinggal dalam lingkungan
pesantren, kelakuan burukku bukannya berkurang, malah makin menjadi. Puncaknya,
aku sudah bosan bersekolah di pesantren.
Akhirnya,
hanya empat tahun aku di pesantren. Dua tahun sebelum menamatkan pelajaran, aku
keluar. Lalu, Apih memasukkanku ke sekolah aliyah (setingkat SMA, Red.).
Rupanya keluar dari pesantren tidak membuatku lebih baik. Aku yang mulai
beranjak remaja justru jadi makin nakal.
KENAL
DUNIA MALAM
Memang,
sih, tiap ada acara keagamaan aku tak pernah ketinggalan. Namun, aku juga
selalu mau bila ada teman mengajak ke kantin sekolah. Bukan untuk jajan, tapi
memakai narkoba! Aku juga sering kabur dan pergi tanpa tujuan yang jelas. Ya,
aku seperti burung lepas dari sangkar, terbang tak terkendali.
Masa SMA
memang suram bagiku. Masa yang tak pernah lengkap. Maksudnya, aku tak punya
teman sebaya. Kenapa? Ya, meski usiaku masih 15 tahun, aku bergaul dengan
pemuda berusia 20 tahunan. Pacaran pun dengan yang lebih tua. Di sekolah ini
aku hanya bertahan setahun. Pindah ke SMA lain, keseharianku tak jauh berbeda.
Malah makin parah.
Dari
perkenalan dengan beberapa teman, aku mengenal petualangan baru. Umur 16 tahun,
aku mulai kenal dunia malam. Aku masuk sekolah hanya saat ujian. Buatku, yang
penting lulus. Aku lebih suka mendatangi diskotek untuk menari. Terus terang,
aku memang tertarik pada tarian di diskotek. Tiap ke sana, diam-diam aku selalu
mempelajari gerakan orang-orang yang nge-dance. Lalu kutirukan.
Aku jadi
seorang penari, bertualang dari satu diskotek ke diskotek lain, tenggelam dalam
dunia malam. Saat ada lomba dance, aku mencoba ikut. Usahaku tak sia-sia.
Beberapa kali aku berhasil memboyong piala ke rumah sebagai the best dancer.
Selain itu, aku juga berhasil jadi penari di Dufan pada tahun 1990, meski hanya
selama setahun. Sampai sekarang masih banyak temanku yang jadi penari di sana.
Aku juga
pernah jadi foto model, bahkan ikut fashion show di diskotek. Mungkin waktu itu
aku merasa sangat cakep, ya. Tapi menurutku, kegiatan-kegiatan itu masih
positif, meski terkadang aku suka minum. Dengan segala kebengalanku, tahun 1990
aku berhasil lulus SMA.
MAIN
SINETRON
Aku
mengalami masa yang menurutku paling dahsyat setelah tamat SMA. Ceritanya salah
seorang teman penari, memperkenalkanku pada Aditya Gumai yang saat itu aktif di
dunia seni peran. Dari Aditya aku mengenal dunia akting. Waktu itu, kami masih
latihan menari di Taman Ismail Marzuki. Saat latihan pindah ke Gedung Pemuda di
Senayan, mulailah aku main sinetron. Mulanya aku hanya mengamati para pemain
yang sedang syuting, sambil diam-diam belajar.
Aku
memang suka mencuri ilmu. Waktu tidur di kos salah satu temanku di dekat kampus
Institut Kesenian Jakarta, aku sering mencuri ilmu juga dari para mahasiswa.
Kalau mereka sedang kuliah atau praktik, aku sering mengamati mereka.
Nah,
ketika para pemain sinetron sedang latihan, terkadang aku menggantikan salah
satunya. Ternyata aku ditertawakan. Karena pada dasarnya aku orang yang enggak
suka diperlakukan seperti itu, aku malah jadi terpacu. Aku makin giat berlatih
akting secara otodidak. Akhirnya, saat yang senior belum juga dapat giliran
main, aku sudah mendapat peran. Aku diajak Aditya main sinetron. Waktu
dikasting, aku berhasil mendapat peran.
Tahun
1990, aku main sinetron Pendekar Halilintar. Saat itu, sinetron masih dipandang
sebelah mata oleh bintang film. Namun, Apih mati-matian menentangku. Kenapa?
Rupanya Apih tahu persis seperti apa lingkungan dunia film. Dulu, beliau juga
pernah main film action, antara lain Macan Terbang dan Pukulan Berantai. Dari
beliaulah aku menuruni darah seni.
Ditentang
Apih tak membuat langkahku surut. Mungkin jalan hidupku memang harus begini.
Tak satu pun larangan Apih yang mampir ke otakku untuk kujadikan bahan pikiran.
Nasihat Apih tak lagi kudengarkan. Tawaran untuk main sinetron yang berdatangan
membuatku makin yakin, inilah yang kucari. Aku tak mau menuruti keinginan orang
tua karena merasa diriku benar. Akhirnya konflik antara aku dan orang tuaku
pecah.
Sebagai
bentuk perlawananku pada orang tua, aku tak pernah pulang ke rumah. Tidur
berpindah-pindah di rumah teman. Rambut juga kupanjangkan. Aku seperti tak
punya orang tua. Bahkan, tak pernah terlintas dalam benakku bahwa suatu hari
mereka akan pulang ke haribaan. Yang kupikirkan hanya kesenangan dan egoku
semata.
Pada
saat bersamaan, karierku di dunia seni peran terus melaju. Aku semakin
mendapatkan keasyikan. Setelah itu, aku mendapat peran dalam sinetron drama
Sayap Patah yang juga dibintangi Dien Novita, Ratu Tria, dan almarhum WD
Mochtar.
Aku
semakin merasa pilihanku tak salah setelah dinobatkan sebagai Pemeran Pria
Terbaik dalam Sepekan Sinetron Remaja yang diadakan TVRI tahun 1991. Aku bangga
bukan main, karena merasa menang dari orang tua. Kesombonganku makin menjadi.
Aku makin merasa inilah yang terbaik buatku, ketimbang pilihan orangtuaku.
***
“DI
KABAH, KUMINTA AMPUNAN ALLAH”
Tawaran
main sinetron berdatangan menghampiri Jeffry. Seiring dengan itu, ia makin
tenggelam dalam dunianya yang kelam.
Sejak
kenal sinetron, aku makin menyukai dunia akting. Aku tak peduli meski Apih
menentangku. Namun, belakangan aku paham, di balik etidaksetujuannya,
sebetulnya orang menyimpan rasa bangga. Orang tua cerita, mereka sedang ke
Tanah Suci membawa rombongan ibadah haji saat sinetron Sayap Patah yang
kumainkan ditayangkan.
Ternyata,
mereka nonton sinetronku. Komentar mereka membanggakanku. Mereka mengakui,
ternyata aku bisa berprestasi. Setelah itu, aku mendapat berbagai tawaran main,
antara lain sinetron Sebening Kasih, Opera Tiga Jaman, dan Kerinduan. Selain
namaku makin mencuat, rezeki juga terus mengalir.
Namun,
aku malah jadi lupa diri. Ketenaran tidak penting buatku. Yang penting
menikmati hidup. Dunia malam terus kugeluti. Kalau ke diskotek, aku tak lupa
mengonsumsi narkoba. Bahkan, untuk urusan yang satu ini, aku bisa dibilang
tamak. Biasanya, aku meminum satu pil dulu. Kalau kurasa belum “on”, kuminum
satu lagi. Begitu seterusnya.
Akhirnya,
aku jadi sangat mabuk. Pandanganku pun jadi kabur. Mau melihat arloji di tangan
saja, aku harus mendekatkannya ke wajahku, sambil menggoyang-goyangkan kepala
dan membelalakkan mata supaya bisa melihat dengan lebih jelas. Parah, ya?
Begitulah kebandelanku terus berlangsung.
KECANDUAN
KIAN PARAH
Suatu
hari di tahun 1992, Apih meninggal karena sakit. Aku menyesal bukan main karena
selama ini selalu mengabaikan nasihat Apih. Menjelang kepergiannya, aku berdiri
di samping tempat tidurnya di rumah sakit sambil menangis. Melihatku seperti
itu, Apih mengatakan, laki-laki tak boleh menangis. Laki-laki pantang keluar
air mata. Bayangkan, bahkan di saat-saat terakhirnya pun Apih tetap menunjukkan
sikapnya yang penuh kasih padaku yang durhaka ini.
Sore itu
aku dimintanya pulang ke rumah dan beliau memberiku ongkos. Aku menurut. Begitu
aku pulang, Allah mengambilnya. Aku syok berat. Saat Apih dimakamkan, aku turun
ke liang lahat dan memeluk jasadnya. Aku tak mau beranjak meski makam akan
ditutup. Aku tak mau melepas kepergiannya. Aku menyesali perbuatanku. Selama
Apih masih hidup, aku tak pernah mau mendengarkan ucapannya.
Sejak
itu, Umi membesarkan kami berlima. Hidupku terus berjalan. Bukan ke arah yang
baik, namun aku kembali ke masa seperti dulu. Penyesalan yang sebelumnya begitu
menghantuiku karena ditinggal Apih, seolah lenyap. Kebandelanku bahkan makin
menjadi sepeninggal Apih. Kesombonganku juga lebih besar dari sebelumnya karena
merasa berprestasi dan punya uang banyak. Tak seorang pun kudengarkan lagi
nasihatnya.
Ketika
temanku menasihati, aku mencibir. Siapa dia sampai aku harus mendengarkan
ucapannya? Ucapan orang tua saja tak kugubris. Aku tenggelam dalam duniaku
sendiri dan jadi pecandu narkoba. Waktu itu, aku beralasan karena ada masalah
di rumah. Padahal, sebetulnya alasan apa pun, termasuk broken home atau teman,
tidak bisa dijadikan alasan. Diri sendirilah alasannya, karena bagaimana pun,
kita lah yang menentukan semua yang terjadi pada diri kita.
Jadi,
tidak perlu membawa-bawa orang lain atau keadaan. Namun, kesadaran seperti ini
mana mungkin muncul pada diriku yang waktu itu sangat arogan? Aku makin jauh
dari Tuhan. Padahal, sebelah rumahku ada masjid. Ketika orang berpuasa di bulan
Ramadan pun, aku tetap melakukan kemaksiatan. Lalu, saat Lebaran tiba dan
orang-orang sibuk bertakbir, aku malah sibuk mencari celah waktu dan tempat di
mana aku bisa berbuat maksiat.
Semua
ilmu agama yang pernah kupelajari dan kemampuan membaca Quran seperti hilang.
Akal sehatku seperti hilang. Kecanduanku pada narkoba juga makin parah, bahkan
sampai mengalami over dosis dan aku hampir mati. Kejahatan demi kejahatan moral
terus kulakukan.
NAMA
DICORET
Tak
perlu aku menceritakan detail tentang kejahatan yang kulakukan. Yang jelas,
suatu hari aku merasa menderita karena ketakutan setelah melakukan sebuah
perbuatan. Aku benar-benar ketakutan! Aku jadi gampang curiga pada siapa saja.
Aku selalu berburuk sangka pada apa pun. Kesombonganku pada uang dan prestasi lenyap
digantikan ketakutan. Yang kulakukan setiap hari adalah berdiam diri di kamar,
dengan selalu berpikiran bahwa setiap orang yang datang akan membunuhku. Aku
sibuk mengintip dari bawah pintu, siapa tahu ada orang datang untuk membunuhku.
Telingaku
jadi sangat sensitif. Aku sering merasa mendengar ada orang sedang berjalan di
atap rumah ingin membunuhku. Aku tersiksa selama berhari-hari,
berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Orang-orang mengatakan, aku sudah
gila.
Pada
saat bersamaan, kecanduanku pada narkoba membuatku termasuk dalam daftar hitam
dunia sinetron. Namaku dicoret. Tak ada lagi yang mau memakaiku sebagai pemain.
Selain itu, cewek-cewek yang ada di dekatku juga menjauh. Dulu aku termasuk
playboy.
Di saat
aku sendiri, ada Umi yang selama ini sudah sangat sering kusakiti hatinya. Umi
tetap menyayangiku dengan cintanya yang besar. Seburuk apa pun orang
berkomentar tentang aku, hati Umi tetap baik dan sabar. Air matanya tak pernah
kering untuk mendoakan anak-anaknya, terutama aku agar berubah jadi lebih baik.
Doa
tulus Umi dikabulkan Allah. Sungguh luar biasa, Allah menunjukkan kebaikan-Nya
padaku. Allah memberiku kesempatan untuk bertobat. Kesadaran ini muncul lewat
suatu proses yang begitu mencekamku.
DIAJAK
UMI UMRAH
Sungguh,
aku merasa sangat ketakutan ketika suatu hari bermimpi melihat jasadku sendiri
dalam kain kafan. Antara sadar dan tidak, aku terpana sambil bertanya pada diri
sendiri. Benarkah itu jasadku? Aku juga disiksa habis-habisan. Begitulah,
setiap tidur aku selalu bermimpi kejadian yang menyeramkan. Dalam tidur, yang
kudapat hanya penderitaan. Aku jadi takut tidur. Aku takut mimpi-mimpi itu
datang lagi.
Aku juga
jadi takut mati. Padahal dulu aku sempat menantang maut. Meminta mati datang
karena aku tak sanggup lagi bertahan saat ada masalah dengan seorang cewek.
Sebetulnya sepele, kan? Tapi masalah itu kuberat-beratkan sendiri. Rasa takut
mati itulah yang akhirnya membuatku sadar bahwa ada yang tidak meninggalkanku
dalam keadaan seperti ini, yaitu Allah.
Aku
teringat kembali pada-Nya dan menyesali semua perbuatanku selama ini.
Pelan-pelan, keadaanku membaik. Kesadaran-kesadaran itu datang kembali. Aku
menemui Umi, bersimpuh meminta maaf atas semua dosa yang kulakukan. Umi memang
luar biasa. Betapa pun sudah kukecewakan demikian rupa, beliau tetap menyayangi
dan memaafkanku. Umi lalu mengajakku berumrah.
Dengan
kondisiku yang masih labil dan rapuh, kami berangkat ke Tanah Suci. Kali ini
aku berniat sembuh dan kembali ke jalan Allah. Di sana, aku mengalami beberapa
peristiwa yang membuatku sadar pada dosa-dosaku sebelumnya. Usai salat Jumat di
Madinah, Umi mengajakku ke Raudhoh. Aku tak tahu apa itu Raudhoh, tapi kuikuti
saja. Umi terus meminta ampunan pada Allah.
Aku lalu
keluar, berjalan menuju makam Nabi Muhammad. Aku bersalawat. Begitu keluar dari
pintu masjid, rasanya seperti ada yang menarikku. Aku mencoba berjalan sekuat
tenaga, tapi tak bisa. Kekuatan itu rasanya sangat besar. Aku lalu bersandar
pada tembok. Air mataku yang dulu tak pernah keluar, kini mengalir deras. Aku
menyesali dosa-dosaku, dan berjanji tak akan melakukan lagi semua itu.
Bagai
sebuah film yang sedang diputar, semua dosa yang pernah kulakukan terbayang
jelas di pelupuk mataku silih berganti, mulai dari yang kecil sampai yang
besar. Tiba-tiba dari mulutku keluar kalimat permintaan ampunan pada Allah. Di
Mekkah, di hadapan Kabah, aku merapatkan badan pada dindingnya.
Aku
bersandar, menengadahkan tangan memohon ampun karena terlalu banyak dosa yang
kulakukan. Seandainya sepulang dari Tanah Suci ini melakukan dosa lagi, aku
minta pada Allah untuk mencabut saja nyawaku. Namun, seandainya punya manfaat
untuk orang lain, aku minta disembuhkan. Aku yang dulu angkuh, sekarang tak
berdaya. Setelah pulang beribadah, aku membaik. Aku mencoba bertahan dalam
kondisi bertobat itu, tapi ternyata sulit luar biasa.

(BIDADARI CANTIK JADI
PEMBANGKIT HIDUP)
Setelah berkali-kali jatuh-bangun, akhirnya
Jeffry kembali dekat pada agama. Kasih sayang kekasih yang akhirnya menjadi
istri ikut menjadi pembangkit semangatnya. Perjuangannya menjadi ustaz cukup
berat sampai akhirnya ia sukses jadi penceramah. Sepulang umrah, aku mencoba
hidup lurus. Namun, lagi-lagi aku tergoda. Suatu malam, aku dan teman-teman
berencana nonton jazz di Ancol. Aku
memperingatkan mereka untuk tidak bawa narkoba, karena
kami sudah sepakat untuk berhenti memakai.
Ternyata, salah satu temanku masih saja membawa cimeng. Apesnya, kami dirazia
polisi di depan Hailai.
Teman-temanku yang lain kabur. Tinggallah aku,
temanku yang membawa cimeng, dan satu teman lain. Aku sulit kabur karena mobil
yang kami pakai adalah mobilku. Akhirnya kami bertiga dibawa ke kantor polisi
dan ditahan. Aku dilepas karena tak terbukti membawa. Kucoba telepon Umi untuk
menjelaskan masalah ini, tapi Umi tak mau menerima teleponku.
Si penerima telepon malah diminta Umi untuk
mengatakan, beliau tak anak bernama Jeffry. Hatiku tercabik-cabik. Pedih
rasanya tak diakui sebagai anak oleh Umi. Kuakui, pastilah hati Umi sudah
sedemikian sakitnya. Bayangkan, aku yang sebelumnya sudah mengaku bertobat,
malah kembali memilih jalan yang salah. Meski aku sudah bersumpah demi Tuhan tidak
memakai narkoba lagi, Umi tak percaya lagi. Itulah puncak kemarahan Umi Sungguh
bersyukur, Allah masih berkenan menolongku. Datang seorang gadis cantik dalam
hidupku. Ia mau menerimaku apa adanya. Sebelumnya, banyak gadis meninggalkanku
sehingga aku merasa sebatang kara dalam cinta. Gadis bernama Pipik Dian Irawati
ini seorang model sampul sebuah majalah remaja tahun 1995, asal Semarang.
CUEK SAAT PACARAN
(Berikut ini adalah penuturan Pipik: Aku pertama
kali melihatnya sedang makan nasi goreng di Menteng sekitar tahun 1996 – 1997.
Rambutnya gondrong. Waktu itu, aku bersama Gugun Gondrong. Setahuku, Jeffry
adalah pemain sinetron Kerinduan, karena aku mengikuti ceritanya. Aku ingin
berkenalan dengannya, tapi Gugun melarangku.
Tak tahunya, waktu buka puasa bersama di rumah
Pontjo Sutowo, aku bertemu lagi dengannya. Rambutnya sudah dipotong pendek. Aku
nekat berkenalan. Kami mulai dekat dan saling menelepon. Aku enggak tahu kapan
kami resmi pacaran, karena enggak pernah “jadian”. Dia juga tak pernah menyatakan
cinta. Waktu pacaran, dia cuek setengah mati.
Awalnya, semangatnya boleh juga. Pertama kami pergi
bareng, dia datang ke rumah di Kebon Jeruk, di tengah hujan deras dari rumahnya
di Mangga Dua. Jeffry naik taksi dengan memakai jins dan sepatu bot. Ia yang
hanya bawa uang Rp 50 ribu, mengajakku nonton di Mal Taman Anggrek. Di dalam
bioskop, kami seperti nonton sendiri-sendiri. Dia diam saja selama nonton.
Sejak itu, kami sering jalan bareng, karena kami
memang hobi nonton dan makan. Semakin dekat dengannya, aku makin tahu ternyata
dia pemakai narkoba kelas berat. Teman-temanku mulai bertanya, mengapa aku mau
berpacaran dengannya. Aku sendiri tak tahu persis alasannya. Mungkin rasa
sayang yang sudah terlanjur muncul dalam hati yang membuatku mau bertahan.
Hatiku terenyuh dan tak mau meninggalkan dia sendiri.
Tentu saja keluargaku tak ada yang tahu, karena
sengaja kusembunyikan. Mungkin mereka baru tahu sekarang, setelah membaca kisah
hidupnya di berbagai media. Sementara itu, aku sibuk tur keluar kota sebagai
model, sehingga kami sering tak ketemu. Akhirnya kami putus. Waktu akhirnya
ketemu lagi, ternyata dia sudah punya pacar lagi. Karena masih sayang, aku
sering membawakannya hadiah dan memberi perhatian. Setelah Jeffry putus dari
pacarnya, kami kembali bersatu.)
JUALAN KUE
Pipik sangat berarti buatku. Dia mengerti, peduli
dan perhatian padaku. Padahal, aku sempat hampir menikah dengan orang lain.
Ternyata Allah sayang padaku. Allah menunjukkan, wanita yang nyaris kunikahi
itu bukan untukku. Pipik bagai bidadari yang datang dengan cinta yang besar. Ia
memberi keyakinan, menikah dengannya akan membawa perubahan besar dalam
hidupku.
Aku mendatangi Umi dan minta izin untuk menikah.
Luar biasa, Umi tetap menerimaku dengan segala kasih sayangnya. Sambil menangis,
Umi mengizinkanku menikah. Aku sendiri terbilang nekat. Sebab, waktu itu aku
tak punya-apa. Badan pun kurus kering, dengan mata belok, dan penyakit paranoid
yang kuderita tak kunjung sembuh. Bahkan, pekerjaan pun aku tak punya.
Untuk menghindari maksiat, kami menikah di bawah
tangan pada tahun 1999. Teman-temanku yang sekarang sudah meninggal karena over
dosis, sempat menghadiri pernikahanku. Setelah itu, kami tinggal di rumah Umi.
Sekitar 4 – 5 bulan setelah itu, kami menikah secara resmi di Semarang.
Namun, menikah rupanya tak cukup menghentikan
kebandelanku. Istriku pun merasakan getahnya. Aku pernah memakai narkoba di
depannya, dan menggunakan uangnya untuk membeli barang haram tersebut.
Kesulitan lain, aku dan Pipik sama-sama menganggur.
Pernah kami mencoba berdagang kue. Malam hari kami menggoreng kacang, esok
paginya bikin kue isi kacang dan susu. Lalu kami titipkan ke toko kue.
Tapi mungkin rezeki kami bukan di situ. Kue yang
kami buat hanya laku beberapa buah. Dalam sehari kami hanya membawa pulang Rp
200 – 300. Akhirnya kami berhenti berjualan kue. Kehidupan kami selanjutnya
kami jalani dengan penuh perjuangan sekaligus kesabaran.
MAKAN SEPIRING BERDUA
(Kesetiaan Pipik begitu luar biasa. Simak
penuturannya berikut ini. Perasaan sayang yang sangat kuat membuatku mantap
menikah dengannya. Aku tak peduli lagi meski dia pecandu, bahkan pernah
mengalami over dosis dan hampir gila karena paranoidnya. Aku banyak mengalami
hal-hal luar biasa dengannya. Kalau tidak sabar, mungkin aku sudah tidak bersamanya
lagi.
Awal menikah, kami tinggal di rumah Umi. Meski
hidup seadanya, beliaulah yang membiayai hidup kami. Aku dan Jeffry tak jarang
makan sepiring berdua, karena memang benar-benar tak ada yang bisa dimakan.
Berat rasanya jadi istri dari suami penganggur, apalagi setelah menikah aku
tidak lagi bekerja.
Tapi aku yakin, Allah tidak mungkin memberikan
cobaan pada umat-Nya melebihi kemampuannya. Aku yakin, pasti ada sesuatu yang
akan diberikan Allah padaku. Beruntung, Umi sangat sayang padaku.
Aku sendiri tak jera memberi masukan padanya untuk
mengubah hidup. Kami sama-sama saling belajar menerima kelebihan dan kekurangan
satu sama lain. Pelan-pelan, hidupnya mulai berubah menjadi lebih baik,
terutama setelah aku hamil. Mungkin dia sendiri sudah capek dengan kehidupannya
yang seperti itu.)
HIDUP DI JALAN ALLAH
Pelan-pelan, aku kembali dekat pada agama.
Perubahan besar terjadi dalam hidupku pada tahun 2000. Kala itu, Fathul Hayat,
kakak keduaku yang setengah tahun silam meninggal karena kanker otak, memintaku
menggantikannya memberi khotbah Jumat di Mangga Dua. Pada waktu bersamaan, dia
diminta menjadi imam besar di Singapura.
Fathul memang seorang pendakwah. Selama dia di
Singapura, semua jadwal ceramahnya diberikan padaku. Pertama kali ceramah, aku
mendapat honor Rp 35 ribu. Uang dalam amplop itu kuserahkan pada Pipik.
Kukatakan padanya, ini uang halal pertama yang bisa kuberikan padanya. Kami
berpelukan sambil bertangisan.
Selanjutnya, kakakku memintaku untuk mulai menjadi
ustaz. Inilah jalan hidup yang kemudian kupilih. Betapa indah hidup di jalan
Allah. Aku mulai berceramah dan diundang ke acara seminar narkoba di berbagai
tempat. Namun, perjuanganku tak semudah membalik telapak tangan. Tak semua
orang mau mendengarkan ceramahku karena aku mantan pemakai narkoba. Tapi aku
mencoba sabar.
Alhamdulillah, makin lama ceramahku makin bisa
diterima banyak orang. Bahkan sekarang, aku banyak diundang untuk ceramah di
mana-mana, termasuk di luar kota dan stasiun teve. Aku bersyukur bisa diterima
semua kalangan. Aku pun ingin berdakwah untuk siapa saja. Aku ingin punya
majelis taklim yang jemaahnya waria. Mereka, kan, juga punya hak untuk
mendapatkan dakwah.
Kebahagiaan kami bertambah ketika tahun 2000 itu,
lahir anak pertama kami, Adiba Kanza Az-Zahra. Dua tahun kemudian, anak kedua
Mohammad Abidzan Algifari juga hadir di tengah kami. Mereka, juga istriku,
adalah inspirasi dan kekuatan dakwahku. Kehidupan kami makin lengkap rasanya.
Sampai sekarang, aku masih terus berproses berusaha
menjadi orang yang lebih baik. Semoga, kisahku ini bisa jadi bahan pertimbangan
yang baik untuk menjalani hidup. Pesanku, cintailah Tuhan dan orangtuamu, serta
pilihlah teman yang baik.
WAFAT
Ustad Jeffry Al Buchori menhabiskan nafas terkahirnya pada usia 40 tahun pada hari Jumat tanggal 26 April 2013 pukul 02.00 di RS. Pondok Indah, Jakarta. Uje sendiri meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan motor di Bundaran Pondok Indah.