Thursday, July 21, 2011

Selalu Setia

Tetes hujan yang melambai di kaca jendela ia mencari alamat sungai.
Aku mencari alamat hatimu. Kutemukan telaga: sebuah genangan sunyi,
tanpa ombak tanpa nyanyi, lalu kutenggelam dalam bening puisi. Itulah
yang istimewa tentang dirimu, ketika segayung hujan membasuh telapak
tanganmu, aku terhanyut di situ, lautan teduh dekapanmu. Maka aku
menyamar hujan, memelukmu deras, mencium parasmu dengan kecup rintik
yang tak pernah tuntas.

Di telapak tanganmu aku mengembara tanpa berhenti, menyusuri
garisgaris sungai keberuntunganku. Setiap garis adalah makna.
Membawaku pada muara bernama cinta. Aku di situ melukis sawahsawah
yang menguning dengan jejak hidupku. Rerumputan, ilalang, kenangan,
dan bunga-bunga rindu. Airmata dan semesta. Hujan dan doa.
Membentangkan tenda cahaya tempat kita menghabiskan waktu dan bara.
Setiap bintang adalah karunia. Setiap titik waktu yang aku petik
untukmu.

Aku ingin menulis seperti sebaris embun yang kauselipkan pada seliris
kuntum di bibirmu. Cukup manis walau hanya sebait senyum. Kutahu,
puisi tak selalu tercipta dari kata. Tetapi hanya dengan kata kumampu
menceritakan puisi ini padamu.

Reaksi:

0 komentar:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More