Friday, February 4, 2011

Ketekunan itu mahal

Di sebuah negeri hiduplah dua orang pengrajin yang tinggal bersebelahan. Mereka adalah pengrajin emas dan pengrajin kuningan. Keduanya telah lama menjalani pekerjaan itu, sebab itu adalah pekerjaan yang diwariskan secara turun-temurun. Telah banyak pula barang yang dihasilkan: cincin, kalung, gelang, dan untaian rantai penghias.

Setiap akhir bulan, mereka membawa hasil kerja itu ke kota. Hari pasar, demikian mereka menyebut hari itu. Mereka akan menjual barang-barang logam itu dan membeli keperluan selama sebulan. Beruntunglah pekan depan akan ada rombongan tamu agung mengunjungi kota dan bermaksud memborong barang-barang yang ada disana. Kabar ini tentu membuat mereka senang. Tentu, berita ini mendorong para pedagang agar membuat lebih banyak barang untuk dijajakan. Tak terkecuali dua orang pengrajin yang menjadi tokoh kita ini.

Siang-malam terdengar suara logam ditempa. Tungku-tungku api seakan tak pernah padam. Kayu bakar yang membara seakan mewakili semangat keduanya. Percik-percik api yang timbul tak pernah dihiraukan mereka. Keduanya sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Sudah puluhan cincin, kalung, dan untaian rantai penghias telah dihasilkan. Hari pasar makin dekat. Dan, lusa adalah waktu yang tepat untuk berangkat ke kota.

Hari pasar telah tiba dan keduanya pun sampai di kota. Hamparan terpal telah digelar, tanda barang dagangan siap dijajakan. Keduanya pun berjejer berdampingan. Tampaklah barang-barang logam yang telah dihasilkan. Namun, ah sayang.., ada kontras diantara keduanya. Walaupun terbuat dari logam mulia, barang-barang yang dibuat oleh pengrajin emas tampak kusam. Warnanya tidak berkilau. Ulir-ulirnya kasar. Pokok-pokok simpul rantai tidak rapi. Seakan pembuatnya adalah orang yang tergesa-gesa.

”Ah, biar saja,” demikian ucapan yang terlontar saat pengrajin kuningan menanyakan kenapa perhiasan kawannya tampak kusam. ”Setiap orang akan memilih daganganku, sebab emas selalu lebih baik dari kuningan,” ujar pengrajin emas lagi. ”Apalah artinya logam buatanmu dibanding logam mulia yang kupunya. Aku akan membawa uang lebih banyak darimu”

Pengrajin kuningan hanya tersenyum. Ketekunannya mengasah logam membuat semua hasil karyanya lebih bersinar. Ulir-ulirnya halus. Lekuk-lekuk cincin dan gelang buatannya terlihat seperti lingkaran yang tak putus. Liku-liku rantai penghiasnya pun lebih sedap dipandang mata.

Ketekunan memang mahal. Hampir semua orang yang lewat tak menaruh perhatian pada pengrajin emas. Mereka lebih suka mendatangi cincin dan kalung kuningan. Begitupun tetamu agung yang berkenan datang. Mereka pun lebih menyukai benda-benda kuningan itu dibandingkan dengan logam mulia. Sebab, emas itu tidaklah cukup membuat mereka tertarik dan mau membelinya. Sekali lagi, terpampang kekontrasan di hari pasar itu. Perajin emas tertegun diam dan perajin kuningan tersenyum senang.

Hari pasar usai. Para tetamu telah kembali pulang. Kedua pengrajin itu pun telah membereskan barang dagangan. Dan, keduanya mendapat pelajaran dari apa yang telah mereka lakukan hari itu.

Teman, ketekunan memang mahal. Tak banyak orang yang bisa menjalaninya. Begitupun kemuliaan dan harga diri. Tak banyak orang yang menyadari bahwa kedua hal itu tak berasal dari apa yang kita sandang hari ini. Setidaknya tindak-laku kedua pengrajin di atas adalah potongan siluet kehidupan kita.

Ketekunan adalah titian jalan panjang yang licin berliku. Seringkali jalan panjang itu membuat kita tergelincir dan jatuh. Sering pula titian itu menjadi saringan penentu bagi setiap orang yang hendak menuju kepada kebahagiaan di ujung simpulnya. Namun percayalah, ada balasan bagi ketekunan. Di ujung sana ada sesuatu yang menunggu setiap orang yang mau menekuni jalan itu.

Emas dan kuningan tentu punya nilai yang berbeda. Tapi, apakah kemuliaan dinilai hanya apa yang disandang keduanya? Apakah harga diri hanya ditunjukkan dari simbol-simbol yang tampak dari luar? Sebab, kita sama-sama belajar dari pengrajin kuningan bahwa kemuliaan adalah buah dari ketekunan. Dan, bahwa kemalasan akan membuahkan kelemahan jiwa.

Membentuk ketekunan mungkin hampir sama sulitnya dengan menempa logam, bahkan lebih sulit. Tanyakan saja kepada mereka yang berusaha untuk tekun qiyamullail, betapa sulit dan keras usahanya. Atau tanyakan kepada mereka bagaimana beratnya membiasakan diri shoum sunnah. Atau coba tanyakan kepada mereka yang sudah menekuni tilawah Qur’an 10 halaman hingga satu juz setiap harinya. Tanyakan kepada mereka yang punya hafalan 5 juz. Atau coba tanyakan pula kepada saudara kita yang sudah berusaha menekuni diri selalu hadir di majelis halaqoh dan majelis taklim. Apalagi mereka yang menekuni peran sebagai guru, murabbi atau ustadz. Hanya orang bermental baja yang bersedia menekuni pekerjaan itu.

Sekali lagi, ketekunan itu mahal. Dan, ketekunan itulah yang bisa merubah nilai atau harga diri seseorang, walaupun pada mulanya ia hanyalah berasal dari keluarga "kuningan" bukan keluarga "emas". Karakter diri yang kuat, kedewasaan, daya juang yang tinggi dan kematangan bertindak hanya mungkin diraih oleh orang-orang yang punya ketekunan dan mau berproses untuk bisa menjadi tekun. Tingkat ketekunan adalah ukuran yang bisa dipercaya untuk menilai seseorang.

Bisa jadi saat ini kita pandai, kaya, punya kedudukan yang tinggi, dan hidup sempurna layaknya emas mulia. Namun, adakah semua itu berharga bila ulir-ulir hati kita kasar dan kusam? Adakah itu mulia, jika lekuk-lekuk kalbu kita koyak dan penuh dengan tonjolan-tonjolan kedengkian? Adakah itu semua punya harga jika pokok-pokok simpul jiwa yang kita punya tak dipenuhi dengan simpul-simpul ikhlas dan perangai nan luhur?

Teman, mari kita asah kalbu dan hati kita agar bersinar mulia. Mari kita bentuk ulir dan leku-lekuk jiwa kita dengan ketekunan agar menampilkan cahaya-Nya. Susunlah simpul-simpul itu dengan jalinan keluhuran budi dan perilaku. Tempalah dengan kesungguhan diri agar hati kita tidak keras dan menjadi lembut, luwes, serta mampu memenuhi hati orang lain. Percayalah, ada imbalan untuk semua itu. Amin.

Surat Cinta Tuk Jiwa


Surat ini kutujukan untuk diriku

sendiri serta sahabat-sahabat

tercintaku yang insyaAllah tetap

mencintai Allah dan RasulNya di atas

segalanya, kerana hanya

cinta itu yang dapat mengalahkan

segalanya, cinta hakiki yang membuat

manusia melihat segalanya dari sudut

pandangan yang berbeda, lebih bermakna

dan indah.

Surat ini kutujukan untuk hatiku dan

hati sahabat-sahabat tercintaku yang

kerap kali terisi oleh cinta selain

dariNya, yang mudah sekali terlena

oleh indahnya dunia, yang terkadang

melakukan segalanya bukan keranaNya,

lalu di ruang hatinya

yang kelam merasa senang jika dilihat

dan dipuji orang, entah di mana

keikhlasannya. Maka saat merasakan

kekecewaan dan kelelahan kerana

perkara yang dilakukan tidak

sepenuhnya berlandaskan keikhlasan,

padahal Allah tidak pernah menanyakan

hasil. Dia akan melihat kesungguhan

dalam berproses.

Surat ini kutujukan pula untuk jiwaku

serta jiwa sahabat-sahabat tercintaku

yang mulai lelah menapaki jalanNya

ketika seringkali mengeluh, merasa

dibebani bahkan terpaksa untuk

menjalankan tugas yang sangat mulia.

Padahal tiada kesakitan, kelelahan

serta kepayahan yang dirasakan oleh

seorang hamba melainkan Allah akan

mengampuni dosa-dosanya.

Surat ini kutujukan untuk ruh-ku dan

ruh sahabat-sahabat tercintaku yang

mulai terkikis oleh dunia yang menipu,

serta membiarkan fitrahnya tertutup

oleh maksiat yang dinikmati, lalu di

manakah kejujuran diletakkan? Dan kini

terabailah sudah nurani yang bersih,

saat ibadah hanyalah sebagai rutin

belaka, saat jasmani dan fikiran

disibukkan oleh dunia, saat wajah

menampakkan kebahagiaan yang penuh

kepalsuan. Coba lihat disana! Hatimu

menangis dan meranakah?

Surat ini kutujukan untuk diriku dan

diri sahabat-sahabat tercintaku yang

sombong, yang terkadang bangga pada

dirinya sendiri. Sungguh tiada satupun

yang membuat kita lebih di hadapanNya

selain ketakwaan. Padahal kita

menyedari bahawa tiap-tiap jiwa akan

merasakan mati, namun kita masih

bergulat terus dengan kefanaan.

Surat ini kutujukan untuk hatiku dan

hati sahabat-sahabat tercintaku yang

mulai mati, saat tiada getar ketika

asma Allah disebut, saat tiada sesal

ketika kebaikan berlalu begitu sahaja,

saat tiada rasa takut padaNya ketika

maksiat dilakukan, dan tiada merasa

berdosa ketika menzalimi diri sendiri

dan orang lain.

Akhirnya surat ini kutujukan untuk

jiwa yang masih memiliki cahaya

meskipun sedikit, jangan biarkan

cahaya itu padam. Maka terus kumpulkan

cahaya itu hingga ia dapat menerangi

wajah-wajah di sekeliling, memberikan

keindahan Islam yang sesungguhnya

hanya dengan kekuatan dariNya "

Ya..Allah yang maha membolak-balikkan

hati, tetapkan hati ini pada agamaMU,

pada taat kepadaMu dan dakwah di

jalanMu "

Wallahualam bisshawab

Semoga dapat membangkitkan iman yang

sedang mati atau jalan di tempat,

berdiam diri tanpa ada sesuatu

amalanpun yang dapat dikerjakan.

Kembalikan semangat itu sahabat-

sahabat tercintaku.. ... Ada Allah dan

orang-orang beriman yang selalu

menemani di kala hati "lelah".

Kisah Istri Teladan

Kisah Istri Teladan


(diceritakan oleh seorang akhwat)

Sore itu, menunggu kedatangan teman yang akan menjemputku di masjid ini seusai ashar.. seorang akhwat datang, tersenyum dan duduk disampingku, mengucapkan salam, sambil berkenalan dan sampai pula pada pertanyaan itu. “anty sudah menikah?”. “Belum mbak”, jawabku. Kemudian akhwat itu .bertanya lagi “kenapa?” hanya bisa ku jawab dengan senyuman.. ingin ku jawab karena masih kuliah, tapi rasanya itu bukan alasan.

“mbak menunggu siapa?” aku mencoba bertanya. “nunggu suami” jawabnya. Aku melihat kesamping kirinya, sebuah tas laptop dan sebuah tas besar lagi yang tak bisa kutebak apa isinya. Dalam hati bertanya- tanya, dari mana mbak ini? Sepertinya wanita karir. Akhirnya kuberanikan juga untuk bertanya “mbak kerja dimana?”, ntahlah keyakinan apa yg meyakiniku bahwa mbak ini seorang pekerja, padahal setahuku, akhwat2 seperti ini kebanyakan hanya mengabdi sebagai ibu rumah tangga.

“Alhamdulillah 2 jam yang lalu saya resmi tidak bekerja lagi” , jawabnya dengan wajah yang aneh menurutku, wajah yang bersinar dengan ketulusan hati.

“kenapa?” tanyaku lagi.

Dia hanya tersenyum dan menjawab “karena inilah cara satu cara yang bisa membuat saya lebih hormat pada suami” jawabnya tegas.

Aku berfikir sejenak, apa hubungannya? Heran. Lagi-lagi dia hanya tersenyum.

Ukhty, boleh saya cerita sedikit? Dan saya berharap ini bisa menjadi pelajaran berharga buat kita para wanita yang Insya Allah akan didatangi oleh ikhwan yang sangat mencintai akhirat.

“saya bekerja di kantor, mungkin tak perlu saya sebutkan nama kantornya. Gaji saya 7juta/bulan. Suami saya bekerja sebagai penjual roti bakar di pagi hari, es cendol di siang hari. Kami menikah baru 3 bulan, dan kemarinlah untuk pertama kalinya saya menangis karena merasa durhaka padanya. Waktu itu jam 7 malam, suami baru menjemput saya dari kantor, hari ini lembur, biasanya sore jam 3 sudah pulang. Saya capek sekali ukhty. Saat itu juga suami masuk angin dan kepalanya pusing. Dan parahnya saya juga lagi pusing. Suami minta diambilkan air minum, tapi saya malah berkata, “abi, umi pusing nih, ambil sendirilah”.

Pusing membuat saya tertidur hingga lupa sholat isya. Jam 23.30 saya terbangun dan cepat-cepat sholat, Alhamdulillah pusing pun telah hilang. Beranjak dari sajadah, saya melihat suami saya tidur dengan pulasnya. Menuju ke dapur, saya liat semua piring sudah bersih tercuci. Siapa lagi yang bukan mencucinya kalo bukan suami saya? Terlihat lagi semua baju kotor telah di cuci. Astagfirullah, kenapa abi mengerjakan semua ini? Bukankah abi juga pusing tadi malam? Saya segera masuk lagi ke kamar, berharap abi sadar dan mau menjelaskannya, tapi rasanya abi terlalu lelah, hingga tak sadar juga. Rasa iba mulai memenuhi jiwa saya, saya pegang wajah suami saya itu, ya Allah panas sekali pipinya, keningnya, Masya Allah, abi deman, tinggi sekali panasnya. Saya teringat atas perkataan terakhir saya pada suami tadi. Hanya disuruh mengambilkan air minum saja, saya membantahnya. Air mata ini menetes, betapa selama ini saya terlalu sibuk diluar rumah, tidak memperhatikan hak suami saya.”

Subhanallah, aku melihat mbak ini cerita dengan semangatnya, membuat hati ini merinding. Dan kulihat juga ada tetesan air mata yg di usapnya.

“anty tau berapa gaji suami saya? Sangat berbeda jauh dengan gaji saya. Sekitar 600-700rb/bulan. 10x lipat dari gaji saya. Dan malam itu saya benar-benar merasa durhaka pada suami saya. Dengan gaji yang saya miliki, saya merasa tak perlu meminta nafkah pada suami, meskipun suami selalu memberikan hasil jualannya itu pada saya, dan setiap kali memberikan hasil jualannya , ia selalu berkata “umi,,ini ada titipan rezeki dari Allah. Di ambil ya. Buat keperluan kita. Dan tidak banyak jumlahnya, mudah2an umi ridho”, begitu katanya.

Kenapa baru sekarang saya merasakan dalamnya kata-kata itu. Betapa harta ini membuat saya sombong pada nafkah yang diberikan suami saya”, lanjutnya

“Alhamdulillah saya sekarang memutuskan untuk berhenti bekerja, mudah-mudahan dengan jalan ini, saya lebih bisa menghargai nafkah yang diberikan suami. Wanita itu begitu susah menjaga harta, dan karena harta juga wanita sering lupa kodratnya, dan gampang menyepelekan suami.” Lanjutnya lagi, tak memberikan kesempatan bagiku untuk berbicara.

“beberapa hari yang lalu, saya berkunjung ke rumah orang tua, dan menceritakan niat saya ini. Saya sedih, karena orang tua dan saudara-saudara saya tidak ada yang mendukung niat saya untuk berhenti berkerja. Malah mereka membanding-bandingkan pekerjaan suami saya dengan orang lain.”

Aku masih terdiam, bisu, mendengar keluh kesahnya. Subhanallah, apa aku bisa seperti dia? Menerima sosok pangeran apa adanya, bahkan rela meninggalkan pekerjaan.

“kak, kita itu harus memikirkan masa depan. Kita kerja juga untuk anak-anak kita kak. Biaya hidup sekarang ini besar. Begitu banyak orang yang butuh pekerjaan. Nah kakak malah pengen berhenti kerja. Suami kakak pun penghasilannya kurang. Mending kalo suami kakak pengusaha kaya, bolehlah kita santai-santai aja di rumah. Salah kakak juga sih, kalo ma jadi ibu rumah tangga, seharusnya nikah sama yang kaya. Sama dokter muda itu yang berniat melamar kakak duluan sebelum sama yang ini. Tapi kakak lebih milih nikah sama orang yang belum jelas pekerjaannya. Dari 4 orang anak bapak, Cuma suami kakak yang tidak punya penghasilan tetap dan yang paling buat kami kesal, sepertinya suami kakak itu lebih suka hidup seperti ini, ditawarin kerja di bank oleh saudara sendiri yang ingin membantupun tak mau, sampai heran aku, apa maunya suami kakak itu”. Ceritanya kembali, menceritakan ucapan adik perempuannya saat dimintai pendapat.

“anty tau, saya hanya bisa nangis saat itu. Saya menangis bukan Karena apa yang dikatakan adik saya itu benar, bukan karena itu. Tapi saya menangis karena imam saya dipandang rendah olehnya. Bagaimana mungkin dia meremehkan setiap tetes keringat suami saya, padahal dengan tetesan keringat itu, Allah memandangnya mulia. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang senantiasa membangunkan saya untuk sujud dimalam hari. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang dengan kata-kata lembutnya selalu menenangkan hati saya. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang berani datang pada orang tua saya untuk melamar saya, padahal saat itu orang tersebut belum mempunyai pekerjaan. Baigaimana mungkin seseorang yang begitu saya muliakan, ternyata begitu rendah dihadapannya hanya karena sebuah pekerjaan.

Saya memutuskan berhenti bekerja, karena tak ingin melihat orang membanding-bandingkan gaji saya dengan gaji suami saya. Saya memutuskan berhenti bekerja juga untuk menghargai nafkah yang diberikan suami saya. Saya juga memutuskan berhenti bekerja untuk memenuhi hak-hak suami saya. Semoga saya tak lagi membantah perintah suami. Semoga saya juga ridho atas besarnya nafkah itu. Saya bangga ukhti dengan pekerjaan suami saya, sangat bangga, bahkan begitu menghormati pekerjaannya, karena tak semua orang punya keberanian dengan pekerjaan itu. Kebanyakan orang lebih memilih jadi pengangguran dari pada melakukan pekerjaan yang seperti itu. Tapi lihatlah suami saya, tak ada rasa malu baginya untuk menafkahi istri dengan nafkah yang halal. Itulah yang membuat saya begitu bangga pada suami saya.

Semoga jika anty mendapatkan suami seperti saya, anty tak perlu malu untuk menceritakannya pekerjaan suami anty pada orang lain. Bukan masalah pekerjaannya ukhty, tapi masalah halalnya, berkahnya, dan kita memohon pada Allah, semoga Allah menjauhkan suami kita dari rizki yang haram”. Ucapnya terakhir, sambil tersenyum manis padaku.

Mengambil tas laptopnya,, bergegas ingin meninggalkannku. Kulihat dari kejauhan seorang ikhwan dengan menggunakan sepeda motor butut mendekat ke arah kami, wajahnya ditutupi kaca helm, meskipun tak ada niatku menatap mukanya. Sambil mengucapkan salam, meninggalkannku. Wajah itu tenang sekali, wajah seorang istri yang begitu ridho.

Ya Allah….

Sekarang giliran aku yang menangis. Hari ini aku dapat pelajaran paling baik dalam hidupku.

Pelajaran yang membuatu menghapus sosok pangeran kaya yang ada dalam benakku..

Subhanallah..

Rindu Ku Pada Rasulullah S.A.W



adakah kau lupa


Wahai Pemuda Islam Bangunlah Marilah Kita Mengembalikan Kegemilangan Islam. .

Allahhuakbar. . . .!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!


BY : Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia

For How Much Longer? Part 1, Hizbut Tahrir Malaysia


Sebuah filem dokumen.,

Allahhuakbar...................!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

BY: Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia

Perjuangan Rasulullah menegakkan Daulah(1)


SEBUAH EPISODE PERJUAGAN ROSULULLAH....

  • ALLAHHUAKBAR............!!!!


Pengenalan Hizbut Tahrir


DOCOMENTARY ON HIZBUT TAHRIR

    • BY : MUSLIMAH HIZBUT TAHRIR INDONESIA


Selamatkan dunia dengan Syariah


DOCOMENTARY ON HIZBUT TAHRIR

HANYA ada satu kata KHILAFAH.,

ALLAHHUAKBAR.....!!!!!!!!!!!!!!!!!

Mengembalikan Khilafah Islamiyah


JIHAD TIDAK Selamanya harus dengan peperangan..
namun bila saatnya harus berjihad dengan berperang pastikan ALLAH adalah SATU'NYA
ALASAN .,, BUKAN BERPERANG KARENA NAFSU ALLAHUAKBAR. . .

laa tahof walaa tahzan..innalloha ma 'anaa

TAKBIR..........!!!!!
ALLAHHUAKBAR.....................!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Selamatkan Indonesia dengan Syariah


Sebuah filem dokumenter Selamatkan indonesia dengan Syariah.,

BY: MUSLIMAH HIZBUT TAHRIR INDONESIA.

KONFERENSI KHILAFAH INTERNASIONAL



inilah Saatnya

kita mengumpulkan kekuatan di seluruh dunia

Dan membangun kesadaran dan pola pikir masyarakat dan Di seluruh pelosok negeri ini

Hanya Khilafah . . .

sistem yang layak memimpin dunia . . .

takbir!!!!!

ALLAHU AKBAR............!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

VIDEO AKSI MUSLIMAH HIZBUT TAHRIR INDONESIA

Med MILAd HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM UNIVERSITY

HMI (HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM )


Selamat Milad HMI ke 64

BEST......jayalah HMI.. ^^

SEMOGA USAHA SAMPAI ^^ AMIN ALLAHHUMMA AMIIIN

BERJUANG TERUS UNTUK KEMAJUAN UMAT DAN BANGSA^^ AMIN ALLAHHUMMA AMIIIN

ALLAHHUAKBAR...... ALLAHHUAKBAR...... ALLAHHUAKBAR......

TUJUAN BERDIRINYA HMI

a. Membina pribadi mahasiswa muslim untuk mencapai akhlaqul karimah
b. Mengembangkan potensi kreatif, keilmuan, sosial dan budaya
c. Mempelopori pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kemaslahatan masa depan ummat manusia
d. Memajukan kehidupan ummat dalam mengamalkan dinnul Islam dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
e. Berperan aktif dalam dunia kemahasiswaan, perguruan tinggi, dan kepemudaan untuk menopang pembangunan nasional
f. Usaha-usaha lain yang sesuai dengan identitas dan asas organisasi serta berguna untuk mencapai tujuan.


Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) adalah sebuah organisasi yang didirikan di Yogyakarta pada tanggal 5 Februari 1947, atas prakarsa Lafran Pane beserta 14 orang mahasiswa universityi Islamic Yogyakarta.

HMI merupakan organisasi independen yang mempunyai tujuan: Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang di ridhoi Allah SWT.

HMI DIPO
Untuk menyelamatkan HMI dari kehancuran, maka melalui Kongres Padang disepakatilah asas tunggal Pancasila. HMI yang bermarkas di Jalan Diponegoro sebagai satu-satunya HMI yang diakui oleh negara. Maka HMI kemudian kerap disebut dengan HMI DIPO untuk membedakan dengan HMI-MPO. HMI telah membuktikan eksistensinya sebagai organisasi gerakan yang mempunyai landasan yang disebut Nilai-nilai Dasar Perjuangan HMI (NDP). Pada Kongres Jambi 1999 HMI kembali ke Khittah kembali kepada asas Islam. merupakan salah satu organisasi mahasiswa terbesar di indonesia

Kongres >...

KONGRES KE-13 DI MAKASSAR (UJUNGPANDANG) PADA TANGGAL12 FEBRUAR 1979.
Kongres ke-3 di Jakarta pada tanggal 4 September 1953
Kongres ke-4 di Bandung pada tanggal 14 Oktober 1955
Kongres ke-5 di Medan pada tanggal 31 Desember 1957
Kongres ke-6 di Makassar (Ujungpandang) pada tanggal 20 Juli 1960
Kongres ke-7 di Jakarta pada tanggal 14 September 1963
Kongres ke-8 di Solo (Surakarta) pada tanggal 17 September 1966
Kongres ke-9 di Malang pada tanggal 10 Mei 1969
Kongres ke-10 di Palembang pada tanggal 10 Oktober 1971
Kongres ke-11 di Bogor pada tanggal 12 Mei 1974
Kongres ke-12 di Semarang pada tanggal 16 Oktober 1976
Kongres ke-13 di Makassar (Ujungpandang) pada tanggal 12 Februari 1979
Kongres ke-14 di Bandung pada tanggal 30 April 1981
Kongres ke-15 di Medan pada tanggal 26 Mei 1983
Kongres ke-16 di Padang pada tahun 1986
Kongres ke-24 di Jakarta, dengan formatur terpilih Hasanuddin
Kongres ke 26 di Palembang, dengan formatur terpilih Arip Musthopa
Kongres ke 27 di Depok pada tanggal 5 - 10 November 2008, dengan formatur terpilih Noerfajrieansyah.
Kongres selanjutnya terserah ketua umum PB aja....



Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More