Sunday, July 10, 2011

Lihat ini.. Inikah potret Indonesiaku??


Saya adalah warga negara Indonesia, udah 19 tahun saya numpang di negara ini dan tetap berterimakasih kepada Allah karena saya masih hidup di negara yang aman-aman saja dan dengan rakyat yang selalu bertoleransi tinggi terhadap sesama. Tidak di negara yang lagi perang, di negara yang lagi dijajah, atau di negara yang sedang konflik, atau negara apapun namanya yang mungkin kondisinya saat itu bisa saja mengancam nyawa saya, adik-adik saya, keluarga saya, teman-teman atau lingkungan saya. Ya, saya tetap bersyukur untuk itu 
Tapi, semakin saya tinggal di Indonesia, semakin banyak hal yang membuat saya tercenung sendiri melihat tingkah polah dari kehidupan yang sepertinya memang sulit untuk bisa menyamaratakan diri menjadi negara maju. Sepertinya kata “negara berkembang” itu sudah saya dengar dari saya TK (Taman Kanak-Kanak) hingga kini saat saya akan menjadi sarjana. Oh tidak… yang membuat saya semakin terpuruk ketika ada salah seorang teman saya yang berkata seperti ini “bukankah kata negara berkembang merupakan kata-kata yang paling halus untuk mengganti ungkapan “negara miskin”??Saya terdiam dan berpikir, sepertinya ada benarnya juga, jika tidak, mengapa sampai sekarang negara saya tidak pernah mengganti “status” nya sedikit lebih tinggi.
Benar teman, saya semakin melihat apa yang terjadi di Indonesia, semakin jauh dari harapan pembangunan yang ideal. Mungkin potret-potret kehidupan di bawah ini yang dapat mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi di negara ini. Saya kira, potret-potret kehidupan ini menjadi saksi bisu yang paling jujur akan semua ketidakjelasan mimpi dan masa depan yang semakin suram.
Pertanyaan yang paling mendasar adalah “kapan semua ini akan berubah?”
“kapan kita akan terus melihat potret-potret ini?” “tidak ter-iris-kah hati kita melihat ini di sekitar kita?”
Negara ini memerlukan perubahan, negara ini membutuhkan orang yang mampu untuk merubah ini semua. Tuhan tidak akan pernah mau ngubah nasib suatu bangsa, kalau bangsa itu sendiri ga ada usaha untuk mengubah. Kita selaku generasi muda, ini tantangan untuk kita melakukan perubahan tersebut. Mungkin banyak saat ini ingin mengubah negara, tapi dia lupa untuk mengubah diri sendiri. Kita harus punya inovatif dan visioner melihat keadaan ini. Setidaknya kita lakukan apa yang mampu kita lakukan dimulai dari sendiri, dan lakukan ini sekarang. Jangan pernah takut akan hasil yang kita raih, karena Tuhan selalu menilai apapun yang telah kita kerjakan. Dan itu tidak akan luput dari penilaian-Nya. Berikan sumbangsih terbaikmu untuk negeri ini, Kawan. Negara kita merindukan sosok-sosok pengubah itu. Berikan sedikit, Kawan… walaupun itu kecil… 

Cinta Itu Tak Terlihat


Kenapa kita menutup mata ketika kita tidur ,ketika kita menangis ,ketika kita membayangkan ? Itu karena hal terindah di dunia ini TIDAK TERLIHAT…
Ketika kita menemukan seseorang yang keunikannya SEJALAN dengan kita, kita bergabung dengannya dan jatuh ke dalam suatu keanehan serupa yang dinamakan CINTA.
Ada hal-hal yang tidak ingin kita lepaskan. Orang-orang yang tidak ingin kita tinggalkan… Tapi ingatlah…melepaskan BUKAN akhir dari dunia, melainkan awal suatu kehidupan baru. Kebahagiaan ada untuk mereka yang menangis, mereka yang tersakiti, mereka yang telah mencari…dan mereka yang telah mencoba. Karena MEREKALAH yang bisa menghargai betapa pentingnya orang yang telah menyentuh kehidupan mereka…
CINTA yang AGUNG
Adalah ketika kamu menitikkan air mata dan MASIH peduli terhadapnya,
adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu MASIH menunggunya dengan setia,
adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan kamu MASIH bisa tersenyum sembari berkata ‘Aku turut berbahagia untukmu’.

Apabila cinta tidak berhasil…BEBASKAN dirimu… biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya dan terbang ke alam bebas LAGI.
Ingatlah…bahwa kamu mungkin menemukan cinta dan kehilangannya, tapi ketika cinta itu mati, kamu TIDAK perlu mati bersamanya…
Orang terkuat BUKAN mereka yang selalu menang, MELAINKAN mereka yang tetap tegar ketika mereka jatuh.
Entah bagaimana dalam perjalanan kehidupan, kamu belajar tentang dirimu sendiri dan menyadari bahwa penyesalan tidak seharusnya ada.
HANYALAH penghargaan abadi atas pilihan-pilihanan kehidupan yang telah kau buat.
MENCINTAI…
BUKANlah bagaimana kamu melupakan, melainkan bagaimana kamu MEMAAFKAN, BUKANlah bagaimana kamu mendengarkan, melainkan bagaimana kamu MENGERTI, BUKANlah apa yang kamu lihat, melainkan apa yang kamu RASAKAN,
BUKANlah bagaimana kamu melepaskan, melainkan bagaimana kamu BERTAHAN.
Lebih berbahaya mencucurkan air mata dalam hati, dibandingkan menangis tersedu-sedu.
Air mata yang keluar dapat dihapus, sementara air mata yang tersembunyi menggoreskan luka yang tidak akan pernah hilang.
Dalam urusan cinta, kita SANGAT JARANG menang..
Tapi ketika CINTA itu TULUS, meskipun kalah, kamu TETAP MENANG hanya karena kamu berbahagia dapat mencintai seseorang…LEBIH dari kamu mencintai dirimu sendiri.
Akan tiba saatnya dimana kamu harus berhenti mencintai seseorang BUKAN karena orang itu berhenti mencintai kita, MELAINKAN karena kita menyadari bahwa orang itu akan lebih berbahagia apabila kita melepaskannya.
Apabila kamu benar-benar mencintai seseorang, jangan lepaskan dia, jangan percaya bahwa melepaskan SELALU berarti kamu benar-benar mencintai.
MELAINKAN…BERJUANGLAH demi cintamu.
Itulah CINTA SEJATI.
Lebih baik menunggu orang yang kamu inginkan DARIPADA berjalan bersama orang ‘yang tersedia’. Kadang kala, orang yang kamu cintai adalah orang yang PALING menyakiti hatimu dan kadang kala, teman yang menangis bersamamu adalah cinta yang tidak kamu sadari.

Berpikir Cara Einstein


Einstein adalah genius terbesar abad ke-19. Dia bukan saja membawa pengetahuan manusia ke “dunia mikro” dalam atom-atom, melainkan juga ke “dunia makro” dalam galaksi. Dia meninggalkan banyak hal yang membuat alam semesta ini dapat dipahami.
Menurut Scott Thrope (2002: 25-27), cara berpikir Einstein yang genius itu dapat disusuri dalam 4 tahap :
1. Menemukan masalah yang tepat
Carilah masalah yang memiliki kemungkinan jawaban. Bahkan, kalau perlu ciptakanlah masalah itu.
2. Memecahkan polanya
Lampauilah aturan-aturan yang baku, yang membuat seseorang terikat jawabannya. Pecahkan pola yang selama ini dipakai. Jangan takut bila pemecahan pola tersebut bertentangan dengan ide umum.
3. Melanggar aturan
Pemecahan pola akan membuat pelanggaran aturan. Aturan baku yang selama ini dipegang harus berani dilanggar. Dalam berpikir, pola-pola baru harus lahir. Dan itu hanya dapat terjadi jika seseorang berani melanggar aturan. Dalam berpikir, pembangkangan ide umum itu bukanlah hal yang salah.
4. Tumbuhkanlah solusi
* Tumbuhkanlah ide-ide hebat
* Sabar dan tunda penilaian
* Abaikan fakta-fakta yang tak menyenangkan
* Tantanglah para ahli

Misteri Yang Mainkan Rasa


inta adalah ketika kamu membawa perasaan,
kesabaran dan romantis dalam suatu hubungan
dan menemukan bahwa kamu peduli dengan dia.
Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu.
Hanya untuk menemukan bahwa pada akhirnya menjadi
tidak berarti dan kamu harus membiarkannya pergi
Kadang Tuhan yang mengetahui yang terbaik,
akan memberi kesusahan untuk menguji kita.
Kadang Ia pun melukai hati, supaya hikmat-Nya dapat
tertanam lebih dalam.
Jika kita kehilangan cinta, maka pasti ada alasan di baliknya.
Alasan yang kadang sulit untuk dimengerti
namun kita tetap harus percaya bahwa ketika
Ia mengambil sesuatu,
Ia telah siap memberi yang lebih baik.
Mungkin Tuhan menginginkan kita untuk bertemu
dengan orang yang tidak tepat sebelum bertemu.
Jadi ketika kita akhirnya bertemu dengan orang yang tepat,
kita akan tahu betapa berharganya anugerah tersebut.
Mengapa Menunggu ?????
Karena walaupun kita ingin mengambil keputusan,
Kita tidak ingin tergesa-gesa.
Karena walaupun kita ingin cepat-cepat, kita tidak ingin sembrono.
Karena walaupun kita ingin segera menemukan orang yang kita cintai,
kita tidak ingin kehilangan jati diri kita dalam pencarian itu.
Jika ingin berlari, maka belajarlah berjalan dahulu
Jika ingin berenang, maka belajarlah mengapung dahulu
Jika ingin dicintai, maka belajarlah mencintai dahulu
Pada akhirnya….
Lebih baik menunggu orang yang kita inginkan,
ketimbang memilih apa yang ada.
Tetap lebih baik menunggu orang yang kita cintai,
ketimbang memuaskan diri dengan apa yang ada.
tetap lebih baik menunggu orang yang tepat,
karena hidup ini terlampau singkat untuk dilewatkan
bersama pilihan yang salah
karena menunggu mempunyai tujuan yang mulia dan misterius.
Perlu kau ketahui bahwa Bunga tidak mekar dalam waktu semalam,
Kota Roma tidak dibangun dalam sehari,
Kehidupan dirajut dalam rahim selama sembilan bulan,
Cinta yang agung terus bertumbuh selama kehidupan.
Kebanyakan hal yang indah dalam hidup memerlukan waktu yang lama,
Dan penantian kita tidaklah sia-sia.
Walaupun menunggu membutuhkan banyak hal (iman, keberanian dan pengharapan)
Tapi penantian menjanjikan satu hal yang tidak dapat seorang pun bayangkan.
Pada akhirnya……
Tuhan dengan segala hikmat-Nya meminta kita menunggu,
pasti…karena alasan yang penting.
semua indah pada masanya!!!!
semoga bermanfaat…terutama untuk diri kami pribadi

Belajar dari Ali dan Fatimah


hehehe.. ini hasil copasan lagi, tapi setidaknya ini lagi-lagi bisa mendatangkan banyak manfaat bagi teman-teman sekalian 
Kisah pertama ini diambil dari buku Jalan Cinta Para Pejuang, Salim A.Fillah
chapter aslinya berjudul “Mencintai sejantan ‘Ali”
Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.
Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!
‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.
”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.
Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.
Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.
Lihatlah berapa banyak budak Muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insya Allah lebih bisa membahagiakan Fathimah.
’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. ”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.
”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”
Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.
Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.
Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum Muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh- musuh Allah bertekuk lutut.
’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..”
Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah. Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi.
’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!” ’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha.
Cinta tak pernah meminta untuk menanti.Ia mengambil kesempatan.Itulah keberanian.Atau mempersilakan.Yang ini pengorbanan.
Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak.
Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarderkah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.
Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adzkah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?
”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.. ”
”Aku?”, tanyanya tak yakin.
”Ya. Engkau wahai saudaraku!”
”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”
”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”
’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.
”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan- pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya. Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.
Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.
”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”
”Entahlah..”
”Apa maksudmu?”
”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”
”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,
”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya !”
Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan ke kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.
Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti.
’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!” Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.
Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda ”
‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu?”
Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”
Kemudian Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus Fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut.”
Kemudian Rasulullah saw. mendoakan keduanya:
“Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak.” (kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183, bab4)

Ini mengenai kejujuran, Kawan!


Jujur, apakah kau yakin di dunia ini masih ada orang yang bisa jujur?
Aku yakin, di antaranya masih banyak orang yang bisa jujur.
Setidaknya jujur dengan hati kecilnya sendiri.
Yaitu aplikasi bentuk dari jujur terhadap dirinya sendiri.
Jarang aku bisa menemukan itu
Oleh sebab inilah, kenapa Tuhan tidak pernah memberikan kelebihan kepada manusia untuk bisa mengetahui isi orang lain.
Karena kalau semua orang bisa jujur di dunia ini, mungkin tidak akan ada lagi “hukum” di dunia ini.
Kan hukum dibuat bagi mereka yang melanggar? Bukankah mereka melanggar karena mereka tidak jujur?“, begitu sahut pelangi.
Seperti melukai diri sendiri dan mengobatinya sendiri.
Itu yang kurasakan setiap aku dengan mudahnya (mungkin) menangkap ketidakjujuran yang diselayangkan lewat wajah ataupun tingkah laku yang berusaha seambigu mungkin dengan hati.
Walau berpura-pura tidak tahu.
Tetapi hati tetap tidak bisa dibohongi.
Begitupun aku selalu menghargai jika seseorang, siapapun itu bisa jujur, apalagi dengan hatinya sendiri.
Akupun sebenarnya bukan makhluk yang suci, Kawan!
Aku cuma manusia biasa yang selalu berusaha untuk terus jujur.
Aku juga mungkin di masa lalu pernah tidak jujur.
Tapi sekali lagi, karena aku tahu bagaimana rasanya efek dari sesuatu ketidak jujuran itu.
Akhirnya aku memutuskan mulai belajar untuk terus jujur.
Hingga ini bisa menjadi kebiasaanku terus menerus.
Efek itu, Kawan!
Efek itu yang membuatku tak berani untuk tidak jujur.
Ketika sekali kau berbohong.
Kau akan kehilangan kepercayaan yang diberikan orang lain kepadamu.
Kepercayaan…
Sekali kau kehilangan itu, kau tidak akan pernah mendapatkannya lagi.
Sama saja jika keadaannya kau yang kehilangan kepercayaan dari seseorang, ataupun seseorang yang membuatmu kehilangan kepercayaan itu.
Tidak ada istilah “berkurangnya kepercayaan”.
Karena walaupun berkurang, itu berarti sama saja dengan kau tidak percaya lagi. Walaupun tidak sepenuhnya.
Karena bagiku sekali sudah tidak percaya, maka untuk dapat percaya lagi… itu sulit.
Tapi, kau harus bisa menghargai orang yang bisa mempercayai kejujuranmu.
Karena sekarang tak semudah itu, Kawan!
Terkadang dari mereka tidak bisa membedakan mana yang jujur atau tidak.
Terlalu tipis perbedaan di antara keduanya.
Hanya dengan mengikuti kata hati kau akan merasakan apakah itu sebuah kejujuran atau tidak.
Betapa sakit rasanya jika kau ternyata sudah jujur, tapi malah mereka mengatakan bahwa kau belum jujur.
Apakah jujur itu membutuhkan suatu aura, seperti rasa simpatik yang langsung bisa membuat orang percaya dengan kondisi yang mungkin itu hanya sebuah kamuflase sikap? Siapa yang bisa benar-benar tahu tentang hal itu? Kecuali Tuhan dan hatinya sendiri?
Untuk itu teman makanya kukatakan. kau harus mengapresiasi orang-orang yang menghargai kejujuranmu.
Jarang-jarang di dunia ini kau akan mendapatkan orang yang seperti itu.
Hidup itu penuh dengan keseimbangan bukan?
termasuk kejujuran, untuk memberi dan menerima 

Seulayang


ku berpikir mungkin kehidupan seperti layangan.
Layangan yang tampak indah, diterbangkan tinggi dengan untaian tali yang panjang.
Aku mengibaratkan itu seperti pengharapan tinggi dari setiap orang.
Aku yakin, seburuk atau sebodoh apapun seseorang, dalam dirinya pasti memiliki ekspektasi yang tinggi.
Tergantung kembali, apakah itu menurut realita ataupun hanya sekedar angan di siang hari.
Ketika layangan sampai di atas langit yang membiru.
Saangaat cantikk…
Ya cantik dan dikagumi oleh banyak mata yang memandang.
Tapi itu ketika dia sedang berada di atas sana Kawan!
Layangan di kala senja
Hmm, tak pernah ada yang tahu.
Apa yang sesungguhnya terjadi di atas sana?
Layangan itu sendiri.
Dia hanya berusaha kuat dari tekanan angin yang datang dari berbagai arah.
Hanya ada tali pengontrolnya, tapi tak selamanya bisa begitu.
Layangan harus berhadapan dengan angin dan cuaca yang menekannya selama ini.
Hanya ada dua pilihan.
Jika ia tak mampu bertahan, dia akan jatuh, robek bahkan terputus.
Berusaha sendiri, menahan sendiri, dan mengalaminya sendiri.
Toh, angin dan cuaca itu hanya mampu menjadi tekanan kan??
Hanya hadir sesuai dengan keinginan mereka.
Jika mereka baik, di situ layangan akan naik.
Jika mereka sedang “ngambek” bisa-bisa layangan pun hancur dibuatnya.
Hanya hal bodoh jika berharap bahwa angin dan cuaca akan mengerti layangan, ahaha… 
Apalagi jika petir datang, rimba layangan pun seperti hilang kelam.
Ketika layangan berada di atas awan
Apakah ada layangan yang berada di tempat tertinggi tanpa putus dari talinya?
Seulayang… kasihan dirimu..
Kalaupun ada, hanya akan ada satu atau dua saja.
Selebihnya mungkin hanya terbang rendah.
Jatuh itu pasti sakit, apalagi ketika jatuh tanpa tahu akan jatuh dari ketinggian berapa, ataupun di mana akan terjatuh.
Saat ini, siapa yang akan peduli terhadap layangan yang akan jatuh?
Tidak ada…
Ribuan mata yang memandang tadi menghilang dan berganti ke arah layangan yang lain.
Cemaskah mereka ke mana layangan itu jatuh?
Sepasang mata yang melihat ke arah layangan yang tinggi
Hanya ada sepasang mata kesedihan dan cemas melihat ke mana rimbanya layangannya akan terjatuh.
Dia hanya berusaha untuk mengejar agar layangan itu dapat kembali untuknya.
Yang lainnya mungkin mengejar.
Tetapi lebih sebagai permainan siapa yang duluan mendapatkan layangan itu.
Ya hanya sebagai permainan.
Layangan itu hanya perlu dilepas sejenak, ketika angin baik dan hari mulai kembali cerah.
Dia tidak ingin terbang terlalu tinggi.
Cukup tinggi saja.
Tidak perlu hingga membuat hati si empunya menjadi cemas karena kejatuhannya, atau kejatuhan itu malah menyakiti diri sendiri.
Asalkan bisa memberikan senyuman ketenangan dan kebahagiaan bagi pemiliknya, itu saja sudah cukup.
Karena, itulah kebahagiaan, bagaimanapun kondisi yang engkau terima, ketika suatu kondisi itu tetap kau syukuri tanpa harus kau kesal karena tertahan dengan tekanan di dalamnya hanya untuk menjadi tinggi. Itu tidak perlu.
Jadilah diri yang membuatmu bahagia.
Karena akan ada cerita lain yang muncul, ketika kau tidak bahagia.
Hidup hanya sekali, jadi berbahagialah, Kawan ! 
Layangan bebas :)

Manusia


anusia hidup, ga akan pernah lepas dengan manusia yang lain.
Manusia memang punya Tuhan yang satu, yang menciptakan bumi satu untuk semua manusia.
Gitu juga dengan kehidupan, kita ga bisa memaksakan diri kita untuk hanya menjadi diri sendiri, semau kita, tanpa memperhatikan sikap yang lain yang ada di sekeliling kita.
Tapi, aku menemukan satu kata yang paling sering manusia ucapkan tapi paling sering lupa untuk diterapkan. Ya, kata-kata “menghargai”. Telingaku bosan untuk mendengarkan kata-kata ini dari setiap mulut orang-orang yang berbeda jenisnya. Dari seorang yang kecewa karena orang yang dicintai ternyata tidak pernah bisa untuk menghargai dirinya. Dari seorang anak yang kecewa dengan sikap orang tua yang tidak bisa menghargai apa yang diinginkan oleh anaknya. Dari rakyat yang kecewa terhadap pemimpin karena pemimpin tidak pernah bisa menghargai apa yang diinginkan rakyat. Jadi, apa guna negara ini menerapkan pelajaran moral pancasila dan aqidah akhlak yang diajarkan dari TK dengan tema“Saling menghargai”. Saya bisa jamin, kalau pun di negeri ini dilakukan penelitian presentase orang yang bisa saling menghargai satu sama lain, itu ga akan melebihi dari setengah jumlah populasi manusia.
from banjarkuumaibungasnya.blogspot.com
Manusia, punya satu sifat “ingin dihargai”. Mungkin, karena ia berpikir, ia adalah ciptaan yang diciptakan lebih sedikit “unggul” dibandingkan dengan makhluk yang lain. Ya, karena ada “pikiran” yang membuat manusia bisa menjadi manusia yang rendah hati atau bisa jadi sombong setengah mati, ataupun menjadi manusia yang mengerti untuk berbagi atau bisa jadi egois hanya untuk “diri sendiri”. Dan menjadi manusia, kebanyakan hanya “ingin dihargai” tanpa adanya sikap kooperatif untuk bisa menghargai. Jadi wajar saja jika sekarang banyak kekecewaan yang terjadi. Kau pasti tau lah, kau kan manusia juga. Jadi jika kau tidak pernah bisa menghargai orang lain yang ada di sekitarmu, jangan pernah berharap untuk bisa dihargai. Di situlah efek kekecewaan akan banyak muncul, karena kecewa kebanyakan berasal dari tidak dihargainya seseorang terhadap orang lain.
from ragnafox.name
Aku yakin, jumlah manusia yang kurang dari setengah populasi manusia itu, yang selalu berusaha untuk bisa memahami dan menghargai orang lain, selalu mendapatkan lebih banyak tantangan dibandingkan orang yang hanya ingin dihargai. Betapa tidak, mereka harus bertarung dengan diri mereka sendiri untuk bisa menepis jika ada keinginan mereka untuk bisa dihargai walaupun sedikit saja untuk saat ini. Mereka berusaha untuk menekan ego mereka, hanya untuk bisa belajar menghargai orang lain. Mereka siap jika untuk saat ini harus tertekan lebih dulu karena sikap di sekitar yang memang tidak banyak yang ingin seperti mereka. Mereka adalah manusia yang masih percaya dengan kata-kata “ jika aku bisa menghargai orang lain, orang lain pun akan bisa menghargai aku”. Bukankah apa yang kita lakukan di dunia, juga akan berbalas di dunia? Jika pun tidak, di akhirat juga tidak akan sia-sia.
from b2w-indonesia.or.id.
Terlalu banyak tuntutan di dunia ini, Kawan! Ya tuntutan yang diberikan hanya kepada orang lain, dan bukan tuntutan yang diberikan kepada diri sendiri terlebih dahulu. Bodohnya manusia, walaupun diberikan pikiran. Untuk penempatan kehidupan, masih saja sering salah. Ya, karena manusia sering lupa, Tuhan itu ga ciptain manusia hanya dengan pikiran, tapi juga dengan hati. Lantas, mengapa selama manusia hidup jarang sekali ada yang dapat menyelaraskan keduanya? Yang harus diingat, mungkin manusia memang diciptakan lebih sempurna dibandingkan dengan makhluk yang lain. Tetapi tetap saja, karena manusia berbentuk ciptaan, manusia juga tidak akan menjadi makhluk yang sempurna. Saat ini, jika memang ingin dihargai, maka berusahalah dahulu untuk bisa menghargai orang lain. Dimulai dari saat ini, dan dimulai dari diri sendiri. Hanya kepada Tuhan kau tak akan pernah kecewa, karena Tuhan selalu menghargai segala apapun yang telah kau lakukan. Termasuk usaha untuk terus bisa memahami orang lain, Tuhan tidak akan pernah menyia-nyiakan usaha yang telah kau lakukan itu. Karena Tuhan tidak akan pernah amnesia terhadap hamba-Nya, walaupun hamba-Nya sering amnesia kepada-Nya, hehe.. 
from buderball.blogspot.com.

Teruntuk kalian yang pernah hadir di hidupku


da yang sudah berubah tapi tak bisa aku ungkapkan lagi.
Aku tak tahu sejak kapan ini mulai lain, tetapi tetap saja aku tak dapat mengungkapkannya.
Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Mungkin aku, mungkin mereka.
Tetapi, aku hanya berpikir, mungkin Tuhan tidak mengabulkan doaku untuk kali ini.
Ya karena aku yakin, untuk masalah ini, Tuhan sepertinya selalu membuat aku untuk menunggu.
Tapi Tuhan, aku hanya pinta padamu.
Aku tahu Kau membuat aku untuk bersabar, aku tahu Kau memberiku hikmah di balik ini.
Tapi apakah aku belum cukup disadarkan oleh laman hitam yang pernah ada di hidupku?
Atau aku adalah manusia keras kepala sehingga Kau harus menyadarkanku berulang.
Aku memang bodoh, Tuhan…
Tuhan, Kau tetap satu-satunya Tuhanku yang tidak pernah mengecewakanku, walaupun terkadang aku masih sering mengecewakan-Mu.
Tuhan, kali ini aku hanya meminta satu. Walau aku tahu, jika ku minta waktu untuk berulang, itu tidak akan pernah mungkin terjadi.
Aku hanya ingin semuanya seperti dulu…
Aku yang seperti dulu, dan mereka yang seperti dulu.
Itu saja, Tuhan…
Teruntuk kalian yang pernah hadir di hidupku
Aku ingin membahagiakan kalian, dengan cara yang aku bisa.
Teruntuk kalian yang pernah hadir di hidupku.
Aku merindukan kalian dan aku menyayangi kalian 
Aku hanya tidak ingin ada sisi yang hilang di antara kita, hingga sisi itu tidak lagi bertautan satu sama lain 

Pertama dan Terakhir


Menjadi yang pertama tidak selamanya bagus.
Menjadi yang pertama, ya mungkin kau akan menjadi yang pertama dalam sebuah pengalaman.
Pengalaman yang baik atau burukkah itu.
Menjadi yang pertama, kau akan mengecap segala rasa kehidupan, yang belum tentu orang akan merasakannya lebih dulu.
Tetapi yang harus kau ingat, menjadi yang pertama belum tentu menjadi yang terbaik.
Terkadang ketika kau menjadi yang pertama, kau akan dianggap sebagai contoh.
Jika kau menjadi contoh yang baik, maka orang akan memuja dan mengikutimu.
Menjadi contoh yang tidak baik, kau hanya dikenang sebagai sesuatu yang buruk.
Menjadi yang pertama tak ubahnya sebagai bahan eksperimen, bahan coba-coba.
Tetapi berbanggalah menjadi yang pertama.
Tanpa ada yang pertama…
Mustahil akan ada manusia di dunia ini, mustahil adanya awal kehidupan di bumi ini.
Mustahil kau akan mengenal kakakmu yang bisa menjadi sandaran untuk keluh kesahmu.
Mustahil kau mengetahui awal rasanya cinta, rasanya bahagia pertama sekali, rasanya disakiti lebih dulu, dan sebagainya.
Mustahil kau mempunyai guru yang bernama pengalaman.

from andy-oyex.co.cc
Tetapi menjadi yang terakhir….
Bukanlah sesuatu yang buruk.
Menjadi yang terakhir tidak selamanya tidak mendapatkan apapun lagi.
Berbanggalah menjadi yang terakhir.
Yang terakhir seringkali menjadi hasil dari suatu proses.
Yang terakhir seringkali menjadi yang terbaik.
Yang terakhir selalu menjadi pencapaian yang dinanti.
Tanpa yang terakhir…
Pasti tidak akan ada Nabi Muhammad SAW di dunia ini.
Tidak akan ada Al-Quran ataupun Islam.
Dan jika tiada langkah yang terakhir dalam mencoba, mungkin kau tak kan pernah mengenal kata “berhasil”.
Kesemuanya hasil yang baik, bukan?
Untuk beberapa sisi kehidupan, aku menginginkan menjadi yang pertama atau yang terakhir.
Mungkin untuk tanggal 5 sebagai tanggal kelahiranku, aku x sering mendapat kejutan karena tanggal itu adalah bulan ganjil hehe 
Menjadi anak yang pertama, kaka kuw menjadi anak yang lebih dulu mendapat pengalaman hidup dan akan menjadi pengganti ayah dan ibuku di keluarga.
Menjadi yang pertama di kelas, banyak yang akan salut padamu.
Dan masih banyak hal indah ketika kau menjadi yang pertama.
Tapi untuk beberapa sisi, aku berharap aku bisa menjadi yang terakhir, terutama untuk masalah hati.
Mungkin karena sampai saat ini aku sering dijadikan sebagai yang pertama.
Senangnya menjadi yang pertama, karena kau akan mendapatkan cinta lebih awal dibanding yang lainnya.
Jarang sekali kau akan mendengar kata cemburu, karena kau adalah orang pertama di hati mereka.
Tetapi, menjadi yang pertama itu tidak enak.
Kau akan dijadikan sebagai pengalaman ketika mereka meninggalkanmu dan mencari hati yang lain.
Lagi-lagi kau akan dijadikan bahan eksperimen.
Kau hanya akan menjadi orang yang mendapatkan manis di awal dan pahit di akhir.
Kau hanya akan dijadikan sejarah di awal kehidupan mereka mengenal cinta.
Menjadi yang terakhir, ini yang diharapkan oleh semua orang, bukan hanya aku.
Menjadi yang terakhir untuk dicintai seseorang, menjadi yang terakhir yang dipilih seseorang untuk hidup bersama dan menghabiskan sisa hidup mereka bersama-sama.
Menjadi yang terakhir, mungkin kau akan sedikit lebih banyak cemburu, karena banyak pengalaman sebelumnya mengenai hati yang mendahului datangnya hatimu.
Kau harus bangga menjadi yang terakhir, karena kau menjadi pilihan terakhir dalam hidup seseorang.
Menjadi sesuatu yang ditunggu kedatangannya oleh hati yang selalu menunggu dengan kesabaran.

from alinsarticle.blogspot.com
Tetapi, untuk masalah hati ada yang lebih berbahagia daripada sekedar menjadi yang pertama atau yang terakhir.
Ya, dialah yang menjadi yang pertama dan terakhir, bukan “atau” tapi “dan”.
Berbahagialah engkau yang telah dipilih untuk itu.
Sangat jarang manusia di bumi mendapatkan pilihan ini.
Baik untuk dicintai maupun mencintai.
Hmm.. Tapi, Kawan…
Tetaplah bersyukur dengan keadaanmu sekarang
Siapapun engkau,berbahagialah telah menjadi dirimu saat ini.
Karena siapapun engkau, akan tetap merasakan menjadi yang pertama dalam hidup seseorang dan menjadi yang terakhir bagi hidup seseorang.
Bersabarlah untuk waktu dan segalanya 

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More