Sunday, July 10, 2011

Autumn in My Heart


Ini adalah film korea pertama yang saya tonton, dan saya menyukai film ini. Tapi berhubung kisahnya Sad Ending saya berusaha untuk tidak terlalu menyukainya. Jujur, hati saya ga enakan kalo harus berakhir sedih melulu. Rasanya waktu terbuang aja pas nonton film yang ujung-ujungnya “ee..tokohnya utamanya meninggal”. Beu… ya walaupun itu pemikiran saya waktu SMA. Tapi seiring bertambah tuanya umur saya, (haha.. sebenarnya saya belum mau dibilang tua sih, walaupun dari beberapa teman saya suka banget ngomong untuk diri sendiri kalau dia tua, kwkwkw …), saya mengerti ternyata ada beberapa pelajaran yang bisa diambil dari film ini.
Oke , lanjut aja.. Film ini judulnya Endless Love, tapi nama lain dari film ini adalah Autumn in My Heart. Waduw, walaupun punya dua judul tapi sama film. Tetap aja makna dari keduanya itu sama-sama “dalem” banget.
Berikut ini adalah sinopsis singkat tentang film ini.
drama seri yang menuturkan pergulatan cinta yang awalnya bermula dari jalinan kasih kakak-beradik. Mengikuti drama percintaan yang lain, serial Endless Love ini merupakan drama favorit di negeri asalnya. Cerita bersambung ini mengharu-biru Anda dengan kisah cinta yang sangat menyentuh hati.
Dikisahkan tentang Yun Joon Suh (Song Seung Hun) dan Eun Suh (Song Hye Kyo) dibesarkan sebagai kakak beradik selama 14 tahun sampai munculnya sebuah fakta yang mengejutkan keluarga mereka. Ternyata Eun Suh bukan adik perempuan kandung Joon Suh melainkan anak orang lain yang tertukar ketika masih bayi.
Peristiwa tersebut terjadi gara-gara bocah lelaki cilik Joon Suh secara tidak sengaja memainkan label nama dalam ruang bayi di rumah sakit tempat adik perempuan Joon Suh dilahirkan.
Akibatnya Eun Suh yang seharusnya berada di keluarga Choi, jadi dipelihara oleh keluarga Yun yang merupakan keluarga berada. Sedangkan adik perempuan asli Joon Suh, Shin Ae (Han Chae Young) dipelihara keluarga Choi yang miskin. Kekeliruan tersebut tanpa sengaja terungkap ketika Eun Suh mengalami kecelakaan pada usia 14 tahun.
Begitu terungkap, kehidupan Eun Suh dan Shin Ae berubah total. Shin Ae yang akhirnya kembali ke pelukan keluarga Yun dan Joon Suh pun dibawa oleh ayah-ibunya ke Amerika Serikat. Sedangkan Eun Suh ditinggalkan di Korea pun terpaksa membanting hidup untuk menyambung hidupnya.
Joon Suh yang telah menginjak usia dewasa dan bertunangan dengan seorang wanita sesama seniman, Shin Yoo Mi (Han Na Na), tanpa sengaja bertemu lagi dengan Eun Suh di sebuah hotel. Eun Suh kini bekerja di sebuah hotel milik sahabat Joon Suh, Hun Tae Suhk (Won Bin).
Pertemuan Joon Suh dan Eun Suh ternyata mendatangkan kesulitan di kemudian hari. Sebab mereka akhirnya menyadari bahwa cinta kasih di antara mereka tidak lagi merupakan kasih kakak beradik melainkan telah berubah menjadi cinta antara pria dan wanita.
Namun mereka juga menyadari tidak mudah mewujudkan hal tersebut sebab Joon Suh telah punya tunangan. Tidak hanya itu, Eun Suh pun dicintai Tae Suhk. Bahkan pergulatan cinta di antara mereka bertambah rumit, ternyata Shin Ae tergila-gila kepada Tae Suhk.
Nah yang benar-benar kasihan adalah ternyata Eun Suh menderita penyakit keturunan yang ia dapatkan dari ayahnya, yaitu Leukemia (kanker darah). Hal ini menjadi pukulan besar bagi Joon Suh. Meski bagaimanapun, Joon Suh tetap mencintai dan menemani Eun Seuh hingga akhir hayatnya.
Malang tak dapat ditolak. Dan mungkin inilah yang dikatakan sebagai Endless Love. Ketika sang kakak Joon Seuh sangat terkejut menerima berita tentang kematian adiknya dan hendak pergi menghadiri pemakaman Eun Suh, di tengah perjalanan ia mengalami kecelakaan hingga ia pun tewas pada kecelakaan tersebut.
Wew, inilah sinopsis singkat dari film ini. Aslinya saya malas untuk ingat-ingat ceritanya di ending itu, karena memang sedih. Yah akhirnya kakak beradik itu meninggal, sedangkan cowok yang suka ke si Eun Suh, dia bunuh diri ke laut dengan cara menenggelamkan diri, karena mungkin dia berpikir tidak bisa mendapatkan cinta yang lain selain dari Eun Suh, dan mungkin dia ngerasa gak ada artinya lagi dia hidup di bumi (ekh, dasar… cowok bodoh.. benar-benar gejala depresi nie orang -_-”
Nah yang bagusnya itu, tunangan si Joon Seuh. Setelah Joon Seuh tiada, ya walaupun dia masih susah setengah ampun untuk ngelupain itu doi, tapi dia mampu untuk bangkit kembali. Alhasil, dia menjadi orang yang sukses dan mempunyai anak-anak yang lucu, tapi saat ini saya kagak ingat banget si cewek ini ntar profesinya sebagai apa. Maklum film ini udah lama banget saya nonton, jadi kalau ada lupa atau gimana, ya dimaklumi saja, heheh 
Hmm… aslinya selain karena alasan di atas. yang saya suka dari film ini, ya tokoh Kak Joon Suh nya. Ya ampun , selain dia orang yang baik, sosok Kak Joon SUh benar-benar melindungi banget, yah selain :cool dan jaim, kwkwkkw…
Yeah, namanya juga film. Ini ada beberapa lagi koleksi foto khusus untuk film ini, hitung-hitung bisa buat pembaca semua tahu, paling tidak sebagai informasi untuk menambah pengetahuan alur cerita, hahah.. 



Ini waktu pulang atau pergi ke sekolah bareng.

Eun Suh waktu kecil

Nah, ini ketika mereka sudah bertemu kembali 

Nice Picture


hohoh… akhirnya pede juga nge publish gambar-gambar yang dibuat sendiri dari chat Yahoo Messanger, ini beberapa gambar yang saya anggap cantik. Sorry banget deh kalau saya sebutin ini yang paling bagus, karena emank pada dasarnya saya ga pintar ngegambar, walaahhh….
Yah, kalo ini mah temanya “LIhat kebunku, penuh dengan bunga, ada yang merah dan semuanya merah”, hahaha… memang sih masih amatiran, tapi setidaknya masih bisa gambar lebah, bunga yang cantik, batu hitam yang tidak seberapa mana itu, dan ulat. Ngomong-nomong, ulatnya cakep juga yah, hahahah…
Nah ini dia, kalo ini udah agak naikan dikit lah untuk tingkatan bisa ngegambar, haha… ini tema nya “Pak Tani nge-check kebun yang tiba-tiba ditumbuhi tanaman aneh”. Bentuknya kayak mawar gitu, tapi batangnya kurus dan dan sangat tinggi, sehingga melampaui tinggi badan Pak Tani, hahah…
Kalau yang ini, awalnya kepedean banget bilang ini gambar abstrak.. serasa anak arsitek yang sering bikin gambar abstrak (ya ampun nak, mimpi apa dikau sampai pengen jadi arsitek, menggambar aja kagak becus, hahaha)
Gdubraaaakkk… dari segi mana nya coba abstraknya, haha.. Tapi benar juga ini disebut gambar abstrak. Abstrak itu nama lainnya GAK JELAS kan?? haha.. iya, mulai dari ga jelas gambarnya bentuk apa, maksud gambarnya juga ga jelas apa (padahal memang lagi ga jelas mikirin apa kok sampai ngegambar ini, hahah), terus pewarnaannya juga jadi kagak jelas gitu (ya walapun jujur, untuk campuran pewarnaannya itu lumayan juga kok 
hoho..memuji diri sendiri)
Ya paling tidak, karena sudah merasakan betapa susahnya menggambar apalagi untuk memikirkan ide untuk menggambar, saya benar-benar salut ke setiap orang yang pintar ngegambar. Mereka pintar dalam menemukan suatu ide yang akan dituangkan dan berhasil mengimajinasikannya dalam memori pikiran mereka. Analisis yang kuat dan detail menurutku. Mereka bisa ingat gimana lekuk pada kuping orang, atau perbedaan garis wajah pada setiap orang, ataupun gerakan yang berbeda dalam tiap pose. Sungguh menakjubkan… Yeah, setiap orang memang dilahirkan dengan bakat alami yang mengesankan. Tapi sepertinya pintar menggambar memang tidaK dilahirkan untuk menjadi bakat alami bagi saya, huhu… menyedihkan!!

Lihat ini.. Inikah potret Indonesiaku??


Saya adalah warga negara Indonesia, udah 19 tahun saya numpang di negara ini dan tetap berterimakasih kepada Allah karena saya masih hidup di negara yang aman-aman saja dan dengan rakyat yang selalu bertoleransi tinggi terhadap sesama. Tidak di negara yang lagi perang, di negara yang lagi dijajah, atau di negara yang sedang konflik, atau negara apapun namanya yang mungkin kondisinya saat itu bisa saja mengancam nyawa saya, adik-adik saya, keluarga saya, teman-teman atau lingkungan saya. Ya, saya tetap bersyukur untuk itu 
Tapi, semakin saya tinggal di Indonesia, semakin banyak hal yang membuat saya tercenung sendiri melihat tingkah polah dari kehidupan yang sepertinya memang sulit untuk bisa menyamaratakan diri menjadi negara maju. Sepertinya kata “negara berkembang” itu sudah saya dengar dari saya TK (Taman Kanak-Kanak) hingga kini saat saya akan menjadi sarjana. Oh tidak… yang membuat saya semakin terpuruk ketika ada salah seorang teman saya yang berkata seperti ini “bukankah kata negara berkembang merupakan kata-kata yang paling halus untuk mengganti ungkapan “negara miskin”??Saya terdiam dan berpikir, sepertinya ada benarnya juga, jika tidak, mengapa sampai sekarang negara saya tidak pernah mengganti “status” nya sedikit lebih tinggi.
Benar teman, saya semakin melihat apa yang terjadi di Indonesia, semakin jauh dari harapan pembangunan yang ideal. Mungkin potret-potret kehidupan di bawah ini yang dapat mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi di negara ini. Saya kira, potret-potret kehidupan ini menjadi saksi bisu yang paling jujur akan semua ketidakjelasan mimpi dan masa depan yang semakin suram.
Pertanyaan yang paling mendasar adalah “kapan semua ini akan berubah?”
“kapan kita akan terus melihat potret-potret ini?” “tidak ter-iris-kah hati kita melihat ini di sekitar kita?”
Negara ini memerlukan perubahan, negara ini membutuhkan orang yang mampu untuk merubah ini semua. Tuhan tidak akan pernah mau ngubah nasib suatu bangsa, kalau bangsa itu sendiri ga ada usaha untuk mengubah. Kita selaku generasi muda, ini tantangan untuk kita melakukan perubahan tersebut. Mungkin banyak saat ini ingin mengubah negara, tapi dia lupa untuk mengubah diri sendiri. Kita harus punya inovatif dan visioner melihat keadaan ini. Setidaknya kita lakukan apa yang mampu kita lakukan dimulai dari sendiri, dan lakukan ini sekarang. Jangan pernah takut akan hasil yang kita raih, karena Tuhan selalu menilai apapun yang telah kita kerjakan. Dan itu tidak akan luput dari penilaian-Nya. Berikan sumbangsih terbaikmu untuk negeri ini, Kawan. Negara kita merindukan sosok-sosok pengubah itu. Berikan sedikit, Kawan… walaupun itu kecil… 

Cinta Itu Tak Terlihat


Kenapa kita menutup mata ketika kita tidur ,ketika kita menangis ,ketika kita membayangkan ? Itu karena hal terindah di dunia ini TIDAK TERLIHAT…
Ketika kita menemukan seseorang yang keunikannya SEJALAN dengan kita, kita bergabung dengannya dan jatuh ke dalam suatu keanehan serupa yang dinamakan CINTA.
Ada hal-hal yang tidak ingin kita lepaskan. Orang-orang yang tidak ingin kita tinggalkan… Tapi ingatlah…melepaskan BUKAN akhir dari dunia, melainkan awal suatu kehidupan baru. Kebahagiaan ada untuk mereka yang menangis, mereka yang tersakiti, mereka yang telah mencari…dan mereka yang telah mencoba. Karena MEREKALAH yang bisa menghargai betapa pentingnya orang yang telah menyentuh kehidupan mereka…
CINTA yang AGUNG
Adalah ketika kamu menitikkan air mata dan MASIH peduli terhadapnya,
adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu MASIH menunggunya dengan setia,
adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan kamu MASIH bisa tersenyum sembari berkata ‘Aku turut berbahagia untukmu’.

Apabila cinta tidak berhasil…BEBASKAN dirimu… biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya dan terbang ke alam bebas LAGI.
Ingatlah…bahwa kamu mungkin menemukan cinta dan kehilangannya, tapi ketika cinta itu mati, kamu TIDAK perlu mati bersamanya…
Orang terkuat BUKAN mereka yang selalu menang, MELAINKAN mereka yang tetap tegar ketika mereka jatuh.
Entah bagaimana dalam perjalanan kehidupan, kamu belajar tentang dirimu sendiri dan menyadari bahwa penyesalan tidak seharusnya ada.
HANYALAH penghargaan abadi atas pilihan-pilihanan kehidupan yang telah kau buat.
MENCINTAI…
BUKANlah bagaimana kamu melupakan, melainkan bagaimana kamu MEMAAFKAN, BUKANlah bagaimana kamu mendengarkan, melainkan bagaimana kamu MENGERTI, BUKANlah apa yang kamu lihat, melainkan apa yang kamu RASAKAN,
BUKANlah bagaimana kamu melepaskan, melainkan bagaimana kamu BERTAHAN.
Lebih berbahaya mencucurkan air mata dalam hati, dibandingkan menangis tersedu-sedu.
Air mata yang keluar dapat dihapus, sementara air mata yang tersembunyi menggoreskan luka yang tidak akan pernah hilang.
Dalam urusan cinta, kita SANGAT JARANG menang..
Tapi ketika CINTA itu TULUS, meskipun kalah, kamu TETAP MENANG hanya karena kamu berbahagia dapat mencintai seseorang…LEBIH dari kamu mencintai dirimu sendiri.
Akan tiba saatnya dimana kamu harus berhenti mencintai seseorang BUKAN karena orang itu berhenti mencintai kita, MELAINKAN karena kita menyadari bahwa orang itu akan lebih berbahagia apabila kita melepaskannya.
Apabila kamu benar-benar mencintai seseorang, jangan lepaskan dia, jangan percaya bahwa melepaskan SELALU berarti kamu benar-benar mencintai.
MELAINKAN…BERJUANGLAH demi cintamu.
Itulah CINTA SEJATI.
Lebih baik menunggu orang yang kamu inginkan DARIPADA berjalan bersama orang ‘yang tersedia’. Kadang kala, orang yang kamu cintai adalah orang yang PALING menyakiti hatimu dan kadang kala, teman yang menangis bersamamu adalah cinta yang tidak kamu sadari.

Berpikir Cara Einstein


Einstein adalah genius terbesar abad ke-19. Dia bukan saja membawa pengetahuan manusia ke “dunia mikro” dalam atom-atom, melainkan juga ke “dunia makro” dalam galaksi. Dia meninggalkan banyak hal yang membuat alam semesta ini dapat dipahami.
Menurut Scott Thrope (2002: 25-27), cara berpikir Einstein yang genius itu dapat disusuri dalam 4 tahap :
1. Menemukan masalah yang tepat
Carilah masalah yang memiliki kemungkinan jawaban. Bahkan, kalau perlu ciptakanlah masalah itu.
2. Memecahkan polanya
Lampauilah aturan-aturan yang baku, yang membuat seseorang terikat jawabannya. Pecahkan pola yang selama ini dipakai. Jangan takut bila pemecahan pola tersebut bertentangan dengan ide umum.
3. Melanggar aturan
Pemecahan pola akan membuat pelanggaran aturan. Aturan baku yang selama ini dipegang harus berani dilanggar. Dalam berpikir, pola-pola baru harus lahir. Dan itu hanya dapat terjadi jika seseorang berani melanggar aturan. Dalam berpikir, pembangkangan ide umum itu bukanlah hal yang salah.
4. Tumbuhkanlah solusi
* Tumbuhkanlah ide-ide hebat
* Sabar dan tunda penilaian
* Abaikan fakta-fakta yang tak menyenangkan
* Tantanglah para ahli

Misteri Yang Mainkan Rasa


inta adalah ketika kamu membawa perasaan,
kesabaran dan romantis dalam suatu hubungan
dan menemukan bahwa kamu peduli dengan dia.
Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu.
Hanya untuk menemukan bahwa pada akhirnya menjadi
tidak berarti dan kamu harus membiarkannya pergi
Kadang Tuhan yang mengetahui yang terbaik,
akan memberi kesusahan untuk menguji kita.
Kadang Ia pun melukai hati, supaya hikmat-Nya dapat
tertanam lebih dalam.
Jika kita kehilangan cinta, maka pasti ada alasan di baliknya.
Alasan yang kadang sulit untuk dimengerti
namun kita tetap harus percaya bahwa ketika
Ia mengambil sesuatu,
Ia telah siap memberi yang lebih baik.
Mungkin Tuhan menginginkan kita untuk bertemu
dengan orang yang tidak tepat sebelum bertemu.
Jadi ketika kita akhirnya bertemu dengan orang yang tepat,
kita akan tahu betapa berharganya anugerah tersebut.
Mengapa Menunggu ?????
Karena walaupun kita ingin mengambil keputusan,
Kita tidak ingin tergesa-gesa.
Karena walaupun kita ingin cepat-cepat, kita tidak ingin sembrono.
Karena walaupun kita ingin segera menemukan orang yang kita cintai,
kita tidak ingin kehilangan jati diri kita dalam pencarian itu.
Jika ingin berlari, maka belajarlah berjalan dahulu
Jika ingin berenang, maka belajarlah mengapung dahulu
Jika ingin dicintai, maka belajarlah mencintai dahulu
Pada akhirnya….
Lebih baik menunggu orang yang kita inginkan,
ketimbang memilih apa yang ada.
Tetap lebih baik menunggu orang yang kita cintai,
ketimbang memuaskan diri dengan apa yang ada.
tetap lebih baik menunggu orang yang tepat,
karena hidup ini terlampau singkat untuk dilewatkan
bersama pilihan yang salah
karena menunggu mempunyai tujuan yang mulia dan misterius.
Perlu kau ketahui bahwa Bunga tidak mekar dalam waktu semalam,
Kota Roma tidak dibangun dalam sehari,
Kehidupan dirajut dalam rahim selama sembilan bulan,
Cinta yang agung terus bertumbuh selama kehidupan.
Kebanyakan hal yang indah dalam hidup memerlukan waktu yang lama,
Dan penantian kita tidaklah sia-sia.
Walaupun menunggu membutuhkan banyak hal (iman, keberanian dan pengharapan)
Tapi penantian menjanjikan satu hal yang tidak dapat seorang pun bayangkan.
Pada akhirnya……
Tuhan dengan segala hikmat-Nya meminta kita menunggu,
pasti…karena alasan yang penting.
semua indah pada masanya!!!!
semoga bermanfaat…terutama untuk diri kami pribadi

Belajar dari Ali dan Fatimah


hehehe.. ini hasil copasan lagi, tapi setidaknya ini lagi-lagi bisa mendatangkan banyak manfaat bagi teman-teman sekalian 
Kisah pertama ini diambil dari buku Jalan Cinta Para Pejuang, Salim A.Fillah
chapter aslinya berjudul “Mencintai sejantan ‘Ali”
Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.
Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!
‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.
”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.
Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.
Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.
Lihatlah berapa banyak budak Muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insya Allah lebih bisa membahagiakan Fathimah.
’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. ”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.
”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”
Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.
Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.
Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum Muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh- musuh Allah bertekuk lutut.
’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..”
Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah. Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi.
’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!” ’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha.
Cinta tak pernah meminta untuk menanti.Ia mengambil kesempatan.Itulah keberanian.Atau mempersilakan.Yang ini pengorbanan.
Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak.
Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarderkah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.
Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adzkah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?
”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.. ”
”Aku?”, tanyanya tak yakin.
”Ya. Engkau wahai saudaraku!”
”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”
”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”
’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.
”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan- pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya. Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.
Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.
”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”
”Entahlah..”
”Apa maksudmu?”
”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”
”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,
”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya !”
Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan ke kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.
Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti.
’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!” Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.
Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda ”
‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu?”
Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”
Kemudian Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus Fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut.”
Kemudian Rasulullah saw. mendoakan keduanya:
“Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak.” (kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183, bab4)

Ini mengenai kejujuran, Kawan!


Jujur, apakah kau yakin di dunia ini masih ada orang yang bisa jujur?
Aku yakin, di antaranya masih banyak orang yang bisa jujur.
Setidaknya jujur dengan hati kecilnya sendiri.
Yaitu aplikasi bentuk dari jujur terhadap dirinya sendiri.
Jarang aku bisa menemukan itu
Oleh sebab inilah, kenapa Tuhan tidak pernah memberikan kelebihan kepada manusia untuk bisa mengetahui isi orang lain.
Karena kalau semua orang bisa jujur di dunia ini, mungkin tidak akan ada lagi “hukum” di dunia ini.
Kan hukum dibuat bagi mereka yang melanggar? Bukankah mereka melanggar karena mereka tidak jujur?“, begitu sahut pelangi.
Seperti melukai diri sendiri dan mengobatinya sendiri.
Itu yang kurasakan setiap aku dengan mudahnya (mungkin) menangkap ketidakjujuran yang diselayangkan lewat wajah ataupun tingkah laku yang berusaha seambigu mungkin dengan hati.
Walau berpura-pura tidak tahu.
Tetapi hati tetap tidak bisa dibohongi.
Begitupun aku selalu menghargai jika seseorang, siapapun itu bisa jujur, apalagi dengan hatinya sendiri.
Akupun sebenarnya bukan makhluk yang suci, Kawan!
Aku cuma manusia biasa yang selalu berusaha untuk terus jujur.
Aku juga mungkin di masa lalu pernah tidak jujur.
Tapi sekali lagi, karena aku tahu bagaimana rasanya efek dari sesuatu ketidak jujuran itu.
Akhirnya aku memutuskan mulai belajar untuk terus jujur.
Hingga ini bisa menjadi kebiasaanku terus menerus.
Efek itu, Kawan!
Efek itu yang membuatku tak berani untuk tidak jujur.
Ketika sekali kau berbohong.
Kau akan kehilangan kepercayaan yang diberikan orang lain kepadamu.
Kepercayaan…
Sekali kau kehilangan itu, kau tidak akan pernah mendapatkannya lagi.
Sama saja jika keadaannya kau yang kehilangan kepercayaan dari seseorang, ataupun seseorang yang membuatmu kehilangan kepercayaan itu.
Tidak ada istilah “berkurangnya kepercayaan”.
Karena walaupun berkurang, itu berarti sama saja dengan kau tidak percaya lagi. Walaupun tidak sepenuhnya.
Karena bagiku sekali sudah tidak percaya, maka untuk dapat percaya lagi… itu sulit.
Tapi, kau harus bisa menghargai orang yang bisa mempercayai kejujuranmu.
Karena sekarang tak semudah itu, Kawan!
Terkadang dari mereka tidak bisa membedakan mana yang jujur atau tidak.
Terlalu tipis perbedaan di antara keduanya.
Hanya dengan mengikuti kata hati kau akan merasakan apakah itu sebuah kejujuran atau tidak.
Betapa sakit rasanya jika kau ternyata sudah jujur, tapi malah mereka mengatakan bahwa kau belum jujur.
Apakah jujur itu membutuhkan suatu aura, seperti rasa simpatik yang langsung bisa membuat orang percaya dengan kondisi yang mungkin itu hanya sebuah kamuflase sikap? Siapa yang bisa benar-benar tahu tentang hal itu? Kecuali Tuhan dan hatinya sendiri?
Untuk itu teman makanya kukatakan. kau harus mengapresiasi orang-orang yang menghargai kejujuranmu.
Jarang-jarang di dunia ini kau akan mendapatkan orang yang seperti itu.
Hidup itu penuh dengan keseimbangan bukan?
termasuk kejujuran, untuk memberi dan menerima 

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More